alexametrics

Kurangi Polusi Udara sambil Bergaya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Tren bersepeda kembali ramai di kala pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Tak sekadar menjaga kebugaran, tapi sekaligus bergaya. Mulai dari meng-upgrade sepeda dengan part merk kenamaan hingga memodifnya secara custom.

Demam sepeda juga terjadi di Kota Lumpia. Hampir saban hari, jalan-jalan protokol selalu penuh dengan pesepeda. Jenisnya pun bermacam-macam. Mulai dari sepeda lipat (folding bike), sepeda balap, sepeda gunung (MTB), dan satu lagi sepeda lowrider.

Bagi sebagian orang, jenis sepeda yang terakhir tadi memang tidak banyak yang tahu. Bisa dibilang, munculnya sepeda lowrider ini di era 2000-an. Sebelum muncul di Kota Semarang, lowrider memang sudah booming di beberapa kota besar. Seperti Jakarta, Bandung, Denpasar.

Baca juga:  Tambah Wastafel di TIK dan Simpang Lima

Di Kota Semarang sendiri sepeda ini mulai digemari anak muda pada 2010 awal. Bahkan setelah itu muncul beberapa komunitas sepeda custom ini. Salahsatunya Komunitas Lowrider Semarang (KLS).

Komunitas yang berdiri sejak 16 November 2014 ini sampai sekarang masih memiliki member yang setia. Jumlahnya 50 orang.

Ketua Komunitas Lowrider Semarang Moh Faqih menceritakan, awal mula terbentuk setelah sesama penyuka lowrider tongkrong bareng dan memiliki visi yang sama.

Salah satu pendiri meng-upload mengenai sepeda custom tersebut dan mendapat respon cukup bagus. “Visinya ya mengkampanyekan gerakan bersepeda mengurangi polusi udara,” ujar Faqih yang mengaku aktif mengkampanyekan visi tersebut.

Anggota KLS kerap tampil di Car Free Day (CFD). Tentunya hal itu dilakukan sebelum munculnya pandemi Covid – 19. Selain olahraga dan bergaya, tujuannya mengenalkan lowrider ke masyarakat luas.

Baca juga:  Pimpinan dan Anggota DPRD Jateng Jalani Pemeriksaan Kesehatan

Mereka juga sering mengadakan kegiatan gowes bareng berkeliling Kota Semarang. “Dalam setiap acara itu, kami juga mengajak masyarakat untuk mencoba sepeda ini,” ujarnya.

Komunitasnya bersifat terbuka. Siapa pun boleh bergabung. Bahkan tidak memiliki sepeda juga boleh bergabung. “Dibentuknya komunitas ini juga untuk mewadai kreativitas anak-anak muda Kota Semarang,” terangnya.

Sementara itu, salah satu anggota KLS, Yuli Sofiana mengaku sudah tiga tahun bergabung.

Menurutnya, KLS memiliki keunikan tersendiri sehingga menarik minatnya untuk bergabung.“Sepedanya lucu, beda dengan komunitas sepeda lainnya. Selain itu, persaudaraan di komunitas ini juga terjalin sangat erat, walau berbeda background pendidikan, sosial dan usia,” terangnya. (ewb/zal/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya