alexametrics

Negosiasi Alot, Dua Bulan Baru Deal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Mengoleksi puluhan motor lawas, belakangan ini dilakukan oleh Dani Sriyanto SH, warga Perum BPI Ngaliyan, Semarang. Advokat muda yang juga mantan Sekretaris DPD Partai Demokrat Jawa Tengah itu, punya bengkel khusus untuk merestorasi motor-motor lawas kesayangannya.

WAJAH Dani Sriyanto tampak semringah. Beberapa Vespa tua yang baru selesai direstorasi oleh teknisi bengkel panggilannya, berfungsi baik. Vespa-Vespa yang sebelumnya tidak bisa distarter, kini sudah tokcer. Sekali starter, mesinnya langsung nyala. Momen itu ia abadikan dalam vlog di medsos miliknya.

Dani memang belum lama jadi kolektor motor lawas. Semua itu bermula dari koleganya, seorang mantan pejabat, yang memiliki motor lawas. “Kolega saya itu ternyata masih menyimpan motor lawas, sekadar untuk mengingat kilas balik masa mudanya,” ucap suami dari Diah Octaviana, itu.

Terinspirasi oleh cerita sang kolega, Dani lantas tertarik membeli motor-motor lawas. Utamanya, motor tua jenis dan merek tertentu yang membawa kenangan masa remajanya. Juga kendaraan yang menjadi tunggangan Bapaknya kala muda. Pilihannya: Vespa. Kenapa Vespa? “Saya punya kenangan buruk dan manis pakai Vespa,” ucap advokat yang berkantor di Jalan MH Thamrin tersebut. Saat masih SD, ia pernah dibonceng Vespa oleh Bapaknya. “Waktu itu dari Wonogiri mau ke Solo,” ucapnya.

Baca juga:  Nostalgia Bersama Indonesia Vintage Festival III

Saat Vespa melaju kencang, tiba-tiba Bapaknya ngerem mendadak. Akibatnya, Dani kecil jatuh terbalik ke depan. “Dagu saya robek, nyanggrok plat nomor Vespa, sampai harus dijahit 11 jahitan,” kenang pemilik tempat wisata keluarga, Oemah Sapen di Mijen, itu.

Kenangan lain saat Dani masih kuliah. Suatu hari, grup band Dewa 19 manggung di Solo. Ia yang tidak punya kendaraan, lantas pinjam Vespa milik Om-nya. “Saya pinjam Vespa itu untuk berangkat nonton konser Dewa-19. Vespanya Om jadi langganan untuk saya pinjami.”

Selain Vespa, motor lawas lain yang dikoleksi adalah Honda CB. Ia berburu motor-motor lawas di marketplace media sosial. Juga dari sesama kolektor motor tua. Dani bercerita pengalamannya berburu motor idamannya: CB 750 Four Tahun 1976. “Kondisinya bagus, full paper,” ucapnya. Perburuan dilakukan hingga ke Bali. Ia sampai memboyong keluarga untuk menemui pemilik motor lawas CB 750 di Bali. “Itu negosiasinya alot, sampai 2 bulan.”

Baca juga:  Varian Terbaru Ignis, Dongkrak Penjualan

Kata Dani, ia termasuk beruntung, karena akhirnya deal. Ia lantas membawa pulang motor hasil buruannya ke Semarang. “Setelah saya deal, selang satu jam kemudian, ada kolektor lain yang bersedia membeli CB 750 itu. Si calon pembeli ini bahkan rela ngasih keuntungan Rp 25 juta, agar saya lepas,” kenang pria yang juga penyuka lukisan tersebut. Meski diiming-imingi keuntungan menggiurkan, Dani tak rela melepas.

Apa sih kenikmatan mengoleksi motor lawas? “Selain bodinya yang klasik, suaranya juga khas. Dan, terpenting, meski tahun produksinya sudah lama, tapi masih bisa nyala.” Seninya, kata Dani, justru saat ditunggangi, motor lawasnya tiba-tiba mogok. “Kalau mogok tiba-tiba, itu aduh nikmatnya. Kita bisa memperbaiki dan menuntaskan perjalanan, itu sesuatu yang paling mengesankan,” ucap pemilik Pondok Baca Alquran Al Mardiyyah, Wonogiri ini.

Baca juga:  Adu Kreativitas Mengubah Tampilan Mobil

Ia melanjutkan, ketelatenan, ketekunan, dan kesabaran memperbaiki motor lawas yang mogok, benar-benar diuji. “Kepuasan lain, kalau ditunggangi di jalan, banyak orang yang melirik.” Hingga kini, koleksi motor lawasnya mencapai 30-an unit. Koleksi tertua: Vespa Lambreta dan BMW R.27.

Dani mengaku punya bengkel khusus restorasi mesin Vespa di Salatiga dan bodi di Ungaran. Sedangkan BMW dipercayakan pada bengkel khusus di Jakarta dan Honda CB di Bandung. Setelah direstorasi selesai, ia tidak berpikir bisnis. Melainkan lebih ke sisi historis.

Meski, diakuinya, mengoleksi motor lawas adalah investasi. Semakin lawas kendaraan, maka harga jualnya sangat tinggi. Bahkan, Dani menjualnya dengan harga per CC. “Per CC misalnya Rp 1 juta. Maka, tinggal dikalikan saja kalau motor lawas ada yang 300 CC dan 750 CC.” “Itulah kelebihan barang klasik, harganya pakai batin. Tidak dasar pasaran. Hati senang, berapa pun dibayar.” (isk)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya