alexametrics

Modal Tekad, Gowes Taklukkan Gunung Bromo

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Zipora Ayu Octavia, 32, wanita penggemar gowes ini pernah nekat bersepeda bersama suami ke Gunung Bromo via Probolinggo. Mereka benar-benar belum tahu medan. Cuma berdua. Tidak membawa ban serep atau alat apapun. Hanya modal tekad dan uang buat makan.

Kebahagiaan tak terbendung ketika ia berhasil sampai di puncak dan menyaksikan keindahan kawah Bromo secara langsung. Lelah pun semakin lunas terbayarkan ketika turun menggunakan jip. Ia benar-benar tidak menyangka berhasil menaklukkan semua tanjakan dengan kakinya sendiri.

Damn! Aku bisa nyelesein lho, tanpa berhenti buat mengistirahatkan kaki. Berhenti cuma sekali pas makan. Ketika kaki udah mau nyerah, otak masih bilang ‘bisa’. Experience yang nggak bakal bisa dilupain. Thanks God sampe tujuan, lihat kawah Bromo bikin nangis terharu, keren banget,” paparnya.

Ibu dua anak yang juga hobi berenang dan yoga ini pernah bersepeda dengan rute Jogja, Solo, Semarang sejauh 265 km dalam waktu sehari. Itu adalah rute terpanjang yang pernah ia taklukkan. Saat itu, ia tak hanya bersama suami. Namun, bersama beberapa teman juga.

Baca juga:  Paguyuban Club Sepeda Semarang, Gocapan Bikin Semangat

Menurutnya, bersepeda tak banyak hal yang perlu disiapkan. Yang diperlukan hanya sepeda dan piranti-piranti lain seperti helm, lampu, jersey, celana padding, sepatu cleat, handphone, dan tentunya uang jajan.

“Tergantung jaraknya kalo ini. Tapi yang pasti harus dipake itu, helm ya buat keamanan. Tentu aja butuh sepeda juga, lampu juga penting banget, selebihnya jersey, celana padding, sepatu cleat itu menambah kenyamanan, juga butuh hp dan uang buat beli jajan atau makan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan kepada penyepeda agar menggunakan “gelang kecemasan”. Di gelang itu nantinya ada data diri kita, golongan darah, dan nomor yang bisa dihubungi ketika perlu tindakan darurat. “Ini penting banget, amit-amit, kalo pas ada apa-apa di jalan dan kita lagi gowes sendirian atau terpencar dari kelompok,” katanya.

Baca juga:  Kerja Bareng, Gowes Bareng

Ayu juga menceritakan suka dukanya bergowes ria selama ini. Menurutnya, sukanya adalah bisa ke tempat-tempat jauh sambil olahraga. “Sebelumnya, saya pelari hobi. Kalau lari kan nggak mungkin bisa jauh-jauh banget. Kalau sepedaan bisa ke Pekalongan kulineran terus pulang lagi. Kalau duka sih, paling kalau ban bocor dan pas nggak bawa cadangan ban aja sih,” paparnya.

Baginya, bersepeda merupakan salah satu caranya untuk menghibur orang. Konten-konten gowes dan kegiatan kesehariannya kerap ia unggah di akun media sosial pribadi dan channel youtube milik suaminya, Dani Chika.

Suara khas dan penjelasannya yang menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Jawa menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat Youtube. Gaya bicara yang santai, mudah dipahami, dan kadang juga lucu telah banyak menghibur orang, termasuk melahirkan rasa rindu kepada Semarang oleh mereka para perantau. Cerita gowes terjauhnya juga ia bagikan di channel youtube suaminya dengan judul “Gowes Terjauh Kami”.

Baca juga:  Cedera Tulang Hasta karena Kecelakan Sepeda, Gubernur Ganjar Jalani Operasi di RSUP dr. Kariadi

“Awalnya nggak ada motivasi apa-apa. Tapi, makin ke sini, motivasiku bisa bikin orang bahagia. Karena, saya liat respon viewer dari channel youtube milik suami. Pada suka ngeliat aku ngoceh pake bahasa Jawa. Contohnya, ada orang asal Semarang tapi merantau, jadi kangen Semarang. Sekarang, motivasiku kalau bisa sih membuat semakin banyak orang bahagia,” tuturnya.

Selain membuat orang bahagia melalui unggahan-unggahannya, moment bersepeda juga menjadi quality time bersama suaminya. (cr9/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya