alexametrics

Kedermawanan Jangan Sampai Salah Sasaran

Oleh : Purnomo

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, DI masa jahiliah, kedermawanan adalah hal yang lumrah dilakukan oleh para pembesar Quraisy. Jangan salah sangka, meski mereka tidak percaya pada akhirat tapi mereka tetap melakukan hal-hal “baik” di masyarakat. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa latar belakang turunnya Surah Al-Maun adalah adanya kebiasaan pembesar Qurasy—yang tidak disepakati namanya—memiliki kebiasaan menyembelih unta tiap pekan untuk dibagi-bagikan tapi tidak mau membagi dagingnya kepada anak yatim yang memintanya.

Perilaku semacam itu disebabkan oleh tidak adanya harapan pada balasan di akhirat. Tanpa adanya iman pada akhirat, orang tentu saja akan berpikir untuk mendapatkan balasan instan dari kebaikannya. Oleh sebab itu, sebagian ahli tafsir menafsirkan kata “ad-din” pada ayat pertama Surah Al-Maun dengan “hari pembalasan” sebagaimana tafsir kata itu pada Surah Al-Fatihah. Pangkal dari amal-amal dengan motivasi dunia semata adalah mendustakan hari pembalasan di akhirat.

Baca juga:  Habib Thoha Gunakan Karomah untuk Usir Penjajah

Ayat ini mengajarkan kita bahwa menjadi dermawan atau melakukan hal baik lainnya tidaklah cukup jika masih berlandaskan motif—meminjam istilah Quraish Shihab—kekinian dan kedisinian. Pembesar kafir Quraish, meskipun berlaku dermawan tapi kedermawanannya ditujukan kepada orang-orang yang dianggap akan memberikan balasan bagi mereka. Itulah sebabnya mereka/ia menolak anak yatim yang meminta bagian. Kedermawanan yang salah sasaran hanyalah kepura-puraan.

Kedermawanan kita hendaknya tidak salah sasaran. Jangan sampai kita bermurah hati membagi kepada yang sebenarnya tidak membutuhkan. Sebagai contoh, orang-orang miskin di lingkungan kita lebih pantas kita beri santunan atau hadiah lebaran daripada tokoh-tokoh masyarakat atau para pejabat. Tidak sepantasnya juga orang-orang kaya kita beri hal-hal yang istimewa, sedangkan kaum papa kita beri sisa seadanya.

Baca juga:  “Kalau Ujungnegoro Makmur, Mriko-Mriko Makmur, Ujungnegoro Aman, Mriko-Mriko yo Aman”

Berlaku dermawan yang salah sasaran adalah hal buruk. Tapi yang lebih buruk dari itu adalah berlaku tidak dermawan. Islam tidak menyukai orang-orang yang merasa menguasai harta sepenuhnya hanya untuk dirinya sendiri. Alquran biasanya menisbatkan kata “harta” kepada orang banyak. Ketika kata “harta” dinisbatkan kepada seseorang (tunggal) biasanya memiliki kecenderungan makna yang negatif. Misalnya, dalam Surah Al-Lail ayat 11 dikatakan, “Hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa.” Pemilik harta yang tidak mau menunaikan hak-hak kaum lemah dari hartanya tidak akan mendapatkan kemanfaatan dari harta itu di akhirat kelak. Bahkan, harta itu akan menjadi beban baginya.

Kepemilikan harta dan sikap dermawan harus sama-sama ditempatkan secara adil. Islam tidak melarang umatnya mengumpulkan harta karena beberapa ibadah juga memerlukan harta. Apa yang Islam larang adalah menahan hak-hak kaum lemah dalam harta yang kita miliki. Oleh karena itu dermawan saja tidak cukup, jika kedermawanan itu salah sasaran atau mengabaikan hak-hak kaum lemah yang seharusnya menerima bagian dari harta yang kita miliki. (*/ida)

Baca juga:  Era Baru Mega Merger Bank Syariah

Dosen Prodi PAI IAIN Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya