Pindah Stir ke Kanan, Swap dengan Mesin Jepang

385
Janu Susilo saat memamerkan Jeep Willys kesayangannya. (Adennyar Wycaksono/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Mempertahankan originalitas mobil tua tentu bukan perkara mudah. Seperti yang dilakukan Janu Susilo. Ia coba kembali menghidupkan roh Jeep Willys keluaran 1955 agar tetap eksis dan bisa mengaspal.

Kanibal mesin menjadi salah satu pilihan. Apalagi mesin Jeep Willys yang konon digunakan pada zaman perang dunia kedua ini sangat susah ditemukan part atau orisinil. Solusinya, melakukan swap mesin. Agar kejayaan mobil ini bisa terus dinikmati.

“Mesin asli mobil ini bertenaga 2.500 cc 4×4. Torsi dan tenaganya terkenal sangat besar. Namun karena part yang susah didapat, akhirnya mesin di swap dengan mesin Jepang-an,” kata Janu.

Meski mesin telah rubah, bukan berarti segala piranti asli ia hilangkan. Putaran roda 4×4 tetap dipertahankan agar bisa melibas jalanan tanah dengan kontur ekstrem. Selain itu, pemasangan power steering menjadi pilihan agar tetap nyaman.

“Saya tanamkan power steering agar lebih mudah dan enteng saat dikendalikan. Skerta ngga rewel kalau dibuat touring ataupun off road. Asensinya masih tetap mobil lawasan.” jelasnya.

Untuk bagian bodi, mobil asal Amerika ini memang dikenal kokoh. Janu mengaku, semua bodi mobil masih kaleng asli alias original. Pun dengan chasis-nya. Bagian kaca depan pun masih aslinya dan berfungsi dengan baik. “Mirip mobil safari, kaca depan bisa dibuka dan diturunkan. Semuanya dipertahankan agar originalitas mobil tetap terjaga,” ucapnya.

Alasan Janu kesengsem dengan Jeep Willys bisa dibilang sangat mulia. Saat kecil, almarhum ayah Janu memiliki mobil serupa dan ia pun sering diajak menunggangi mobil tersebut. Namun setelah ayahnya meninggal, mobil kesayangan ayahnya berpindah tangan karena tidak ada yang merawat.

“Setelah 25 tahun saya beli, meski bukan mobil bapak dulu. Tapi setidaknya saya bisa mengenang beliau dengan mobil yang sama,” kenangnya.

Janu mengungkap, part yang paling susah dicari adalah asesoris. Misalnya emblem, lampu-lampu dan kampak yang ada di bagian belakang mobil. Namun karena perkembangan zaman yang serba modern, sedikit demi sedikit asesoris yang hilang mulai terkumpul dan ia pasang.

“Ada yang buat replikanya, ada pula yang beli di online atau dapat dari komunitas pencinta mobil tua. Yang jelas harus sabar nyarinya. Kadang juga harganya nggak wajar,” katanya sambil tertawa.

Dari segi keamanan, Janu sengaja menambah rol bar pada bagian bodi mobil. Selain itu stir kiri sengaja dipindah ke kanan agar lebih memudahkan saat bertransaksi di toll. Pengalaman unik lainnya adalah, dengan mengendarai mobil tua ternyata bisa menambah teman dan relasi. Bahkan tak jarang, sharing pengalaman tentang mobil zaman perang dunia ini.

“Kalau dari segi perawatan nggak ribet sih. Karena mesinnya juga sudah di swap. Pengalaman unik lain ya kadang jadi pusat perhatian dijalan,” tambahnya.

Janu mengaku masih akan terus memodifikasi tunggangannya. Salah satunya adalah dengan memasang kanvas agar tidak lagi kehujanan saat berkendara.

Disinggung masalah biaya restorasi, Janu hanya tersenyum. Ia tidak ingin membeberkan secara detail. Kepuasan batin bisa kembali memiliki mobil kenangan dengan ayahandanya menurutnya tidak bisa dinilai dengan uang. (den/zal/bas)





Tinggalkan Balasan