Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kegiatan tersebut untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia (SDM) dalam pertolongan dan pencarian.
Direktur Sistem Komunikasi Badan Nasional Pencarian Dan Pertolongan (Basarnas), Brigjen TNI Widjang Pranjoto mengatakan, pelatihan untuk meningkatkan skill relawan.
Sehingga ketika ada bencana mereka siap siaga dan bisa cepat melakukan pertolongan pertama.
“Relawan dibekali skill jadi bisa tanggap dan memiliki pengetahuan ketika terjadi bencana,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini jumlah personel hanya sekitar 4.000. Padahal idealnya minimal 10.000 personel. Kekurangan jumlah personel, tidak menjadi alasan untuk terus bertugas. Tentu saja ada kendalanya, namun pasti ada jalan keluarnya.
Apalagi di semua wilayah, sinergitas antara aparat dari Pemda, Kepolisian, TNI, dan juga tim SAR sangat tinggi. “Apalagi ini juga dalam tugas kemanusiaan,” ungkapnya.
Rata-rata kendala yang sering dihadapi di setiap wilayah adalah medan. Seperti di Magelang, pasti ada Gunung Merapi meletus.
Selain itu, kondisi daerah dimana masyarakatnya membuat sumur tapi tidak ada bibir sumur yang menahannya.
“Sehingga sering terjadi, orang serta hewan terjatuh di sumur. Kondisi seperti ini pasti sudah diketahui oleh aparat, petugas ataupun pejabat setempat,” tambahnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono, mengaku mengalami kekurangan anggota. Idealnya setidaknya ada 60 personel.
“Tapi kami hanya ada 25 personel. Kekurangannya kita isi dengan SS (sporting staf), dengan kita gerakkan THL,” ujarnya. (rfk/fth)
Advertisement
Advertisement
Radar SemarangIkuti
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement


