alexametrics

Pagar Batu Dua Musim Beri Kesan Natural Pada Rumah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Model rumah dengan komponen batu alam memiliki daya tarik tersendiri. Biasanya sang empunya rumah memilih batu alam untuk digunakan di beberapa tempat. Sebut saja di teras rumah, dinding dan pada tangga. Itu memberi kesan natural.

Shandy Kojek, memutuskan untuk menambahkan batu alam pada rumah impiannya. Secara keseluruhan rumahnya bergaya compact minimalis. Artinya rumah dibangun sedemikian rupa dengan memanfatkan lahan yang ada. Dikatakan Shandy, rumahnya memiliki luas tanah 180 meter persegi dan luas bangunan 300 meter persegi. Ia mendesain teras depan rumahnya dengan batu sungai yang ditumpuk-tumpuk secara teratur.

“Pagar batu ini saya beri nama ‘pagar batu dua musim’. Ketika nanti musim hujan tiba, batu sungai bisa ditumbuhi lumut. Saat ditumbuhi lumut, batu berubah warna menjadi kehijau-hijauan. Namun saat kemarau datang, warna asli batu bisa kembali seperti semula,”ketanya kepada Jawa Pos Radar Semarang Sabtu (27/6).

Baca juga:  Cek Kesehatan Rutin ke Dokter Keluarga

Shandy menjelaskan alasan memilih batu sungai dibandingkan batu jenis lain. Batu sungai kerap kali ditumbuhi plankton. Meski sudah dibersihkan, plankton masih tetap menempel. Walaupun secara kasat mata tak terlihat. “Orang awam biasanya membeli batu secara sembarang. Bagi saya, memilih batu juga ada pertimbangannya. Ini batu sengaja tidak dicuci bersih biar planktonnya tetap hidup. Lha plankton itu yang akan memberi kesan asli dan alami dari batu itu sendiri,”imbuhnya.

Rumah yang berada di Perumahan Permata Puri, Ngaliyan Cluster Aira, blok AF 2, no 28 ini berdiri 3 lantai. Didominasi oleh batuan alam, seperti batu candi, bilah dan batu sungai. Batu candi dipilih Shandy untuk bagian tangga depan (pijakan) dan dinding kolam. Kemudian batu bilah di bagian sisi dinding kanan dan kiri tangga. Serta di bagian teras ada batu sungai yang disusun secara teratur. “Batu bilah itu saya dapat di Magelang, dekat Muntilan. Kebanyakan batu dari sana. Kalau untuk batu di teras yang bertumpuk itu saya dapat di daerah Boja, daerah Semarang atas. Dari sungai langsung,” tutur Shandy.

Baca juga:  Tuntut Empat Mahasiswa Dibebaskan

Bagi dia, memilih ornamen batu alam susah-sudah gampang. Ia menggandeng arsitek untuk mewujudkan rumah impiannya. Meski begitu, ia tidak menyerahkan sepenuhnya kepada si arsitek. Ia turut andil memikirkan konsep rumahnya secara matang. “Perhitungannya tetap oleh teknisi yang ahli. Namun konsepnya, saya memikirkan sendiri. Saya menginginkan compact minimalis, ya kami diskusikan dan perhitungkan dengan tepat. Entah itu biaya, bahan-bahan dan lain sebagainya. Tidak sepenuhnya dikerjakan arsitek, agar sesuai dengan kemauan saya,”jelasnya.

Hasilnya, rumah impiannya dikelilingi oleh kolam pada bagian depan dan belakang. Lantai dua disandingkan dengan pohon bonsai. Masing-masing memiliki tinggi 1 meter dan 1,5 meter. Shandy menambahkan, batu dan kolam adalah komponen yang serasi. Ornamen batu pasti akan dipadukan dengan air. “Kalau ada batu pasti ada kolam. Adapula taman dan kolamnya. Taman utama harus di depan. Karena ketika ada yang berkunjung, tamu secara otomatis melihat bagian depan rumah,”paparnya.

Baca juga:  Bisnis Properti Wilayah Semarang Timur masih Potensial

Rumah tiga lantai itu terdiri dari basement (lantai 1), ruang utama (lantai 1), dan kamar anak (lantai 3). Ia mendesain rumah sealami mungkin. Batuan alam disandingkan, ruangan garasi atau basement dipisah. Agar partikel karbonmonoksida tidak bercampur dengan udara di rumahnya. “Fungsi batu juga untuk menyeimbangkan, demi kesehatan keluarga. Siang hari, seminimal mungkin tidak menyalakan lampu. AC dipergunakan seperlunya saja. Tujuan akhirnya yaitu sirkulasi udara bersih tetap terjaga,” jelas Shandy. (avi/lis/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya