Minggu, 22 Jul 2018
radarsemarang
icon featured
Ekonomi

Perdagangan Berjangka Multilateral Belum Banyak Diminati Investor

Senin, 11 Dec 2017 18:19 | editor : Ida Nor Layla

Kepala Biro Pengawasan Pasar Berjangka dan Fisik, Bappebti, Kemendag RI, Pantas Lumbun Batu SE MM, memberikan sosialisasi kepada para wakil pialang be

SOSIALISASI : Kepala Biro Pengawasan Pasar Berjangka dan Fisik, Bappebti, Kemendag RI, Pantas Lumbun Batu SE MM, memberikan sosialisasi kepada para wakil pialang berjangka di kantor PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID-SEMARANG. Para investor belum banyak yang tertarik melakukan investasi melalui perdagangan berjangka dengan sistem perdagangan multilateral, ketimbang bilateral. Terbukti, transaksi multilateral sejak Januari-Nopember 2017 hanya 18.89 persen, sedangkan transaksi bilateral mendominasi hingga 81,11 persen.

Sistem perdagangan multilateral artinya, transaksi dilakukan dengan sistem bursa (on exchange) yang terdapat banyak pembeli dan penjual seperti di bursa saham. Sedangkan bilateral, transaksi dilakukan di luar bursa dan nasabah berhadapan langsung dengan pedagang/dealer (lawan tetap). 

Hal tersebut terungkap saat Pantas Lumbun Batu SE MM, Kepala Biro Pengawasan Pasar Berjangka dan Fisik, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Kementrian Perdagangan (Kemendag) RI memberikan sosialisasi kepada para wakil pialang berjangka di kantor PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang, kemarin.

Menurut Pantas, sebetulnya transaksi multilateral sama mudahnya dengan transaksi bilateral. Namun, masyarakat belum teriasa dan belum diedukasi dengan transaksi multilateral. Selain itu, komoditi yang diperdagangkan juga masih terbatas, hanya karet, kayu, batu bara, kopi, CPO, Olien, Kakao dan emas.

“Untuk menarik minat investor agar tertarik, maka Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) perlu melakukan diversifikasi kontrak komoditi yang lebih beragam dan dibutuhkan pasar serta disetujui Bappebti. BBJ saat ini, masih terbilang lambat dalam melakukan diversifikasi produk,” katanya. 

Dengan ramainya transaksi multilateral, kata Pantas, akan memberikan multiplier effect. Kalau selama ini, perdagangan berjangka harus mengikuti harga dari negara lain seperti Malaysia, dengan transaksi multilateral ramai Indonesia bisa menentukan harga sendiri. “Kalau harga terbentuk, maka perekonomian kita akan maju. Dengan demikian turut membangun perekonomian nasional,” katanya.

Sangat ironi, imbuhnya, Indonesia penghasil CPO terbesar di dunia, namun tak bisa menentukan harga sendiri. Namun untuk bisa menentukan harga sendiri, harus ada permintaan dan penawaran perdagangan berjangka di dalam negeri yang tinggi. “Inilah yang sedang kami dorong saat ini,” tandasnya. 

(sm/ida/ida/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia