RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sebagai salah satu musik khas indonesia, keroncong menjadi genre musik yang banyak mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat.
Di Kota Semarang, salah satu kelompok musik yang masih eksis melestarikan musik keroncong adalah Keroncong Karimoeni.
Pembina Keroncong Karimoeni, Semar Mardjadi Soetjipto mengatakan, kelompoknya sudah berdiri sejak tahun 1997 dan merupakan turunan dari generasi ke generasi.
"Saat ini kami yang tergabung masuk dalam generasi kelima," ungkapnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang Kamis (24/8/2023).
Orkestra Keroncong Karimoeni berawal dari sekelompok pemusik yang tergabung untuk melakukan pelayanan musik di Gereja Kristen Jawa yang berada di Ngaliyan dan Krapyak.
"Kelompok kami pernah menghadiri pertemuan dalam ranah musik dan kami bertemu dengan orang Brazil, Portugis, Belanda, mereka pun mengakui bahwa keroncong berasal dari Indonesia," tambahnya.
Kecintaannya terhadap musik, membuat orkestra Keroncong Karimoeni ini memiliki keinginan dan tanggung jawab untuk melestarikan
Orkestra Keroncong Karimoeni terbentuk dalam kelompok yang disesuaikan dengan golongan usia. Terdapat 12 anggota per golongan usia, mulai dari golongan anak, dewasa, hingga senior.
"Kalau dari range usia itu mulai dari 14 tahun hingga 65 tahun," sambungnya.
Penamaan kelompok musik Keroncong Karimoeni ini didasarkan atas dua kata "Kari" yang berarti asal dan "moeni" yang berarti bunyi. Jadi, Keroncong Karimoeni ini memberikan maksud sebagai pemusik yang asal bunyi.
"Karena kami tidak mau dibatasi harus keroncong asli, jadi semua genre musik yang temponya 4/4 pasti bisa kami mainkan dengan musik keroncong," imbuhnya.
Alat musik yang menjadi ciri khas musik keroncong adalah ukulele, karena bunyinya ‘crung-crung’. Orang Jawa mengatakan ukulele/kencrung itu cuk dan yang kecil disebut cak.
Alat musik dikatakan sebagai keroncong apabila musiknya terdiri atas cuk, cak, sello, dan bas.
Selain itu, hanya sebagai pengikat musik saja seperti gitar dan fungsi melidius seperti alat musik saxophone, biola, dan flute.
Tidak terdapat kesulitan dalam memainkan alat musik maupun mengikuti birama dalam keroncong karena semua sudah dilatarbelakangi oleh rasa suka.
Perasaan yang timbul akan menghadirkan naluri sebagai pemusik."Yang penting suka dan ada kemauan pasti akhirnya pintar," pungkasnya. (mg15/mg14/bas)
Editor : Baskoro Septiadi