alexametrics

Drone Racing, Lebih Seru dan Menantang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bermain Tiny Whoop memang memiliki keasyikan tersendiri. Di Kota Lunpia, sebenarnya juga sudah ada komunitas permainan ini. Salah satu komunitas yang masih eksis yaitu 024 FPV.

Miftahun Najeh, 25, motor dari komunitas tersebut mengatakan permainan ini di Kota Semarang masih terbilang segmented. Artinya belum begitu banyak yang tahu dan tertarik.

“Tidak seramai di Jakarta ataupun Bandung,” kata Miftah kemarin. Di komunitasnya yang aktif hanya 20 orang. Mereka kerap kopi darat (kopdar) dan menjajal drone racing di base camp-nya, di Akpol.

“Sebenarnya semua berawal dari drone aerial atau yang biasanya pakai drone buat foto dan video saja,” ujarnya. Setelah mendalami dunia drone sejak 2016 lalu ia mulai tertarik untuk menjajal Tiny Whoop atau drone racing. “Ternyata benar, lebih seru dan tantangannya justru lebih banyak,” ujarnya.

Baca juga:  Semarang Jadi Kota Mahasiswa Terbaik

Bahkan ia bersama komunitasnya kerap mengikuti turnamen kelas nasional. Beberapa waktu lalu sebelum pandemi Covid-19 dirinya pernah mengikuti turnamen di Jogjakarta. Adapun model permainannya yaitu drone melaju melewati sirkuit yang sudah ditentukan. Untuk joki mengandalkan FC (Flight Control), Electronic Speed Control (ESC) untuk mengontrol laju drone.

Sebenarnya, hobi ini bisa dibilang tidak mengeluarkan budget besar. Dikatakan Miftah untuk pemula drone racing, hanya butuh modal Rp 700 ribu. “Harga segitu biasanya drone pabrikan, namun kalau sudah ‘keracunan’ pastinya memilih yang rakitan sendiri,” katanya.

Untuk membuat drone racing rakitan, lanjutnya, butuh biaya sampai Rp 2,5 juta. Itu masih hanya komponen dasar. Di antaranya power distribution board, FC, ESC, motor, reciver remote, VT gambar, dan kamera. “Baru dapat itu, tetapi kalau mau di-upgrade lagi ya bisa lebih bagus lagi,” katanya.

Baca juga:  Buron Kasus Korupsi Pertamina Tertangkap

Karena di Kota Semarang peminatnya belum sebanyak kota besar lain, untuk mendapatkan spare partnya cukup sulit. Mereka harus pesan via online. “Kalau tukeran onderdil sesama komunitas memang selama ini belum pernah, kalau up grade ya pesan online,” katanya.

Dikatakannya, sejauh ini perhatian Pemkot Semarang dalam komunitas penghobi drone memang cukup baik. “Salah satunya pernah ada turnamen drone racing beberapa waktu lalu,” katanya. Meski begitu, ia tetap berharap peran pemerintah untuk ikut memopulerkan jenis permainan ini. (ewb/lis/bas)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya