RADARSEMARANG.ID — Juliana Marins ikut serta dalam kegiatan pendakian Gunung Rinjani menggunakan jasa tur dan pemandu lokal.
Rombongan disebut mengambil jalur Sembalun, salah satu jalur populer dengan pemandangan menakjubkan namun penuh tantangan.
Di tengah perjalanan menuju Danau Segara Anak, Juliana dilaporkan mengalami kelelahan fisik dan mulai tertinggal dari rombongan.
Namun, sayangnya, pemandu tidak melakukan pengecekan atau pengawasan menyeluruh terhadap kondisi seluruh peserta.
Situasi memburuk ketika Juliana terpisah sepenuhnya dari grup dan tidak terlihat oleh pemandu maupun peserta lain.
Diketahui kemudian bahwa Juliana diduga terpeleset di jalur curam dan jatuh ke jurang berkedalaman puluhan meter.
Baca Juga: Akun Medsos dan Youtube Masjid Jogokariyan Yogyakarta Diblokir, Kenapa?
Keterangan dari saksi dan anggota rombongan menyebut bahwa Juliana tidak memiliki latar belakang pengalaman mendaki gunung.
Ia bergabung dengan keyakinan bahwa perjalanan akan sepenuhnya dipandu dan aman.
Namun, di jalur menurun menuju danau, Juliana tampak kesulitan mengikuti kecepatan rombongan.
Ia sempat mengeluhkan kelelahan, namun tidak ada tindakan dari pemandu untuk memperlambat atau memantau keselamatannya.
Ketika akhirnya ia tertinggal dan tidak dapat lagi dihubungi, situasi berubah darurat.
Diduga kuat, saat berada sendirian di jalur terjal, Juliana kehilangan pijakan dan jatuh ke dasar jurang.
Salah satu fakta paling disayangkan adalah proses evakuasi korban yang berjalan lambat.
Hingga 3 hari setelah lokasi korban diketahui, Juliana belum berhasil diangkat dari dasar jurang.
Tim SAR mengakui kesulitan karena lokasi yang sangat curam, berbatu, dan tertutup vegetasi lebat.
Cuaca yang tidak bersahabat serta keterbatasan peralatan juga menghambat upaya penyelamatan, baik lewat jalur darat maupun melalui udara.
Keluarga korban, khususnya sang adik, meluapkan amarah dan kesedihan melalui unggahan di media sosial.
Ia menyoroti lambannya proses evakuasi dan minimnya komunikasi resmi dari pihak berwenang.
“3 hari telah berlalu dan tubuh kakakku masih berada di dasar jurang. Tidak ada yang melakukan evakuasi nyata. Kami memohon agar pemerintah Indonesia bertindak,” tulisnya.
Unggahan itu langsung viral dan memicu gelombang simpati serta protes dari warganet, khususnya dari Brasil.
Sejumlah akun resmi pejabat dan lembaga pemerintah Indonesia dibanjiri komentar, termasuk akun Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Pariwisata.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menyatakan telah menjalin koordinasi dengan berbagai pihak.
Termasuk Basarnas, kepolisian, serta instansi terkait lainnya untuk mempercepat evakuasi.
Pihak Kementerian Pariwisata juga telah menyampaikan duka mendalam dan berjanji mengevaluasi standar operasional penyelenggara wisata petualangan di kawasan konservasi.
Sementara itu, Kedutaan Besar Brasil di Jakarta dikabarkan aktif mendampingi keluarga korban, dan turut meminta percepatan proses pemulangan jenazah begitu evakuasi berhasil dilakukan.
Sosok Juliana Marins
Juliana Marins memiliki nama lengkap Juliana De Souza Pereira Marins, ia lahir pada tahun 1998 ia kini berusia 27 tahun.
Juliana Marins tinggal di Niterói, Rio de Janeiro, Brazil.
Wali Kota Niterói, Rodrigo Neves juga sudah turun tangan menanggapi hal ini.
Ia terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Brasil di Jakarta.
“Tim sudah berada di lokasi, tempat itu tidak layak huni, lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut, di daerah berpasir.”
“Saya menghabiskan waktu kemarin pagi mengikuti kasus tersebut, meminta pihak berwenang Brasil di Jakarta untuk memperkuat tuntutan kepada tim penyelamat dan pihak berwenang setempat di Indonesia,” katanya.
Juliana Marins diketahui mendaki Gunung Rinjani bersama enam orang rekannya dan seorang pemandu lokal, mereka memilih jalur Sembalun dan pada Sabtu (21/6/2025) dini hari.
Juliana pun melanjutkan perjalanan menuju puncak bersama lima pendaki lain dan pemandu.
Namun saat tiba di titik Cemara Nunggal, Juliana dilaporkan merasa kelelahan dan diminta oleh pemandu untuk beristirahat.
Pemandu kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak bersama kelima pendaki lainnya, meninggalkan Juliana sendirian di titik istirahat.
Saat Juliana tidak kunjung menyusul rombongan, pemandu memutuskan kembali ke lokasi tempat Juliana terakhir beristirahat.
Namun, Juliana tidak ditemukan di sana.
Dari titik tersebut, pemandu melihat cahaya senter di bawah jurang yang mengarah ke Danau Segara Anak.
Ia menduga cahaya itu berasal dari Juliana yang terjatuh dan segera menghubungi otoritas untuk meminta bantuan.
Kabar jatuhnya Juliana langsung viral di media sosial setelah keluarganya di Brasil membuat akun Instagram bernama @resgatejulianamarins, arti dalam bahasa Indonesia @penyelamatanjulianamarins.
Akun tersebut dibuat oleh keluarga pada Senin (23/6/2025), untuk mengupdate perkembangan proses penyelamatan Juliana Marins.
Hingga Selasa (24/6/2025), akun @resgatejulianamarins sudah memiliki 1,1 juta pengikut.
Total sudah ada 26 postingan yang diunggah akun tersebut.
Semua tentang kabar hilangnya Juliana Marins hingga upaya tim penyelamat.
Nama Juliana Marins semakin bergema di media sosial setelah warganet luar negeri menyerbu akun Instagram Presiden Prabowo Subianto @prabowo.
Akun orang nomor satu di Indonesia itu dibanjiri komentar agar Juliana Marins segera diselamatkan.
“Salve Juliana,” tulis seorang akun bernama @danielaserafim__.
Mariana Marin, kakak dari Juliana Marins mengatakan, tim penyelamat belum berhasil sampai di titik jatuhnya sang adik.
Meskipun demikian, pihak keluarga mendapatkan informasi tim penyelamat sudah membawa logistik.
“Kami menerima, dengan penuh kekhawatiran dan kekhawatiran,” katanya, dikutip dari media nasional Brazil, Universo Online.
Menurut berbagai sumber, Juliana Marins lahir di Kota Rio de Janeiro, Brazil yang kini berusia 26 tahun.
Juliana merupakan lulusan Periklanan dan Publisitas dari Universitas Federal Rio de Janeiro (UFRJ).
Juliana dikenal sebagai petualang sejati, pecinta alam, pribadi yang aktif dan berani.
Lewat akun instagramnya @ajulianamarins, ia sering membagikan momen-momen perjalananya saat traveling.
Dia telah melakukan perjalanan ransel (backpacker) keliling Asia di awal tahun ini.
Negara yang dikunjunginya adalah Filipina, Vietnam, dan Thailand sebelum akhirnya tiba di Indonesia.
Pada awal Juni, ia tiba di Indonesia, dan sempat membagikan keindahan alam Indonesia lewat unggahan foto dan video di akun instagram-nya dengan menulis caption “Never try never fly.”
Menurut seorang teman Juliana, perjalanannya keliling Asia adalah mimpi lama Juliana.
Selain hobi traveling, Juliana juga penampil pole dance (tari tiang).
Dalam akun instagramnya, Juliana sering mengunggah foto dan video saat pole dance.
Meski kini telah tiada, nama Juliana Marins akan selalu dikenang, bukan hanya sebagai korban tragedi di Gunung Rinjani tapi juga sosok petualang sejati.
Kisah Juliana juga menjadi peringatan agar semua pendaki lebih waspada dan pengelola wisata alam lebih bertanggung jawab atas keselamatan pengunjung. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi