alexametrics

Komunitas Paperjam, Pencari Jalan Miring dan Tanjakan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bagi Komunitas Paperjam, jalan miring memiliki tantangan untuk ditaklukkan. Anggota komunitas ini suka menjelajah jalanan bergelombang dan pegunungan. Tak jarang harus membawa peralatan camping demi mengeksplor pegunungan dan jalanan yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya.

Jalanan miring, gunung-gunung yang menjulang, menjadi daya tarik tersendiri bagi Komunitas Paperjam. Komunitas yang didirikan oleh Himawan Septrianto ini memang hampir tak pernah bersepeda di jalanan datar.

“Kalau jalanan datar tuh gak menarik, gak ada tantangannya,” ujar Himawan Septrianto kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Makanya, anggota Paperjam lebih suka menjelajah jalanan bergelombang dan pegunungan. “Kami suka mengeksplor tempat baru. Kadang juga membawa perlengkapan untuk camping, seperti kompor dan sebagainya,” ujar Omar, salah satu anggota Paperjam.

Perjalanannya tak hanya di Semarang dan sekitarnya. Mereka pernah menaklukkan Gunung Lawu dan Dieng. Pernah juga ke Kediri dan Pacitan menggunakan sepeda tanpa bantuan alat transportasi lain. Mereka juga pernah menjelajah Bromo, meski dalam perjalanannya harus menaiki kereta terlebih dahulu. “Kalau yang full pakai sepeda itu, saat dari Semarang ke Kediri,” jelas Wawan.

Baca juga:  North Coast, Cara Tendbir Menaklukan ‘Neraka’ Pantura

Awal mula berdirinya komunitas ini tak begitu direncanakan. Wawan-sapaan akrab Himawan Septrianto- Bersama teman-temannya, kebetulan memiliki hobi yang sama yaitu bersepeda di tempat yang masih asri dengan pemandangan yang indah, udara sejuk tanpa polusi, dan jauh dari keramaian. Sebab minat yang sama itulah, komunitas ini hadir.

“Jadi awalnya iseng karena kami memiliki minat yang sama. Ingin sepedaan di tempat miring, yang banyak tanjakan dan yang masih asri pepohonannya. Maka terbentuklah Paperjam ini,” kata Omar menambahkan.

Nama Paperjam sendiri, timpal Wawan, terinspirasi dari kontur jalanan Kota Semarang yang kebanyakan naik turun, banyak tanjakan dan turunan. Akhirnya dikasih nama Komunitas Paperjam.

Untuk masuk ke komunitas ini tak sulit, tak ada syarat jenis sepeda yang harus dipakai. Intinhya asalkan bisa dipakai untuk menanjak. Siapapun bisa bergabung asal memiliki ketertarikan yang sama, yaitu menaklukan jalanan miring dan menjelajah tempat baru. Oleh sebab itu orang yang baru bergabung, dipantau dulu kemampuannya dalam menaklukkan tanjakan. “Kalau ada anggota baru, kami uji kemampuannya saat naik tanjakan. Kalau bisa, nanti dapet kaos, bisa masuk. Tetapi nggak dipaksa, lho ya,” ujar Wawan dengan sedikit bergurau.

Baca juga:  Tantangan Rute Long Ride Bikin Ketagihan

Komunitas yang sudah berumur lima tahun ini, tetap mengutamakan keselamatan anggotanya. Sebab, mereka tidak berfokus kepada kecepatan, melainkan kesenangan dan ketenangan. Terpenting menikmati perjalanan dan pemandangan yang disuguhkan tanpa harus memikirkan siapa yang sampai duluan. Oleh sebab itu, di komunitas ini tidak pernah ada kecelakaan berat, maksimal hanya terpeleset sedikit dan mengalami luka ringan. “Kami menghindari rute yang terlalu bahaya atau tuntun sepedanya kalau ada turunan yang terlalu curam. Safety itu yang utama,” tegas Wawan.

Selama pandemi, ada standar keamanannya sendiri. Ada pembatasan maksimal 20 orang setiap touring. Bersepeda pun harus menjaga jarak satu sama lain dan tidak bersebelahan. Meski belakangan bersepeda menjadi tren dan banyak pesepeda baru, mereka tak merasa terganggu karena jalur yang ditempuh berbeda. “Pesepeda baru biasanya bersepeda di kota. Kami di pegunungan. Jadi jarang ketemu kami,” jelas Omar menimpali. (mg1/ida)

Baca juga:  Hibah Tempat Ibadah dan Pendidikan Agama Rp 6 M

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya