alexametrics

Belajar Kesabaran dan Mencintai Alam melalui Makro Fotografi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Fotografi memang banyak jenisnya. Portrait, landscape, human interest, aerial, wildlife, stage, journalism photography dan masih banyak lagi. Termasuk pula makro fotografi. Mungkin bagi yang asing dengan apa itu makro fotografi bisa melihat hasil foto serangga dari jarak dekat. Yang memperlihatkan struktur tubuh, bentuk mata, dan kegiatan objek secara mendetail. Bahkan hingga perbandingan 1:1 dengan objek asli. Itulah hasil dari fotografi makro.

Pendiri Komunitas Makro Semarang, Denny Andhika mengatakan, saat ini semakin banyak orang terutama anak muda yang mulai tertarik menggeluti makro fotografi. Alat yang simple dan cenderung terjangkau lah yang membuat mereka tertarik untuk mencoba. Di Semarang sendiri sudah ada 30 orang yang bergabung di komunitasnya. Secara keseluruhan, anggotanya ada lebih dari 200 orang yang tersebar se-Indonesia.

“Biasanya kita hunting foto tiap Sabtu Minggu di Tinjomoyo atau di BSB Ngaliyan. Di sana banyak objek eksotik yang bisa difoto dengan metode makro,” ujarnya.

Baca juga:  Antisipasi Debu Vulkanik, Lantai Borobudur Ditutup Terpal

Bagi pemula, katanya, tidak perlu khawatir tidak memiliki kamera. Cukup dengan kamera dari handphone, mereka sudah bisa mengambil foto secara makro. Sedangkan bagi yang telah memiliki kamera, mereka hanya perlu membeli lensa makro atau extand loop. Agar dapat melakukan pembesaran yang sempurna.

“Jadi tidak masalah yang tidak punya kamera. Handphone pun bisa. Lagipula saat ini teknologi sudah berkembang dan kamera bawaanya juga sudah bagus,” imbuhnya.

Foto: Denny Andhika For Jawa Pos Radar Semarang

Dijelaskan, ada beberapa jenis aliran yang dapat dipilih dalam menggeluti makro fotografi. Antara lain natural, art, freezing, stage, hingga extreme. Untuk natural sendiri, sang fotografer hanya perlu mengikuti gerak alami dari objek. Sama halnya dengan frezzing. Namun yang membedakan kebanyakan frezzing digunakan untuk memotret objek terbang dengan menunggu momentum. Sementara stage dan art, sang fotografer akan melakukan sedikit sentuhan perubahan seperti memindahkan objek atau menambah elemen penunjang saat editing, agar gambar terlihat lebih dramatis. Dan untuk aliran extreme, sang fotografer akan mengincar foto yang menunjukkan kedetailan sebuah objek. Seperti mata capung atau mata lebah dan sebagainya.

Baca juga:  Enam Hari PPKM Darurat, Mobilitas Masyarakat Turun 19 Persen

“Kalau yang paling umum biasanya alirannya natural. Soalnya kalau frezzing atau extreme tergolong sulit. Karena selain teknik juga harus pinter mencari momentum,” ujarnya.

Meski terkesan sederhana, makro fotografi tetaplah memiliki kesulitan dan tantangan tersendiri. Terutama untuk menunggu momentum. Seorang fotografer makro harus memiliki kesabaran yang tinggi. Dan  pengetahuan dasar mengenai objek yang akan difoto. Pasalnya tiap objek terutama yang hidup pasti memiliki pola dan prilaku tersendiri. Sehingga butuh belajar dan jam terbang tinggi. Agar dapat menentukan momentum kapan waktu yang tepat untuk menjepret objek.

“Ambil contoh lebah. Dia pasti punya ritme terbang. Mereka bisa terbang cepat, berhenti sebentar, hinggap, baru terbang lagi. Nah momentum terbang statis (frezzing) inilah waktu yang tepat untuk kita potret agar menghasilkan gambar yang hidup dan nyata saat ia terbang,” jelasnya.

Baca juga:  Terpesona Abandoned Places

Maka dari itu sering latihan merupakan kunci membuat kemampuan seorang fotografer makro menjadi kian terasah. Karena mereka akan terbiasa dan hafal dengan pola dari objek. Pihaknya pun mengaku bersyukur. Di Kota Semarang memiliki berbagai jenis robber fly. Bahkan saking banyaknya, para fotografer makro asal Sumatra, Kalimantan dan lainnya rela pergi ke Semarang hanya untuk hunting foto. Dan kesempatan tersebut dapat ia gunakan bersama para fotografer asli kota atlas untuk mengasah kemampuan. Dengan sering hunting bersama.

“Yang paling penting  dan harus selalu diingat, jangan pernah membunuh objek hidup dalam fotografi makro. Cukup dibiarkan saja mereka bebas hidup di alam. Kita hanya perlu memfoto tanpa menyakiti. Karena salah satu misi kita adalah mengenalkan alam namun juga tetap menjaga kelestariannya,” pungkasnya. (akm/zal/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya