Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hujan, Banjir, dan Kita yang Suka Mencari Kambing Hitam

I
Penulis: Iskandar❯
Iskandar  Penulis adalah netizen sekaligus jurnalis.
Iskandar Penulis adalah netizen sekaligus jurnalis.

RADARSEMARANG.ID, Akhir-akhir ini alam seolah sedang berduka. Langit menangis. Hujan deras mengguyur. Berhari-hari. Seperti tidak lelah.


Advertisement

Seperti sedang menuntaskan sesuatu yang lama tertunda. Di Jawa Tengah, hujan belakangan bukan sekadar tamu, tapi sudah menjelma jadi penghuni tetap.

Datang hampir tiap hari, kadang sopan, kadang berisik, kadang membawa kabar duka.

Jepara, Pati, Kudus—tiga kota di pantura timur—terendam. Sungai meluap, drainase kewalahan, air menggenang di mana-mana. Rakyat kembali mengangkat perabot, menyelamatkan barang seadanya, dan belajar sabar di tengah genangan.

Advertisement

Di Jepara, tanah pun ikut menyerah. Longsor terjadi di beberapa titik. Seolah alam berkata: aku lelah menahan.

Tak hanya di sana. Semarang ikut kebagian cerita. Jumat malam (18/1), Mangkang terendam.

Sehari sebelumnya, banjir di Kaliwungu Kendal bahkan sempat mengganggu perjalanan kereta api. Pemalang? Sama saja. Banjir lagi, banjir lagi.

Advertisement

BMKG sudah memberi peringatan. Puncak musim hujan telah tiba di Jawa Tengah. Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Ahmad Yani Semarang, Farita Rachmawati, menyebut hujan berintensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi setidaknya sepekan ke depan.

Januari–Februari adalah masa paling basah. Curah hujan tinggi. Risiko bencana hidrometeorologi mengintai.

Secara ilmiah, semuanya masuk akal. Ada pertemuan angin. Ada pembentukan awan hujan sejak siang hingga malam. Cuaca ekstrem. Titik.

Tapi di titik inilah saya sering bertanya: benarkah banjir ini sepenuhnya soal hujan? Hujan deras, iya. Itu kehendak alam. Kita tak bisa mengatur kapan awan pecah. Tapi banjir?

Banjir seharusnya bisa diantisipasi. Jauh sebelum musim hujan datang. Dengan ruang terbuka hijau yang cukup. Hutan yang tidak ditebangi sembarangan.

Dengan daerah resapan yang dijaga, bukan dijadikan perumahan. Jika itu konsisten dilakukan, air akan tahu jalannya sendiri. Ia mengalir, bukan menggenang. Ia menyuburkan, bukan menyengsarakan.

Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Setiap hujan besar, cuaca ditunjuk sebagai tersangka utama.

“Ini karena cuaca ekstrem,” kata kita, serempak. Padahal, menyalahkan cuaca rasanya seperti menyalahkan Tuhan.

Alam hanya bekerja sesuai hukumnya. Manusialah yang gemar mengutak-atik, lalu kaget saat alam bereaksi.

Kita bisa belajar dari banyak tempat. Medan, Sumatera, misalnya. Banjir kayu gelondongan tak akan terjadi jika hutan tidak dirusak secara gila-gilaan.

Ketika hutan habis, air turun tanpa penyangga. Yang mengalir bukan hanya air, tapi juga kemarahan alam.

Di tengah potensi hujan yang masih tinggi, pemerintah kemudian memilih satu jurus andalan: modifikasi cuaca.

Penyemaian awan. Garam atau silver iodide ditaburkan, hujan “dipindahkan”, biasanya ke laut.

Secara teknologi, ini sah. Modifikasi cuaca bukan hal haram. Ia hasil pengetahuan manusia yang panjang.

Tapi jujur saja, ini terasa seperti solusi instan. Jalan pintas. Ingin cepat, ingin gampang. Pengin gampange tok.

Pertanyaannya: apakah ini menyentuh akar masalah banjir? Atau hanya memindahkan masalah ke tempat lain? Laut salah apa sampai harus jadi tempat “pembuangan” hujan?

Padahal hujan itu sendiri adalah berkah. Yang membuatnya berubah jadi bencana adalah cara kita memperlakukan daratan.
Modifikasi cuaca boleh dilakukan. Silakan.

Tapi jangan dijadikan jawaban utama. Karena setiap hujan yang berakhir banjir menunjukkan ada yang salah dalam tata ruang, dalam pengelolaan lingkungan, dalam keberanian mengambil kebijakan jangka panjang.

Seharusnya, teknologi menjadi pelengkap, bukan panglima. Yang lebih penting justru kerja sunyi dan panjang: memulihkan ekosistem, menanam kembali pohon, menjaga tanah dan gambut, membangun sumur resapan dan embung desa.

Menyiapkan sistem peringatan dini agar warga siap, bukan panik. Menata kota agar air punya ruang untuk singgah tanpa harus masuk ke rumah-rumah.

Modifikasi cuaca yang dilakukan berlebihan pun bukan tanpa risiko.

Gangguan air tanah bisa terjadi. Ekosistem bisa terganggu. Rantai kehidupan bisa berubah pelan-pelan, tanpa kita sadari. Hujan akan terus datang. Itu pasti.

Tapi apakah setiap hujan harus selalu berakhir banjir? Itu pilihan. Pilihan kebijakan. Pilihan keberpihakan. Pilihan apakah kita mau berdamai dengan alam, atau terus memaksanya tunduk—lalu heran ketika ia murka.

Barangkali, yang perlu kita modifikasi bukan cuaca. Melainkan cara berpikir kita sendiri. (*)

 

 

Oleh: Iskandar

Penulis adalah penyuka hujan sekaligus jurnalis Radar Semarang

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pemprov Jateng Siapkan Penanganan Darurat Hingga Jangka Panjang Sungai Plumbon Semarang

Pemprov Jateng Siapkan Penanganan Darurat Hingga Jangka Panjang Sungai Plumbon Semarang

Pemerintah mempersiapkan penanganan jangka pendek (darurat) dan jangka panjang atas jebolnya tanggul Sungai Plumbon di Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

BPBD Jateng Tutup Tanggul Jebol Sungai Silandak, Penanganan Jangka Panjang Disiapkan

BPBD Jateng Tutup Tanggul Jebol Sungai Silandak, Penanganan Jangka Panjang Disiapkan

Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah telah menutup tanggul jebol Sungai Silandak yang menyebabkan banjir di wilayah Semarang Barat dan Ngaliyan, Kota Semarang.

Warga Mangkang Kulon Semarang yang Terseret Banjir Ditemukan 150 Meter dari Lokasi Awal

Warga Mangkang Kulon Semarang yang Terseret Banjir Ditemukan 150 Meter dari Lokasi Awal

Tim gabungan bersama warga akhirnya menemukan jasad Mbah Maryam di saluran air belakang rumah warga, sekitar 150 meter dari titik awal ia terseret arus.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer