Minggu, 22 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Features
Kisah Lusiana Oktavia Korban TKI Ilegal

Dipenjara Dua Bulan, Gaji dan Asuransi Diterima Utuh 

Selasa, 26 Dec 2017 13:07 | editor : Baskoro Septiadi

TRAUMA : Lusiana Oktavia yang didampingi ibunya Sriayanah mengaku masih trauma sehingga masih memilih di rumah saja.   

TRAUMA : Lusiana Oktavia yang didampingi ibunya Sriayanah mengaku masih trauma sehingga masih memilih di rumah saja.   (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID - Kasus pemulangan 149 tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kendal yang diberangkatkan oleh PT Sofia Sukses Sejati membawa cerita duka dan suka sekaligus. Inilah pengalaman salah satu korbannya.

Lusiana Oktavia, 21, tak pernah membayangkan betapa beratnya menjalani kerja sebagai TKI di Malaysia. Warga Desa Lanji RT 06/01 ini mengaku pernah ditahan dan dipenjara di Bukit Jalil selama dua bulan lamanya.

Alumni SMK 1 Kendal ini mengaku jika keberangkatannya ke Malaisya bermula ketika ia mendaftar TKI ke PT Sofia pertengahan 2015 silam. "Saya mendaftar untuk bekerja di sebuah perusahaan elektronik. Tapi dijelaskan oleh PT Sofia, jika perusahaan elektronik yang bekerja sama dengan PT Sofia masih lama menunggunya," katanya.

Ia juga diberikan penjelasan jika lowongan yang ada saat ini baru perusahaan peternakan sarang burung walet. Akhirnya ia menyanggupinya lantaran sangat ingin segera bekerja. Sesuai kontrak, ia akan ditempatkan di perusahaan bernama Grand Asia.

Tapi setelah sampai di Malaysia, justru ditempatkan pada perusahaan yang berbeda. Ia dipekerjakan di sebuah perusahaan Maxim Bird Nist. "Tapi sama-sama perusahaan sarang burung walet juga," tuturnya.

Karena tak ada pilihan lain, ia pun menjalani pekerjaan di perusahaan tersebut. Selama lebih kurang 1,5 tahun ia bekerja tanpa masalah. "Tiba-tiba ada pemeriksaan dari polisi Malaysia. Kami berjumlah 149 dibawa ke kantor imigrasi," jelasnya.

Usai diperiksa, ia dan 149 rekannya di perusahaan yang sama diangkut menggunakan bus dan dibawa ke penjara Bukit Jalil. "Disana kami ditahan karena dianggap ilegal. Padahal kami berangkat melalui jalur resmi. Tapi kata mereka, penempatannya tidak sesuai, sehingga dianggap ilegal," tuturnya.

Ia pun menjalani hari-hari dengan tangis lantaran makanan yang seadanya dan ruang privasi terbatas. "Bos pemilik perusahaan juga ditahan, karena dianggap mempekerjakan tenaga ilegal," katanya dengan tetesan air mata.

Ia mengakui hidup di penjara sebagai tahanan sangatlah berat. Selain itu, ia tak pernah membayangkan sebelumnya akan dipenjara. "Kami ini tidak tahu apa-apa, kami semua hanya korban," keluhnya.

Akhirnya setelah dua bulan yakni Maret dan April ia bebas. Pada Mei ia bersama 149 temannya dipulangkan ke Indonesia. "Kalau kerjanya ya sesuai, gaji juga tidak pernah ada masalah. Semua diberikan," tuturnya.

Sementara ibu korban, Sriayanah mengaku sempat bingung karena anaknya dipenjara. Bahkan ia khawatir, lantaran selama dua bulan sama sekali tidak ada kabar. "Begitu pulang ia terlihat sangat kurus, saya nangis dan kasian karena kondisinya sangat memprihatinkan," akunya.

Karena masih trauma, Lusiana sejak dipulangkan dari penjara Malaysia masih memilih di rumah saja. Belum tertarik bekerja di lembaga perusahaan apapun. “Saya masih trauma, belum mau bekerja. Maunya berumah tangga dulu,” kata Lusiana yang sudah menerima pinangan dari pujaan hatinya.

Sementara Windy selaku direktur PT Sofia saat ini masih ditahan oleh Bareskrim di Jakarta. Kakak kandung Windy, Nanang Fardiansyah mengatakan perusahaan yang dipimpin oleh adiknya merupakan perusahaan keluarga dan mempunyai izin resmi. 

“Masalah ini sebenarnya sudah selesai dan semua TKI juga sudah kembali ke rumah masing-masing. Bahkan, mendapatkan asuransi. Selain itu, gaji juga sudah diterima secara penuh, selama mereka bekerja," ujar Nanang.

Bukti selesainya kasus Nanang menunjukkan surat dari Deputi Bidang Perlindungan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Di mana PT Sofia mendapatkan penghargaan atas upaya dan kerjasama dalam menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh 149 TKI.

Bukti lain adalah dengan pencabutan Sanksi Administrasi Penghentian Sementara Seluruh Kegiatan Usaha Penempatan TKI atau skorsing PT Sofia oleh Kementrian Ketenagakerjaan RI melalui surat Nomor 967/PPTKPKK/VII/2017 telah dicabut. Kini, PT Sofia sudah bisa beroperasi kembali.

(sm/bud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia