
Oleh: Prof. Dr. Rasimin, M. Pd.
(Dekan FTIK UIN Salatiga - Guru Besar Pendidikan IPS)
RADARSEMARANG.ID, Pagi ini, sebuah opini dari kolega saya, Abdul Rozak dari UIN Jakarta, mengusik ketenangan kita. Ia membedah kenyataan getir bahwa jaminan kerja bagi sarjana kini nyaris tinggal sejarah. Namun, kita harus berani menatap realitas yang lebih kelam dari angka pengangguran. Kita sedang berada dalam pusaran hiperinflasi intelektual yang kian nyata.
Kondisi tersebut membuat predikat kesarjanaan hari ini menyerupai mata uang yang kehilangan daya beli. Ijazah perlahan berubah menjadi tiket masuk ke arena yang pertunjukannya telah usai. Secara sosiologis, Randall Collins (2019) memperingatkan gejala credentialism, sebuah situasi ketika gelar akademik hanya menjadi alat penyaringan status sosial dan justru asing terhadap kecakapan teknis yang sesungguhnya.
Kenyataan ini diperparah oleh gejala degree inflation, di mana banyak pekerjaan administratif yang secara teknis dapat diselesaikan oleh lulusan sekolah menengah, kini mewajibkan syarat sarjana sebagai standar minimum tanpa diikuti peningkatan beban kerja yang relevan.
Krisis ini semakin menyesakkan akibat disrupsi kognitif dari Kecerdasan Buatan (AI). Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum (2023) memproyeksikan 44 persen keterampilan inti pekerja akan usang dalam sekejap. Data BPS (2024) juga menunjukkan anomali yang menampar wajah kita: tingkat pengangguran lulusan universitas sering kali lebih tinggi dibanding tamatan SD.
Proyeksi dari berbagai lembaga riset ekonomi juga menegaskan adanya skill gap yang lebar, terutama pada rendahnya penguasaan teknologi digital tingkat lanjut dan kemampuan penyelesaian masalah kompleks di kalangan lulusan baru. Hal ini menjadi bukti sahih bahwa sistem pembelajaran kita yang bersifat reproduktif, yang hanya mengulang teori, telah kedaluwarsa sebelum lulusannya sempat mencetak toga.
Sayangnya, birokrasi pendidikan kita masih bergerak dengan kecepatan siput di jalur algoritma yang melesat kilat. Perguruan tinggi ibarat nakhoda yang sibuk merapikan seragam saat kapal dihantam gelombang besar.
Baca Juga: Cyborg Kecil di Balik Arsitektur Algoritma
Kita terjebak dalam administrasi, sementara ruang kelas dipenuhi materi usang. Akibatnya, kampus yang seharusnya menjadi rahim inovasi berisiko menjadi pabrik artefak kertas bernama ijazah.
Guna melawan kegelisahan tersebut, saya menawarkan beberapa alternatif solusi sebagai jalan keluar dari kebuntuan sistemik ini. Upaya tersebut perlu dimulai dengan dekonstruksi radikal, tidak hanya berhenti pada jargon link and match yang sering kali berakhir di meja seremoni.
Fenomena horizontal mismatch atau ketidaksesuaian bidang kerja yang menurut data nasional mencapai angka di atas 50 persen menunjukkan bahwa konsep Triple Helix antara kampus, industri, dan pemerintah saat ini menyerupai pesta pernikahan mewah tanpa kehadiran mempelai.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




