Modif atau Orisinal, Honda Win tetap Menawan

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Makin tua semakin jadi primadona. Itulah yang mungkin dapat menggambarkan Honda Win. Di tengah banyaknya tren motor kekinian, honda yang dulu sering digunakan untuk kedinasan tersebut justru semakin banyak peminatnya. Tidak hanya kalangan golongan tua saja, namun juga dari anak muda.

Humas Komunitas Honda Win Semarang Yordanis Wirawan Putra menuturkan, dari tahun ke tahun, jumlah penggemar motor Honda Win di Semarang semakin banyak.  Terutama dari kalangan muda.  Mesin yang kuat, bandel dan bertenaga dengan biaya perawatan yang irit disinyalir menjadi faktor banyaknya orang yang menggemari motor tua tersebut. Selain itu body yang tangguh membuat siapa pun yang memilikinya juga terlihat lebih gagah.

“Karena itu dulu motor kedinasan, makanya bodynya tangguh dan kuat. Dan itu yang dicari para pria. Karena dengan menggunakan motor tersebut jadi lebih laki katanya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Komunitas Honda Win Semarang sendiri sudah ada sejak tahun 2010. Saat ini anggotanya 15 orang. Dirinya menambahkan terdapat anggota yang tetap mempertahankan keaslian motor itu sendiri, namun ada ada pula yang mencoba modifikasi. “Perbandingan yang modif dan yang orisinal hampir sama. 50 : 50 lah,” ujarnya.

Seperti halnya yang dilakukan Muhammad Wisnu Anwar. Anggota komunitas asli Tegal ini mengaku lebih suka mempertahankan orisinalitas dari Honda Win. Baginya motor kedinasan tersebut jauh lebih berkarisma ketika dibiarkan apa adanya. Dibanding harus mendapat sentuhan modifikasi. Dirinya sempat ditawari berbagai macam motor tua lainnya. Namun memang ia merasa cocok dan jatuh cinta dengan Honda Win.

“Dulu sempat ditawari kakak motor tua lain, seperti Astra Prima, Suzuki A 100 dan lainnya. Tapi tidak ada yang cocok. Dan ketika ditawari Honda WIN ini langsung suka karena memang kayak motor laki banget,” ujarnya.

Wisnu sendiri mendapatkan Honda Win dari pemiliknya di Semarang. Dengan menebus harga sebesar Rp. 5,5 Juta,`motor tersebut jadi miliknya. Menurutnya, motor berdaya 97 sampai 100 cc ini tidak membutuhkan perwatan khusus. Sehingga tidak membutuhkan anggaran yang besar.

“Pokoknya gampang lah mengurus Honda Win. Kuat, tangguh hemat. Keren pula. Saya merasa keren saat naik Honda Win,” imbuhnya.

Meskipun tergolong motor tua, Honda Win tidak kehilangan pesonanya. (Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang)

Lain Anwar, lain pula yang dilakukan oleh Tedja Bayu Seno. Dirinya mengaku lebih memilih melakukan modifikasi. Ia ingin membuat orang penasaran dengan motornya. Selain itu dirinya ingin tampil beda daripada pemilik Honda Win lainnya.

“Kalau yang orisinal siapa saja yang liat tau itu Honda Win. Tapi punya saya kan dimodif seperti gado-gado. Jadi harus teliti mengamati. Baru tau itu Honda Win,” ujarnya sambil tertawa.

Dalam modifikasi, Tedja menggabungkan banyak komponen dari berbagai motor. Seperti menggunakan shock breaker depan dari Ninja 150 CC, kaliper master rem, kran bensin, shock breaker dan Stang dari Tiger Revo, pirinyan ram cakram Axio diamter 350 mm, tremol depan dari Yamaha Scorpio.

Batok lampunya diambilkan dari Honda CB 125 cc, tangki Honda CB Gatik Original ditambah emblem sayap honda,  holder dari Yamaha, Spion dari Scopy,stop  lamp dan pangkon lampu dari Suzuki TS 125, lampu riting belang dari Suzuki GT Twin, cat body warna biru shiken & spciker, cat rangka/frame cat Powder coating hitam, Velg depan belakang DID Japan profil 215:17 dan 250:17, ban depan belakang corsa, tormol belakang dari Jupiter MX, foot step belakang dan depan dari Honda Supra 125cc, knalpot dari New mega Pro, blok kop + radiator dari Vixion, karburator TDR PE 28mm original dan magnet spul dari Satria FU. Dan masih banyak lagi yang diganti.

Butuh waktu sembilan bulan untuk memperganteng tampilan kuda besinya. Kocek yang harus dikeluarkan pun cukup fantastis. Bahkan bias dibilang lebih mahal dari motornya. Sebesar Rp 20 juta. “Saya puas dengan hasil modifikasinya. “Saya merasa lebih laki naik motor ini,” pungkasnya. (akm/zal/bas)

Tinggalkan Balasan