Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Implementasi Ensiklik Laudato Si dalam Kehidupan Perguruan Tinggi

Agus AP • Jumat, 5 Agustus 2022 | 00:10 WIB
Ilona Tesalonika
Ilona Tesalonika
RADARSEMARANG.ID, TANTANGAN perubahan iklim dan ekologi seperti seperti banjir, gelombang panas, kelangkaan air, siklon tropis, kebakaran hutan terus menerus terjadi. Hal ini langsung atau tidak langsung akan mempenggaruhi kondisi sosial, produktivitas dan kesehatan yang terjadi di masyarakat.

Perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk menjaga bumi dengan menyelaraskan kegiatan Tri Dharma. Perguruan Tinggi dapat melahirkan pemikiran-pemikiran kreatif dan kritis lahir untuk menjawab solusi perubahan lingkungan.

Untuk mencapai tujuan kepedulian lingkungan yang lebih signifikan, Perguruan Tinggi tidak lagi bisa menggunakan cara-cara biasa (business as usual) namun harus berorientasi pada bisnis berkelanjutan (sustainability business). Secara umum, pendekatan triple bottom line (TBL) oleh Elkington yaitu people (sosial), planet (lingkungan), dan profit (ekonomi) menjadi rujukan perubahan model bisnis.

Secara khusus, pada Perguruan Tinggi Katolik yang menjadi mitra kami, Ensiklik Laudato Si menjadi guidance untuk mendefinisikan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan dalam mengatasi perubahan iklim yang dipergunakan sebagai rumah umat manusia.

Ensiklik Laudato Si dikeluarkan oleh Paus Fransiskus tahun 2015 berisi tentang kepedulian memelihara alam ciptaan sebagai rumah umat manusia. Laudato Si (bahasa Italia) diadopsi dari nyanyian Santo Fransiskus dari Asisi.

Sebuah perguruan tinggi dapat melakukan area manajerial dalam pengembangan sistem lingkungan hidup mereka sesuai dengan fungsi manajemen. Sebagai fungsi utama yang dapat diselesaikan oleh seorang manajer yaitu dalam hal perencanaan, pengorganisasian, memimpin, hingga pengendalian.

Empat fungsi pada manajerial ini dijadikan sebuah standar pada setiap area manajerial: operasi, sumber daya manusia, pemasaran, hingga keuangan.

Manajemen operasi nantinya akan berkaitan langsung menyeluruh pada operasional yang akan dipergunakan. Manajemen SDM terkait dengan bagaimana pengembangan sumber daya manusia dalam memperoleh atau memelihara manajemen manusianya.

Lalu manajemen pemasaran memiliki peran dalam menjembatani permintaan dengan penawaran melalui strategi pemasaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Terakhir, terdapat manajemen keuangan yang akan berkaitan dengan manajemen terhadap sumber dana keluar masuk operasional.

Sedangkan beberapa kebijakan yang telah dilakukan oleh beberapa Perguruan Tinggi yang mendukung amanat Laudato Si, antara lain memasukkan wawasan dan kegiatan terkait pelestarian lingkungan pada Pembekalan Terpadu Mahasiswa Baru (PTMB), adanya kurikulum yang mengakomodasi isu lingkungan, misalnya: Manajemen Lingkungan Hidup untuk Bisnis serta Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL), penyediaan bus yang beroperasi tiap jam untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi saat berpindah antar kampus, memisahkan sampah berdasar sampah organik dan anorganik, dan tetap mempertahankan lingkungan hijau disekitar kampus dan tidak menggusur habitat ekosistem didalamnya, misalnya: keberadaan habitat monyet di belakang kampus.

Ensiklik Laudato Si Implementasi Laudato Si pada berbagai aspek manajerial perguruan tinggi dapat diperkuat dengan menerapkan beberapa kebijakan pda aspek-aspek internal organisasi seperti operasi, keuangan, sumberdaya manusia, maupun pemasaran.

Dalam aspek operasi, perguruan tinggi dapat memanfaatkan green supply management pada green manufacturing, dan pemanfaatan clean technology dengan inovasi pemilihan sumber cahaya, pemanfaatan panel surya, penggunaan teknologi RFID switch card, menggunakan konsep arsitektur hijau untuk mengimbangi jumlah energi yang digunakan dalam memberi daya pada bermacam jenis bangunan. Seperti di negara Singapura, ada insentif untuk peralatan listrik hemat energi dan energi bersih seperti yang terlihat di Singapura di mana pemerintah menyediakan voucher bagi rumah tangga yang menggunakan peralatan hemat energi dan air, seperti lemari es ramah iklim, perlengkapan mandi hemat air, dan lampu LED. Artinya, perguruan tinggi juga dapat mengadopsi kebijakan tersebut dengan melakukan penyesuaian sesuai skop perguruan tinggi.

Pada aspek sumberdaya manusia pengaturan sedemikian rupa terkait dengan aktivitas manusia yang menyebabkan polusi udara seperti aktivitas transportasi. Tujuan memberikan pelayanan yang baik dan modern seperti lift dan lahan parkir uang luas jika tidak dikondisikan sedemikia rupa justru dapat menghasilkan polusi yang sebenarnya dapat ditekan.

Misalnya, penyediaan lahan parkir yang luas mendorong adsnya aktivitas kendaraan pada area perguruan tinggi semakin leluasa dan menghasilkan polusi udara dalam bentuk partikel gas. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain mengarahkan atau mengedukasi anggota untuk lebih banyak menggunakan tangga dibandingkan penggunaan lift, menyelenggarakan hari bebas kendaraan bermotor, dan digitalisasi kurikulum.

Pada aspek pemasaran, beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain penerapan green marketing atau ecological marketing seperti marketing waste, promosi hijau melalui platform digital seperti media sosial Instagram advertisement, tiktok, youtube, facebook, website,dan line ads sehingga mengurangi aktivitas cetak-mencetak, merancang program Corporate Social Responsibility (CSR) yang melibatkan mahasiswa maupun alumni sebagai pelaku promosi, dan digitalisasi Pemasaran secara menyeluruh.

Digitalisasi pemasaran secara menyeluruh memiliki beberapa keunggulan yakni keterjangkauan lebih luas, informasi lebih mudah diakses karena berbasis Mobile Access (Akses Seluler), pemanfaatan influencer Engagement, dan lainnya.

Mengenai aspek keuangan, perguruan tinggi dapat mengarahkan berbagai bentuk pembayaran untuk kegiatan belajar mengajar perguruan tinggi pada mekanisme pelaksanaan digitalisasi keuangan. Seperti tidak perlu lagi menggunakan nota pembayaran yang menggunakan tinta berbasis minyak bumi tak terbarukan. Dengan penghilangan tinta, maka keuangan perguruan tinggi akan lebih ramah lingkungan.

Tentu saja, implementasi digitalisasi keuangan pada perguruan tinggi harus tetap diawasi apakah setiap pembayaran yang dilakukan aman untuk prosesnya dan tidak menimbulkan kerugian pada perguruan tinggi maupun mahasiswa. Tulisan ini terinpirasi dari diskusi dengan 2 teman saya Yoseph Christian Asitya Candra dan Garrent Reivener Michael Hariyadi. Mari bersama-sama menjaga bumi. (*/ida)



Mahasiswa Program Studi Manajemen Unika Soegijapranata Editor : Agus AP
#Mahasiswa Program Studi Manajemen #Kehidupan Perguruan Tinggi #Unika Soegijapranata #Ilona Tesalonika #Implementasi Ensiklik Laudato Si