
RADARSEMARANG.ID, Magelang – Hanifah Atha, menjadi salah satu anak muda dari Magelang yang bangga dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Ia juga makin bangga ketika membaca berita, bahwa program JKN telah berjalan satu dekade dan mengantarkan Indonesia mencapai Universal Health Coverage (UHC) atau cakupan kesehatan semesta tercepat di dunia.
Ia menilai, capaian itu menandakan bahwa program JKN yang dikelola secara profesional oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Yang lebih penting adalah program JKN mendapatkan dukungan yang besar dari masyarakat Indonesia. Termasuk dia sekeluarga.
“Ini keren, semua bisa terwujud karena kita (rakyat Indonesia) kompak bergotong-royong untuk keberlanjutan program JKN,” kata Atha—begitu dara manis itu akrab disapa, Senin (30/9/2024).
Atha sendiri telah menjadi peserta JKN sekitar 6 tahun lalu, sejak tahun 2018. Ia dan keluarganya sudah merasakan sendiri manfaat dari program ini. keluarganya tidak pernah mengeluarkan biaya untuk berobat ke fasilitas kesehatan (faskes).
“Yang pasti kalau pakai BPJS itu nggak bayar, semua gratis,” ucapnya.
Berdasarkan dari pengalaman pribadi selama menggunakan kartu JKN untuk berobat, Atha tidak pernah mengalami kendala. Meskipun dirinya dari peserta kelas 3, petugas faskes tetap memberikan pelayanan yang baik dan ramah. “Tidak dibeda-bedakan, semua dilayani dengan sama,” tuturnya.
Fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang dipilih keluarganya adalah dokter praktik keluarga yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Yakni berada di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ia merasa senang karena BPJS Kesehatan telah memperluas kemitraan, sehingga kemudahan menuju akses kesehatan lebih mudah.
“Meskipun di desa, dokter dan staf-stafnya melayani dengan ramah, semua prosesnya sat-set, sehingga kita nggak dibuat lama menunggu,” akunya.
Ia menceritakan salah satu pengalaman berobat memakai JKN. Suatu hari, ia pernah merasakan demam yang hebat. Gejala sakit itu membuatnya kesulitan beraktifitas. Ia merasa lemas dan nafsu makannya menurun. Atha mengatakan jika sang ayah merasa khawatir dengan kondisinya itu. Ia pun langsung dibawa menuju dokter praktik, agar segera mendapatkan penanganan dan obat.
“Saat itu, saya dibawa bapak untuk periksa, karena kondisi saya sudah makin buruk,” tuturnya.
Suhu badan Atha meningkat. Disertai rasa pusing dan nyeri hebat di area kepala. Namun setelah mendapatkan penanganan dari dokter, kondisinya berangsur membaik.
Ia ingat jika mendapatkan penanganan yang detail dari dokter. Dirinya juga mendapatkan waktu konsultasi yang longgar, tidak terkesan buru-buru dan pelayanan kepada pasien BPJS tidak asal-asalan.
“Semua disampaikan secara rinci dan jelas, apa penyebabnya, dan bagaimana pencegahannya. Apa yang disampaikan dokter membuat saya termotivasi untuk menjaga kesehatan,” tuturnya.
Setelah periksa dan menjalani perawatan mandiri di rumah, ia merasakan kondisi kesehatannya membaik. Ia juga rutin mengonsumsi obat-obatan yang telah diresepkan dokter selama sepekan. “Rasa nyeri kepala berangsur hilang, dan saya bisa beraktifitas lagi,” kata gadis kelahiran 2003 itu.
Atha memiliki harapan besar agar program JKN terus berkelanjutan. Menurutnya, program JKN sangat membantu masyarakat. Terutama bagi masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi. “Kalau menurut saya, program ini harus lanjut. Soalnya membantu banget,” ucapnya.
Jika program ini terus berlanjut, Atha yakin banyak masyarakat Indonesia yang saat ini sedang sakit memiliki harapan untuk sembuh dan sehat kembali. Tidak ada pula masyarakat yang kemudian jatuh miskin, karena terbebani biaya pengobatan yang mahal.
Ia juga makin semangat bergotong-royong menjaga keberlanjutan program ini. dirinya berpendapat, salah satu cara gotong-royong yang diwujudkan oleh peserta adalah dengan rutin membayar iuran kepesertaan sebelum jatuh tempo, yakni sebelum tanggal 10 setiap bulannya. (put/web/bas)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

