
RADARSEMARANG.ID - Mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah atau kuliah kini tidak selalu semudah mengirim lamaran dan menunggu panggilan wawancara. Banyak anak muda harus menghadapi persaingan yang semakin ketat, tuntutan pengalaman kerja, hingga persyaratan keterampilan yang terus berubah mengikuti perkembangan dunia industri.
Fenomena tersebut bukan sekadar perasaan para pencari kerja. Data terbaru menunjukkan persoalan ketenagakerjaan anak muda di Indonesia masih cukup serius. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut tingkat pengangguran terbuka (TPT) kelompok usia 15–24 tahun mencapai 17,4 persen. Pada saat yang sama, sebanyak 48 persen perusahaan di Indonesia mengaku kesulitan memperoleh tenaga kerja dengan kompetensi yang memadai.
Kondisi tersebut memunculkan sebuah paradoks. Di satu sisi, anak muda kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun di sisi lain, perusahaan justru mengaku kesulitan menemukan talenta yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik kondisi tersebut?
Bukan Sekadar Kurang Lowongan Kerja
Salah satu persoalan utama adalah skill mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara kemampuan pencari kerja dengan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Kementerian Ketenagakerjaan menilai ketidaksesuaian kompetensi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan tingginya angka pengangguran terdidik di Indonesia.
Perubahan teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), dan otomasi membuat kebutuhan industri bergerak jauh lebih cepat. Akibatnya, keterampilan yang dibutuhkan perusahaan juga terus mengalami perubahan. Memiliki ijazah pun belum tentu cukup untuk membuat seseorang langsung terserap ke dunia kerja.
Perusahaan kini semakin mencari kandidat yang tidak hanya mempunyai latar belakang pendidikan sesuai, tetapi juga mampu menunjukkan keterampilan praktis. Kemampuan beradaptasi, komunikasi, pemecahan masalah, serta penguasaan teknologi menjadi sejumlah kompetensi yang semakin penting dalam proses rekrutmen.
1 Juta Lebih Lulusan Perguruan Tinggi Menganggur
Masalah ini bahkan menyentuh kelompok yang selama ini dianggap mempunyai peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan. Data BPS yang dikutip Kemnaker menunjukkan jumlah pengangguran dengan latar belakang pendidikan perguruan tinggi mencapai 1.033.182 orang per Mei 2026.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi belum otomatis menjadi tiket masuk ke pasar kerja. Perubahan kebutuhan industri menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut. Sejumlah jenis pekerjaan berkembang sangat cepat akibat digitalisasi dan AI, sementara sebagian kurikulum pendidikan belum selalu bergerak dengan kecepatan yang sama.
Ketika Lulusan Bekerja Tidak Sesuai Jurusan
Persoalan lainnya adalah ketidaksesuaian antara pekerjaan dan latar belakang pendidikan. Tidak sedikit lulusan akhirnya bekerja di bidang yang berbeda dari jurusan yang mereka tempuh. Kondisi tersebut dapat terjadi karena pilihan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah lulusan atau karena perusahaan lebih membutuhkan keterampilan tertentu dibandingkan gelar akademik tertentu.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





