alexametrics

Bosan di Rumah, Bersepeda Sendiri Ratusan Kilometer

Artikel Lain

RADRASEMARANG.ID – Didera kebosanan saat wabah corona membuat Hermawan Widhiyanto menemukan hobi baru. Yaitu bersepeda hingga ratusan kilometer seorang diri (gowes solo).

Laki-laki kelahiran Semarang, 27 Oktober itu pernah gowes sendirian hingga Pekalongan, Jogjakarta, Banjarnegara, Dieng, Kendal. Bahkan pernah memutari Gunung Ungaran.

Founder Hawe Group ini memilih hobi bersepeda lantaran banyak jadwal bisnis travelnya yang tertunda sejak pandemi Covid-19 datang. Sebagai travel organizer, ia jenuh hanya berdiam diri di rumah saja. Hal itu yang membuatnya memilih hobi bersepeda agar tetap bisa menikmati keindahan alam dan juga menyehatkan badan.

Wawan, sapaan akrabnya, juga mengaku lebih memilih gowes solo lantaran tidak ada orang yang mau bersepeda dengan jarak yang begitu jauh. “Alasan memilih solo itu sebenarnya simpel. Ya karena nggak ada yang mau,” ungkap lajang 35 tahun itu.

Baca juga:  Tantangan Rute Long Ride Bikin Ketagihan

Jarak terjauh yang pernah ditempuhnya adalah 250 Kilometer. Jarak pergi-pulang dari Semarang-Pekalongan. Itu membutuhkan waktu 6-8 jam perjalanan dengan sepeda lipatnya.

Meski lebih menyukai gowes solo, Wawan juga tergabung dalam komunitas bersepeda seperti Photocycle dan Komsantun (Komunitas Sepeda Santun) Semarang.

Sebelum bersepeda, biasanya Wawan sarapan dengan satu buah pisang. Jika jarak yang akan ditempuh tergolong jauh, ia minum kopi pahit guna menambah stamina dalam perjalanan. Ia juga tak lupa membawa ban cadangan dan set kunci cadangan.

Wawan biasanya memulai bersepeda selepas subuh. Setiap hari minimal bersepeda sejauh 25-30 kilometer. Sebelum memulai perjalanan ia juga memastikan situasi dan kondisi jalan yang akan dilalui. “Jalurnya di lihat dulu, lewat jalan raya atau jalan kecil yang sepi. Jika tidak membawa bekal minuman pastikan jalan yang dilalui itu ada minimarket atau warung yang bisa dijadikan tempat istirahat. Pokoknya lihat kondisi dan situasi rute itu sangat penting,” ujarnya.

Baca juga:  Kurangi Polusi Udara sambil Bergaya

Hal yang paling membuatnya geram pada sesama pesepeda, terkadang ada pesepeda yang tidak taat peraturan jalan. Menerobos begitu saja ketika lampu lalu lintas menyala merah. Hal itu membuat pengendara bermotor yang lain kesal dan membahayakan diri sendiri.

“Jangan merasa sebagai anak emas karena kendaraan yang dinaiki tidak bermesin. Tetap jaga kesopanan saat berkendara kan banyak pengguna jalan lain juga. Dan keselamatan itu nomor satu,” Imbuhnya.

Tak jarang Wawan menghadapi hambatan dalam perjalanannya. Ia mengalami ban bocor saat bersepeda di Semarang-Jepara dan kebetulan tidak membawa ban cadangan. Juga diguyur hujan lebat sehingga perjalananan harus tertunda hingga butuh waktu lama untuk sampai ke rumah. Meski begitu ia tak pernah bosan atau jenuh karena menurutnya bersepeda sudah menjadi salah satu bagian dari hidupnya. (mg5/mg8/ton)

Baca juga:  Gowes dan Ngaji, Sehatkan Jasmani Rohani

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya