alexametrics

Pantang Terobos Lampu Merah, Senang Nanjak Bisa Dekat dengan Alam

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Komunitas Noris Owner Magelang mulai gemar menjajal rute-rute terjal. Tak sekadar mencari tantangan, namun ingin lebih dekat dengan alam. Mereka juga patuh pada rambu lalu lintas. Ingin menunjukkan sebagai pesepeda yang santun di jalan.

Carwin Deviantoro dikenal sebagai pendiri komunitas sepeda dan ketua Noris Owner Magelang. Cerita bermula dari rasa kapok yang terus menghantui. Carwin merekam aksi downhill temannya. Pendaratan yang kurang mulus, membuat sohib dalam satu komunitas bersepeda ekstrwm itu cedera. “Tangannya patah,” kata dia dengan intonasi melemah.

Ia terpukul. Trauma. Komunitasnya vakum. Justru anggota yang mengalami langsung kejadian itu, sudah kembali main sepeda ngeri. Mentalnya teruji. “Kita-kita yang trauma mahalahan, hahaha,” kenangnya sambil terkekeh.

Butuh waktu panjang untuk bangkit. Ada yang tiga bulan, empat bulan. Bisa dibilang, ia paling lama. “Saya delapan bulan kemudian baru berani main sepeda,” tuturnya dengan mesam-mesem.

Sebelum melancarkan niatan itu, pemuda 32 tahun itu curhat dengan anggota komunitas downhill. Menyampaikan keinginannya bersepeda lagi. Tapi yang  nyantai. Yang bisa melihat pemandangan menarik. Bermanfaat untuk olahraga. Tapi minim risiko. Ketemu yang cocok dengan ekspektasinya. Sepeda lipat (seli), Pasific Noris. Dia pun inden ke salah satu toko di Kota Getuk.

Baca juga:  Komunitas Sepeda Federal Demak Praktikkan Gotong Royong saat Gowes Bareng

Bisa dibilang, Carwin pemilik Noris pertama di Magelang. Disusul dua temannya. Iseng-iseng ngumpul dan bikin whatsapp group (WAG). “Masih ingat banget, kita bikin grup di WA tanggal 17 November 2019. Isinya cuma bertiga. Saya, Dedek, sama Rio,” ujarnya ketawa.

Pada 19 November, komunitas Noris Owner Magelang diresmikan. Mulai banyak pula anggotanya, 10-15 orang. Meski saat itu belum diagendakan kopi darat (kopdar). “Kita itu baru mau on fire. Malah diantem pandemi,” tuturnya. “Oh ya, kopdar pertama itu 8 Maret, cuma empat orang yang datang. Kalau sekarang, anggota kami ada sekitar 86 orang,” imbuhnya.

Belum cukup eksis  “di permukaan”, komunitas ini merancang agenda mulia. Bagi takjil di saat bulan Ramadan, dan mengumpulkan donasi untuk disalurkan ke panti asuhan. Juga bagi-bagi masker. Semua sudah terlaksana.

Pemilik Noris Gen 1, ring 20 inci ini juga mengagendakan gowes bareng (gobar) dua minggu sekali. Di luar jadwal itu, anggota komunitas boleh gowes mandiri.

Baca juga:  Bersepeda, Foto dan Mengenal Sejarah

Diakui, sebagian besar anggota Noris adalah pemula atau newbie. Rute awal gobar masih landai. “Takutnya kalau langsung dikasih rute berat, pada kabur,” ucapnya.

Walau sesekali, menjajal trek menanjak. Hanya diikuti beberapa anggota saja. Seperti tujuan di Desa Kapuhan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Dalam waktu dekat, gobar akan dilaksanakan di sabo dam Nglumut, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. “Makin ke sini, makin seneng rute-rute nanjak. dan melewati alam,” ucapnya.

Bagi Carwin, semua rute menarik untuk dicoba. Meski rute terjal lebih menantang. “Kalau sudah bisa melewati rute itu, terus bisa lihat alam dari ketinggian, ini rapor buat saya,” ungkapnya ekspresif.

Komunitas Noris Owner Magelang juga punya misi tidak hanya sebagai wadah pecinta Noris berkumpul. Lebih dari itu sebagai teman, dan keluarga baru. Segala bentuk perhatian ditumpahkan. “Kalau mau gobar, saya sudah menganjurkan teman-teman tidur awal, biar fit, dan paginya jangan lupa sarapan. Karena kalau kurang tidur itu ngaruh banget. Walaupun saya ini sulitnya bukan main tidur awal, maklum insomnia saya berat, hahaha,” akunya sambil menggebrak-gebrak meja dengan gemas.

Baca juga:  Rem Blong, Truk Hajar Truk di Jalan Ahmad Yani Magelang

Di jalan, komunitas menyiapkan alat komunikasi yang tidak mengandalkan sinyal. Handy talky (HT). Agar dalam kondisi darurat, komunikasi tidak terputus. Selain itu, bawa kunci spare part, pompa, juga ban cadangan.

Andy Pranantyo, penasihat komunitas menambahkan, Noris Owner Magelang juga ingin mengampanyekan bersepeda yang santun. Pantang menguasai jalan, apalagi menerobos lampu merah. Atau guyonan sambil mengayuh pedal di jalan ramai. No way.

Nggak boleh memenuhi jalan, maksimal dua orang kiri-kanan, dengan posisi zig-zag. Ini juga meminimalisasi kecelakan. Kalau di depan tiba-tiba bannya kempes, yang belakang nggak langsung nabrak,” jelasnya sambil mempraktikkan dengan kedua telapak tangannya.

Kesetiaan di dalam komunitas juga patut dibangun. Ada istilah kewer. Sebutan bagi pesepeda yang tertinggal di barisan belakang. “Kita tunggu, sampai regroup lagi,” tutur pria yang beken dengan nama Andy Cheng Cheng Poo itu.

Anggota perempuan, Shinta, 25, mengaku bersemangat bergabung dengan grup ini. Hal yang tidak terlupakan saat ikut gobar pertama, di Balkondes Ngadiharjo, kawasan Borobudur. Dalam perjalanan pulang, hujan abu tiba-tiba menyelimuti Magelang. Gunung Merapi sedang “batuk” ringan. (put/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya