alexametrics

Pisau itu Alat untuk Membantu Manusia, Bukan Senjata

Indonesian Blades Chapter Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Indonesian Blades (IB) Chapter Semarang atau Forum Pisau Indonesia (Forpis) adalah komunitas pecinta pisau. Mereka tak sekadar mengoleksi pisau tetapi juga berkegiatan sosial dan edukasi soal pisau pada masyarakat.

Berawal dari obrolan situs forum komunitas maya, tujuh pemuda Semarang sepakat mendirikan Indonesian Blades (IB) Chapter Semarang atau Forum Pisau Indonesia (Forpis. Mereka adalah (alm) Auvi Ruddyard yang merupakan ketua pertama, kemudian Swidya Usman Ismail, Reza Fahlevi, Dion Prayudha,Sriyanto, dan Ari Kurniadi, Yohannes Utomo.

Dari obrolan dunia maya itu, akhirnya terjadi kopi darat (kopdar) kecil, kemudian dikusi grup Whatsapp, dan ikuti gathering nasional. Anggotanya juga beragam profesi dengan rentang usia 20-67 tahun. Ada karyawan swasta, pengusaha, mahasiswa, sopir ojek, tukang potong rambut, jagal, barista, PNS.

Secara nasional, organisasi tersebut berdiri 5 Juni 2010. Sedangkan IB Chapter Semarang pertama kali berdiri 13 April 2013. Saat ini ketua dijabat Aditya Lazuardi H, dibantu Sainan Sanjaya, Yohannes Utomo, Silhe Nugroho, Ditto S Hastardi, Putri Rizki Lestari. Kemudian Hermawan Wijaya, Markus Yulianto, Bangkit Fathun Niam, Koo Peng Hoo, Yudha Purnanto, Fachrudin Adi P, Edwin Sanjaya dan Alexander Handoyo.

“Sekarang kumpul paling sebulan sekali, karena covid tidak aktif seperti dulu lagi. Base camp kami di Jalan Indrapura nomor 1, Semarang, belakang Vina House,” kata Ketua IB Chapter Semarang Aditya Lazuardi H kepada Radar Semarang.

Aditya menjelaskan banyak keuntungan bisa bergabung dengan organisasi ini. Salah satunya memupuk rasa persaudaraan dan mengasah hobi bersama. Kemudian bisa edukasi penggunaan pisau yang baik dan benar, bakti sosial dan kerja bakti. Termasuk kunjungan ke pandai pisau tradisional, dan forum group diskusi (FGD) seputar pisau.

Baca juga:  Pembacokan Dipicu Dendam Lama

“Anggota kami di grup Facebook ada 117 anggota. Cuma anggota yang aktif 58 orang. Jenis-jenis pisau yang dimiliki anggota kami juga beragam. Mulai pisau lokal yang ada di Indonesia. Ada juga pisau pabrikan tapi dari luar, ada dari China, Amerika, Swedia, dan Jepang, biasanya kami impor dahulu,” jelasnya.

Organisasi ini memiliki slogan unik. “It’s a knives thing, u wouldn’t understand”. Artinya, pisau itu bukan senjata, melainkan alat.

“Dalam organisasi IB ini, kami ingin mengembalikan fungsi pisau sesuai kodratnya. Dimana peradaban manusia zaman dulu pisau dari batu dan tulang. Padahal manusia dari lahir juga sudah bawa pisau, seperti halnya gigi. Jadi kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa pisau itu harus berfungsi sebagai alat untuk membantu kehidupan manusia, bukan malah dijadikan senjata,” bebernya.

Baca juga:  Geger! Warga Pulutan Salatiga Temukan Pria Gantung Diri di Kebun Belakang Masjid

Harga pisau koleksi setiap anggota juga cukup mengejutkan. Dari harga Rp 100 ribu hingga Rp 25 jutaan. Hanya saja kebanyakan dijadikan koleksi pribadi anggota. Bahkan dari beragam pisau juga ada yang dicetak khusus, maupun edisi terbatas. Seperti pisau milik Aditya, yang khusus buatan Setunggal Knives, Jombang, Jawa Timur, dengan jenis serial number Black Dragon 01, bahkan ia secara khusus memiliki sertifikat langsung dari pisau itu.

“Kami biasanya juga pesan ke tukang pandai besi tradisional. Karena anggota kami itu, juga ada pembeli, penjual, pembuat, kolektor, desainer, praktisi, yang semua berhubungan dengan pisau. Termasuk metalurgi dan segala hal yang berkaitan pisau,” jelasnya.

Beberapa kegiatan yang pernah dilakukan adalah latihan lempar pisau dan chopping competition, bhakti sosial, pameran sekaligus edukasi dan banyak lagi. Wakil IB Chapter Semarang Sainan Sanjaya juga secara khusus pernah menjadi perwakilan peserta dalam kegiatan ASEAN Cutting Competition yang diadakan di Malaysia, Maret 2017.

“Bagi pemula kami menyarankan untuk melatih fisik dan mental terlebih dahulu, kemudian belajar ketepatan presisi dalam membidik target. Mempelajari geometri pisau, termasuk karakter masing-masing pisau yang akan digunakan,”sebutnya.

Ketua Bidang Media Sosial IB Chapter Semarang Koo Peng Hoo, menambahkan untuk masyarakat yang ingin bergabung cukup mendaftarkan diri, menyerahkan biodata, sedikit interview mengenai tujuan bergabung dan memenuhi kewajiban anggota. Pihaknya, juga membuka pertemanan terbuka di grup Facebook, sehingga siapapun orangnya bisa bergabung.

Baca juga:  Terbentuk dari Tongkrongan, Magelang Archery Club Mulai Lahirkan Atlet Berprestasi

“Syarat utama, KTP domisili wilayah chapter Semarang, kami ada 7 daerah. Mulai Pekalongan, Batang, Salatiga, Kendal, Pemalang, Ungaran, dan Kota Semarang. Kalau data sudah masuk, pasti akan kami cek dulu latar belakang, apakah pernah bermasalah dengan hukum atau tidak. Jadi tetap kami lihat dulu profil anggota tersebut, tidak serta merta langsung diterima jadi anggota,”imbuhnya.

Ia juga menyebutkan jenis pisau ada dua. Pertama jenis folding knife atau pisau lipat dan kedua fixed blade atau pisau utuh. Menurutnya, untuk mengenal pisau juga perlu memperhatikan ketebalan. Dikatakannya, jenis survival atau bertahan hidup di alam, untuk tangkai, argonomi, semua tetap melihat fungsi. Sedangkan untuk kompetisi standarnya 8 mili. Kalau hobi tebal dari 2 sampai 5 mili.

“Bagi kami pisau itu merupakan salah satu penemuan tertua di dunia, yang tentu lebih banyak sisi baik daripada buruknya. Untuk itu, mari bersama mempergunakan pisau sebagaimana mestinya, bukan untuk kegiatan buruk atau bahkan kejahatan,”pesannya. (jks/lis)

Berbagai koleksi pisau yang harganya hingga jutaan rupiah. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya