Beranda Fashion LGBT Pride Month, Ini Tujuh Ikon LGBT di Dunia Musik Rock

LGBT Pride Month, Ini Tujuh Ikon LGBT di Dunia Musik Rock

0
LGBT Pride Month, Ini Tujuh Ikon LGBT di Dunia Musik Rock

JawaPos.com – Bulan Juni merupakan bulan komemoratif untuk kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Peringatan ini secara tidak resmi ditetapkan sejak insiden ricuh antara penduduk sipil LGBT dengan aparat kepolisian di sebuah bar bernama Stonewall Inn di Greenwich Village, Manhattan, New York, Amerika Serikat pada tahun 1969 silam.

Peristiwa ini akhirnya memantik pergerakan LGBT di belahan bumi lain. Untuk mengenang kejadian tersebut, mereka menyebut bulan Juni sebagai LGBT pride month, atau yang secara harafiah berarti bulan kebanggaan para LGBT.

Meskipun keberadaan kaum LGBT relatif masih sulit diterima dan kerap mendapat diskriminasi, harus diakui bahwa sangat banyak dari mereka yang memberikan sumbangsih berharga untuk dunia dari berbagai bidang.

Dunia musik rock pun mencatat sederet nama tenar dan berpengaruh yang merupakan seorang LGBT. Semesta mengakui bahwa karya-karya yang mereka telurkan layak untuk didengarkan dan didendangkan sepanjang zaman tanpa harus memandang orientasi seksual mereka.

Berikut adalah nama-nama musisi LGBT yang layak disebut dan dikenang di LGBT pride month:

1. Freddie Mercury

Vokalis band rock legendaris Queen bernama asli Farrokh Bulsara ini mungkin adalah sosok LGBT paling agung di dunia musik. Status Freddie sebagai seorang gay dan biseksual adalah sebuah rahasia umum yang tak pernah luput dari pembahasan mengenai Queen. Kehidupan Freddie sebagai LGBT pernah digambarkan dengan sangat apik dan lugas oleh aktor Rami Malek di film biopik fenomenal Bohemian Rhapsody.

2. Elton John

Pelantun Candle in The Wind 1997 ini tentunya juga merupakan sosok LGBT paling mencolok di dunia musik dengan gayanya yang sangat flamboyan. Meski pernah menikah dua kali dengan wanita, John akhirnya mengakui bahwa ia lebih nyaman menjadi seorang gay. Tahun 2014, John menikah dengan pasangannya setelah Inggris melegalkan pernikahan sesama jenis.

3. Janis Joplin

Tidak banyak yang mengetahui bahwa ratu psychedelic blues ini ternyata juga seorang LGBT. Kehidupan pribadi Janis Joplin memang kurang terdokumentasi dengan baik karena ia keburu tutup usia dan resmi bergabung dengan The 27 Club pada 4 Oktober 1970. Beberapa waktu setelah kematiannya, muncul sejumlah pengakuan dari para wanita yang mengaku pernah menjalin hubungan dengan Joplin. Salah satu nama yang paling tenar dan santer dibicarakan adalah Peggy Caserta.

4. David Bowie

Di kalangan komunitas LGBT, David Bowie bisa dikatakan sebagai ikon yang membuat kaum gay bisa lebih bebas berekspresi dalam berbusana tanpa perlu khawatir mendapat celaan dari publik. Bowie secara resmi mengumumkan kepada publik bahwa ia adalah seorang biseksual pada 1972, bersamaan dengan meledaknya single Ziggy Stardust. Mantan istri Bowie, Angela Bowie pernah menyebutkan bahwa ia menduga bekas suaminya itu pernah menjalin hubungan spesial dengan vokalis Rolling Stones, Mick Jagger.

5. Joan Jett

Mencuat ke publik bersama Runaways sebelum memutuskan membentuk Joan Jett & The Blackhearts dan mempopulerkan lagu I Love Rock ‘n’ Roll, Joan Jett memang santer dikabarkan sebagai seorang LGBT. Meski tidak pernah mengakui, ia juga tidak membantah isu tersebut. Kebenaran tersebut sedikit terungkap dari mulut Lita Ford, mantan rekan Jett di Runaways. Ford menuturkan bahwa salah satu alasannya meninggalkan Runaways adalah lantaran para personel lainnya, termasuk Jett, adalah seorang lesbian.

6. Rob Halford

Frontman Judas Priest ini tidak diragukan lagi merupakan ikon paling penting di khasanah heavy metal dunia. Ikut membentuk Judas Priest pada 1969, Halford yang juga berjuluk Metal God itu akhirnya mengaku ke publik bahwa ia seorang gay pada tahun 1990-an. Pengakuan tersebut, menurut Halford, adalah salah satu hal yang paling membuat hatinya lega dan tenang.

7. Billy Joe Armstrong

Gitaris dan vokalis Green Day ini terang-terangan mengakui dirinya sebagai seorang biseksual di tahun 1995. Armstrong tidak malu mengakuinya karena ia berpendapat bahwa menjadi seorang biseksual bukanlah hal tabu atau menjijikkan, dan publik tetap harus menerima eksistensi mereka dengan derajat yang sama.