RADARSEMARANG.ID, - Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai, Askolani, baru-baru ini mendapat sorotan publik terkait harta kekayaanya.
Menurut laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), harta kekayaan Askolani diklaim mencapai angka fantastis hingga 51,8 miliar.
Selain itu, Askolani juga dikabarkan memiliki banyak tanah yang tersebar di Jakarta.
Kabar tersebut menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.
Banyak warganet dengan cepat menanggapi, mengungkapkan berbagai spekulasi dan pertanyaan mengenai sumber kekayaan yang begitu besar.
Tidak sedikit warganet yang mempertanyakan integritas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan negara.
Meski demikian, Askolani memiliki kekayaan yang mayoritas berupa tanah dan bangunan dengan nilai mencapai Rp 17 miliar yang dirilis menurut data laporan KPK.
Aset tersebut terletak di beberapa wilayah, termasuk Bogor dan Jakarta, yang notabene merupakan lokasi dengan nilai tanah yang terus meroket.
Diketahui, terdapat bangunan seluas 36 meter persegi di Jakarta Utara hingga tanah seluas 312 meter persegi di Jakarta Timur.
Bangunan dan tanah itu diduga merupakan aset milik Askolani yang diversifikasi secara luas.
Namun demikian, tak hanya nilai aset yang menjadi sorotan, melainkan juga peningkatan kekayaan yang terjadi dalam kurun waktu satu tahun.
Menurut data laporan yang diperoleh, telah menunjukkan adanya kenaikan signifikan dalam surat berharga yang dimiliki Askolani, dari Rp 8,88 miliar menjadi Rp 19,53 miliar.
Sementara itu, kas dan setara kas yang dimilikinya justru menunjukkan penurunan, dari Rp 15,31 miliar menjadi Rp 12,06 miliar.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Askolani terkait laporan harta kekayaannya.
Baca Juga: Kartu Tertelan Saat Ambil Uang di ATM? Gausah Panik, Begini Cara Aman Mengatasinya
Namun, berbagai tanggapan dari netizen telah mengisi ruang publik dengan spekulasi dan harapan akan transparansi lebih lanjut.
Beberapa warganet menuntut penjelasan, sementara yang lain mengapresiasi jika kekayaan tersebut merupakan hasil dari investasi bijak.
Hal ini diketahui menambah daftar panjang isu yang mengelilingi Bea Cukai, yang sebelumnya telah mendapat sorotan karena kebijakan impor yang kontroversial.
Editor : Tasropi