alexametrics

Cari Bekal Akhirat, Para Lansia Nyantri Selama Ramadan

Melongok Aktivitas Pondok Sepuh Payaman, Kabupaten Magelang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Aktivitas Pondok Pesantren Sepuh Masjid Agung Payaman, Kabupaten Magelang sempat diliburkan selama pandemi Covid-19. Namun pada Ramadan kali ini sudah dibuka kembali dengan beberapa penyesuaian.

Waktu zuhur sebentar lagi tiba, Miftahudin segera bergegas mengenakan kemeja polos  warna ungu miliknya. Pria 61 tahunini langsung melangkah ke Masjid Agung Payaman, Kabupaten Magelang bersama lansia lainnya.

Selama bulan Ramadan ini, Miftahudin menetap di daerah Payaman, Magelang. Ia menjadi santri di Pondok Sepuh Payaman. Pondok tersebut merupakan tempat belajar agama para lansia. Khususnya di bulan Ramadan. Ketika Ramadan tiba, Pondok Sepuh Payaman dipenuhi lansia dari berbagai daerah.

Siang itu, Miftahudin tampak khidmat mendengarkan pengajian dari salah satu kiai di Pondok Sepuh Payaman. Bapak empat anak ini duduk bersila sambil mencatat materi tentang fikih yang disampaikan. “Sudah delapan Ramadan ini saya di Pondok Sepuh,” kata Miftahudin.

Baginya, menetap di Pondok Sepuh Payaman adalah rutinitas wajib saat bulan Ramadan. Ia meninggalkan kampung halamannya di Dieng, Wonosobo selama 27 hari. Ia akan kembali lagi ke Wonosobo ketika mendekati Lebaran. Diceritakan oleh Miftahudin, ia mulai mengenal Pondok Sepuh Payaman sekitar 2013.

Baca juga:  Beribadah Ramadan di Lapas Magelang, Hidup Justru Lebih Tenang

Ia tahu Pondok Sepuh Payaman melalui televisi. Miftahudin yang saat itu tengah sakit bernazar, jika sembuh akan nyantri di Pondok Sepuh Payaman saat Ramadan. “Dulu itu punggung saya sakit. Nggak bisa kemana-kemana,” tutur Miftahudin sembari memegang punggungnya yang dulu sakit.

Ternyata setelah bernazar, penyakitnya sembuh. Ia pun akhirnya menepati nazarnya itu dengan nyantri di Pondok Sepuh Payaman selama 27 hari saat Ramadan. Miftahudin merasa nyaman tinggal di sana. Selain mengaji, ia juga bisa bertemu dengan para lansia dari berbagai daerah.

Miftahudin merasa senang tinggal di Pondok Sepuh Payaman. Hari-harinya dihabiskan dengan mengaji dan ibadah. Saban Ramadan, ia meninggalkan pekerjaannya di kampung sebagai petani. Ia pasrahkan semua pekerjaan kepada anak-anaknya.

“Setiap tahun itu pasti teringat dengan Pondok Sepuh Payaman. Kalau Ramadan nggak ke sini rasanya ada yang kurang,” jelas Miftahudin.

Baca juga:  Exit Tol Palbapang Bisa Bergeser

Tidak seperti sebelumnya, Ramadan tahun ini Miftahudin harus kos di dekat pondok. Karena bangunan untuk tinggal santri tengah direnovasi. Hal itu tidak mengurangi semangat lansia ini untuk tetap mengaji di Pondok Sepuh Payaman.

Selama 18 hari Ramadan, Miftahudin sudah mengkhatamkan Alquran selama tiga hari. Padahal ketika dulu di rumah dalam satu bulan Ramadan paling hanya satu kali khatam Alquran. “Kalau di rumah dulu itu satu kali khataman saja berat, karena kan kerja juga di ladang haha,” kelakar Miftahudin.

Bagi Miftahudin, mengaji dan beribadah di Pondok Sepuh Payaman adalah bagian untuk bekal ketika meninggal dunia nanti. Terlebih saat ini ia sudah berada di usia senja.

Muhammad Tibyan, salah satu pengurus dan pengajar Pondok Sepuh Payaman menuturkan, pondok tersebut mulai menampung lansia sejak 1980. Diprakarsai oleh salah satu putra almarhum Kiai Siroj Payaman. Lambat laun pengajian akhirnya diambil alih oleh pengurus pondok hingga  Pondok Sepuh Payaman berkembang pesat.

Baca juga:  Garang Melawan Penjajah, Syekh Kramat Jati Dijuluki Singo Barong

Subhanallah kegiatannya tambah semarak. Animo bertambah, sampai  ada yang dari Bali maupun Papua,” kata   pria 66 tahun ini.

Rata-rata usia santri lansia di Pondok Sepuh Payaman berkisar antara 60 sampai 70 tahun. Selama 24 jam, masjid di Pondok Sepuh Payaman selalu ada yang mengaji maupun beribadah. “Kayak di Makkah, masjid terbuka 24 jam haha,” tutur Tibyan sambil tertawa.

Materi agama yang diajarkan di Pondok Sepuh Payaman beragam. Seperti Alquran, fikih, sejarah rasul, serta lainnya. Materi tersebut diharapkan mampu menjadi bekal bagi para lansia jika ajal menjemput.

Untuk menghibur para lansia, Tibyan menyelingi dengan humor ketika mengisi materi agama. Tujuannya agar para lansia di Pondok Sepuh Payaman tidak tegang dan terhibur. “Kayak kemarin saya bilang, kalau sakit berbukalah dengan roti mari. Supaya penyakitnya ikut mari (sembuh) haha,” kelakar Tibyan. (man/aro) 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya