Minggu, 22 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Hukum & Kriminal

Solo dan Semarang Zona Merah Narkoba

Kamis, 28 Dec 2017 17:30 | editor : Pratono

MENINGKAT: Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo (kiri) dan Kabid Berantas BNNP Jateng, AKBP Suprinarto saat pers rilis akhir tahun, Rabu (27/12/2017).

MENINGKAT: Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo (kiri) dan Kabid Berantas BNNP Jateng, AKBP Suprinarto saat pers rilis akhir tahun, Rabu (27/12/2017). (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID- Sepanjang 2017, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng mengungkap sebanyak 18 kasus narkoba dengan jumlah tersangka 40 orang. Selain itu, Kota Solo dan Kota Semarang dinilai sebagai wilayah yang rawan peredaran narkoba atau zona merah.

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo, menjelaskan, dari 40 tersangka itu, sebanyak 32 berkas perkara sudah lengkap alias P21. Selain itu, sebanyak 15 berkas perkara melibatkan narapidana yang berada dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Salah satunya lapas Medaeng Surabaya. "Karena melibatkan napi, maka kami juga berkoordinasi dengan Kemenkum dan HAM terkait penanganannya," katanya saat pers rilis akhir tahun, Rabu (27/12/2017).

Kabid Berantas BNNP Jateng, AKBP Suprinarto menjelaskan napi yang terlibat narkoba, yakni di Lapas Narkotika Nusakambangan 4 tersangka, Sragen 2 tersangka, Kedungpane Semarang 2 tersangka, Ambarawa 1 tersangka, Pati 1 tersangka, Pekalongan 1 tersangka,  dan Surabaya 1 tersangka. "Di Lapas Kedungpane Semarang, ada seorang narapidana yang sudah tiga kali ditangkap BNNP Jateng karena mengendalikan jaringan narkoba. Tersangka tersebut adalah Sutrisno alias Babe alias Kokoh," bebernya.

Dari semua pengungkapan kasus narkoba pada 2017, disita barang bukti 3,54 kg sabu, 10 kg ganja, 588 butir ekstasi, 5 mililiter cairan Madman, 20 gram tembakau gorila, 1 bungkus bahan narkotika, 41 handphone, 7 unit motor, dan 2 unit mobil. "Ada juga barang bukti yang disita dari tindak pidana pencucian uang hasil transaksi narkoba, yakni  2 rumah, 2 bidang tanah, 1 motor, dan uang Rp 200 juta," terangnya.

Diakuinya, jumlah narapidana yang dibekuk karena mengendalikan narkoba tahun ini meningkat dibanding 2016 lalu. Pihaknya juga sudah sering berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah untuk melakukan langkah antisipasi alat komunikasi di dalam lapas. "Tahun kemarin 4 kasus dikendalikan oleh narapidana (di lapas), dan tahun ini meningkat, terbanyak di Lapas Nusakambangan," bebernya.

Sedangkan daerah yang rawan peredaran narkoba, Suprinarto menyebut Kota Solo yang menjadi zona merah peredaran narkotika terutama sabu. Begitu pula Kota Semarang, Suprinarto juga akan terus melakukan pemberantasan peredaran barang haram tersebut. "Memang yang kami petakan saat ini dan mungkin juga bisa terjadi ke depannya itu di Solo, baru kemudian Semarang," ujarnya.

Suprinarto menambahkan, beberapa wilayah lain yang juga rawan peredaran narkoba, yakni Cilacap, Tegal, Banyumas, dan Purbalingga. Sementara jenis narkotika yang paling banyak tersebar di wilayah-wilayah tersebut adalah sabu. "Paling banyak sabu. Tahun ini untuk ganja paling banyak 10 kg, itu terjadi November lalu di Solo, kemudian tembakau gorila. Tapi memang yang mendominasi sabu," katanya.

(sm/mha/ton/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia