Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Bioprospek Buah Parijoto (Medinilla speciosa) sebagai Novelty Bahan Baku Industri Kosmetik

Tasropi • Sabtu, 28 Oktober 2023 | 18:43 WIB
Noor Nailis Sa’adah, S.Si., M.Sc.  Mahasiswa Program Doktor, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (UGM). (Dokumen Pribadi)
Noor Nailis Sa’adah, S.Si., M.Sc. Mahasiswa Program Doktor, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (UGM). (Dokumen Pribadi)

RADARSEMARANG.ID, KEANEKARAGAMAN hayati Indonesia memainkan peran penting dalam kesehatan dan pengobatan tradisional, farmasi, pertanian dan ekonomi.

Di Indonesia berbagai jenis tumbuhan telah dimanfaatkan dalam dunia kesehatan.

Tapi masih terdapat banyak tumbuhan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu tumbuhan yang belum banyak dieksplorasi secara farmakologis adalah parijoto (Medinilla speciosa).

Parijoto merupakan tumbuhan liar yang biasanya tumbuh dalam hutan dan lereng gunung, dengan ketinggian 800-2.300 meter dpl. 

Tumbuhan ini banyak ditemukan di sekitar Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah.

Buah parijoto telah banyak dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mengobati berbagai penyakit. Seperti sariawan dan diare.

Selain itu memiliki potensi sebagai antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, dan antikanker.

Mayoritas masyarakat lokal meyakini bahwa konsumsi buah Parijoto pada saat hamil dapat membuat bayi terlahir cantik.

Mitos ini bermula dari cerita istri Sunan Muria yang sedang hamil dan mengkonsumsi buah parijoto. Sehingga melahirkan bayi yang sehat dan memiliki kulit bersih, cerah, dan sehat.

Kulit bagian terluar tubuh manusia memiliki banyak fungsi vital. Termasuk perlindungan terhadap lingkungan eksternal, baik fisik, kimia, maupun biologi (bakteri, virus, dll).

Kulit berperan dalam pencegahan kehilangan air berlebih dari tubuh, dan menjaga termoregulasi.

Kulit terdiri atas 3 lapisan, yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis. Fungsi utama epidermis adalah sebagai pelindung terhadap mikroba, pencemaran lingkungan, dan radiasi ultraviolet (UV).

Epidermis bersifat avaskuler dan sebagian besar terdiri dari beberapa lapisan keratinosit, sel Langerhans, dan melanosit.

Sebagai bagian terluar tubuh, kulit paling sering terpapar faktor luar, terutama radiasi sinar ultraviolet (UV).

Radiasi UV (UVR) berlebihan dalam jangka panjang menyebabkan photoaging dan kanker kulit. Tingginya paparan UVR juga memicu peningkatan melanogenesis.

Yakni proses produksi pigmen melanin yang memberikan warna hitam kecoklatan pada tubuh manusia.

Industri kosmetik memanfaatkan senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan dan anti-tirosinase seperti asam kojic, hidroquinon, asam askorbat, dan arbutin. Yakni sebagai bahan baku pembuatan produk kosmetik.

Secara umum, produk kosmetik diklasifikasikan menjadi:

1) kosmetik untuk membersihkan diri (sampo, deodoran, sabun),

2) kosmetik untuk perawatan kulit dan rambut (pasta gigi, produk perawatan topikal),

3) kosmetik untuk hiasan (lip colors, perfumes),

4) kosmetik pelindung (produk tabir surya dan anti kerut),

5) kosmetik korektif (pewarna rambut, masker wajah),

6) kosmetik pemeliharaan (pelembab, shaving cream); dan

7) kosmetik aktif (antiseptik, pasta gigi fluoride).

 

Industri kosmetik akhir-akhir ini menjadi salah satu industri dengan pertumbuhan tercepat.

Seiring perkembangan ekonomi, kesadaran masyarakat akan perawatan kulit meningkat, dan konsep kulit sehat secara bertahap mulai terbentuk.

Ketika generasi baby boomer memasuki usia lanjut, keinginan untuk terlihat lebih sehat dan lebih muda telah menciptakan permintaan dan peluang pasar yang besar.

Baru-baru ini, telah banyak dilakukan upaya eksplorasi untuk mengembangkan produk pelindung tabir surya, anti kerut, dan pencerah kulit alami baru dengan menggunakan ekstrak tumbuhan.

Sehingga tidak memiliki efek samping dan menunjukkan banyak sifat biologis. Seperti antioksidan, anti-tirosinase dan anti-aging.

Salah satu tumbuhan asli Indonesia yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi adalah buah Parijoto.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa buah Parijoto memiliki kandungan antosianin dan flavonoid total yang tinggi. 

Dimana dapat menghambat proses melanogenesis. Makanya, buah parijoto dapat menjadi salah satu penemuan baru (novelty) sumber bahan baku kosmetik, khususnya di Indonesia.

Namun, hal ini harus didukung dengan penelitian di laboratorium untuk membuktikan potensi buah Parijoto dalam menghambat melanogenesis dan anti-aging. Baik secara preklinik maupun uji klinis sehingga produk kosmetik yang dihasilkan berkhasiat dan aman digunakan oleh manusia. (*/bud)

 

Noor Nailis Sa’adah, S.Si., M.Sc.

Mahasiswa Program Doktor, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (UGM)

Editor : Tasropi
#pengobatan tradisional #buah Parijoto #Medinilla speciosa #Noor Nailis Saadah #Gunung Muria #Keanekaragaman Hayati Indonesia #bahan baku industri