alexametrics

Tak sekadar Bersepeda, Komunitas Diajeng Semarang Punya Misi Khusus

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Gowes yang dilakukan Komunitas Diajeng Semarang (KDS) punya misi khusus. Tak sekadar olahraga bersepeda. Namun gowes sebagai ajang rekreasi, edukasi dan penyadaran akan pentingnya budaya nusantara.

Bermula dari sekumpulan wanita yang resah akan pudarnya cinta budaya nusantara. Mereka bangga berpakaian adat khususnya jarik dan kebaya. Lantas terbentuklah Komunitas Diajeng Semarang (KDS).

Komunitas ini sebagai media untuk mengedukasi dan menyadarkan masyarakat mengenai budaya sendiri. Konsep yang diusung untuk merealisasikan edukasi tersebut jauh dari kata monoton.

Menurut Maya Dewi, founder KDS, agenda yang dimiliki komunitasnya sangat beragam. Tak hanya pertunjukan busana seperti fashion show, flashmob, dan sejenisnya. Diajeng juga menerapkan agenda rutin gowes sebagai sarana edukasi terbarunya.

Baca juga:  Kelurahan Jomblang Gandeng FKPM Selesaikan Masalah Warga

“Komunitas kami dinamis dan selalu mengikuti tren. Saat ini kami menggunakan sepeda sebagai media edukasi mengenai budaya lokal,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dalam kesempatan tersebut, Jeng Maya -sapaan akrabnya- juga menyampaikan bahwa gowes yang dilaksanakan oleh komunitasnya berbeda dengan komunitas gowes pada umumnya. Komunitas ini menjadikan gowes sebagai sarana rekreasi.

Sehingga, terlepas dari tujuannya yaitu menumbuhkan kembali rasa cinta akan pakaian adat jarik dan kebaya. KDS memanfaatkan gowes sebagai media mengenalkan Semarang pada masyarakat lokal maupun nasional bahkan internasional.

“Ketika gowes, kami biasanya membagikan foto-foto lokasi gowes melalui media sosial. Tujuannya supaya orang-orang tahu bahwa Semarang itu indah. Karena selama ini, Semarang terkenal dengan cuaca yang panas dan banjir yang sering terjadi. Sehingga, banyak orang yang memandang Semarang secara negatif,” jelasnya.

Baca juga:  Selundupkan HP dalam Bungkusan Nasi

Rute yang dipilih KDS tak jauh dari kata rekreasi. Seperti Kota Lama, Gunung Pati, Tawang, Maerokoco, dan masih banyak lagi. Selain memperkenalkan lokasi-lokasi indah di Semarang, KDS juga memperkenalkan kuliner khas semarangan melalui unggahan foto di sosial media para anggotanya.

“Kami biasanya juga mem-posting kulineran Semarang. Jadi, saat istirahat gowes itu sekalian menyebarluaskan informasi tentang kuliner-kulinar yang dimiliki Kota Semarang,” tambahnya.

Komunitas ini akan mengadakan gowes bersama dengan tajuk “Gowes Berkebaya” pada Minggu (14/11) mendatang. Uniknya, mereka menerapkan dress code kebaya untuk perempuan dan surjan lurik untuk laki-laki. Rute acara tersebut dimulai dari folder Tawang-Jalan Pemuda-Grand Maerokoco. Puncaknya akan ada pertunjukan fashion show, tembang macapat, dan kebudayaan lainnya.

Baca juga:  Komunitas Paperjam, Pencari Jalan Miring dan Tanjakan

“Dari gowes berkebaya orang-orang akan melihat bahwasanya kebaya tidak sekuno yang orang-orang pikirkan. Setelah gowes selesai kita juga ada pertunjukan  sebagai upaya edukasi budaya bagi masyarakat.”

Maya menambahkan, gowes yang menggunakan dresscode kebaya ini banyak menarik para pecinta gowes maupun pecinta budaya lokal. Namun, demi kenyamanan bersama, gowes dibatasi hingga 200 peserta. Bahkan, nantinya event ini juga akan dihadiri oleh istri wali kota dan Wakil Wali Kota Semarang. (mg10, mg12/lis)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya