alexametrics

Ajak Remaja Desa Tadarus Alquran Rutin dan Main Rebana Keliling

Pendakwah Muda Berdedikasi Membumikan Islam (7-Bersambung)

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Memiliki tekad berdakwah di kampung kelahiran, jarang dimiliki generasi muda pada umumnya. Namun Muhammad Yusuf justru terpanggil mengajak kaum remaja untuk lebih mengenal nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah, membangun ruang pergaulan yang terarah, dan meningkatkan bekal ilmu agama di masa depan.

Muhammad Yusuf yang mendapat kesempatan menyenyam pendidikan tinggi, merasa memiliki tanggung jawab sosial di kampungnya. Pasalnya, sebagian besar masyarakat di Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo memiliki pendidikan rendah. Sedangkan, anak muda yang memiliki pendidikan tinggi justru status sosialnya semakin berkurang, terlalu sibuk dengan tugas, terlalu sibuk dengan pembelajaran di sekolah, akhirnya merasa tidak memiliki waktu untuk bersosialisasi dengan anak muda lainnya yang notabennya memiliki pendidikan rendah.

Bahkan, ada yang merasa malu karena tidak bisa mengikuti gaya pertemanannya. Fenomenanya, semakin tinggi pendidikan justru membuat lupa dengan tetangga. Kebanyakan pemuda di desanya, semakin tinggi pendidikannya semakin luntur jiwa sosialnya. Bahkan banyak yang apatis terhadap masyarakat dan hanya memikirkan diri sendiri. “Ada sesama saudara sendiri yang sama-sama berpendidikan tinggi, justru kurang akrab,” keluhnya.

Baca juga:  Penghuni Lokalisasi Tegal Panas Rutin Ikut Kajian Keagamaan

Hal ini membuat hatinya terpanggil untuk berbagi ilmu agama dan umum kepada para tetangganya. Dia mengawali dakwahnya dengan berbaur bersama teman seusianya dan di bawahnya. Kemudian mendirikan organisasi, agar teman-teman pelajar maupun non pelajar memiliki ruang untuk belajar hal yang bermanfaat dengan bekal ilmu agama. Sehingga anak muda lintas RT di desanya memiliki ruang untuk saling berkomunikasi membahas banyak hal, salah satunya transformasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah.

“Harus ada perkumpulan untuk usia remaja, sehingga memiliki ideologi yang jelas. Karena saya pernah mencoba hanya sebatas pertemanan biasa, itu kurang efektif. Bahkan bisa dikatakan gagal,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang

Kontrol pergaulan tanpa organisasi, semakin lama semakin sulit dan tidak terkendali. Bahkan bahasannya cenderung kurang bermanfaat. Dengan organisasi, antarteman seusianya bisa saling mengontrol. Karena organisasi memiliki nilai-nilai yang diperjuangkan dan diusung.

Di kampus Universitas Sains Alquran (Unsiq) Wonosobo dia mengikuti organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dia memiliki kakak tingkat yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Mojotengah. Namanya, Muhammad Fiki Jamaluddin.

Baca juga:  Puasa, Musik, dan Eskatologi

Dari situ, dia mencurahkan keluh kesahnya tentang permasalahan anak muda di desanya. Kemudian, dia menyampaikan maksudnya untuk mendirikan organisasi. Fiki menawarkan pembentukan IPNU. Meskipun sebagian besar masyarakat di desanya adalah warga Nahdliyin, tapi Yusuf awalnya tidak mengenal organisasi IPNU.

Dari situ dia mulai belajar mengenal IPNU adalah organisasi pelajarnya NU untuk kalangan pelajar. Dirinya juga merasa cocok, melalui organisasi ini mulai menyampaikan pesan-pesan keagamaan khususnya Aswaja An-Nahdliyah kepada anak-anak muda di desanya. Akhirnya, dia memutuskan untuk membentuk IPNU-IPPNU di Desa Slukatan.

Bermula dari organisasi, dia bisa membuat forum untuk menyampaikan dakwahnya. Hal pertama adalah pendidikan mental. Harapannya, remaja di desanya memiliki mental kuat di masa mendatang. Dia juga sering membuka forum agar para remaja desa menuangkan idenya dan direalisasikan bersama-sama.

Di antaranya, pernah mengadakan lomba 17 Agustus untuk anak-anak SD atau MI, yang meliputi lomba kelereng, congkak, dan egrang. Yang mereka utamakan adalah permainan tradisional agar kebersamaan anak-anak dapat terus terjaga.

Baca juga:  Garang Melawan Penjajah, Syekh Kramat Jati Dijuluki Singo Barong

Dari organisasi pula, dia bisa mengajak kalangan remaja melakukan tadarus Alquran setiap malam Minggu. Kegiatan ini sudah berjalan selama 2,5 tahun. Untuk memecah kebosanan, dia juga membentuk grup rebana sekaligus membangkitkan kesenian di Desa Slukatan.

“Setahun ini, satu minggu tadarus, satu minggu rebana keliling dari musala ke musala lain. Jadi ada selang-selingnya. Biasanya saya menyampaikan pesan-pesan kepada mereka setelah kegiatan usai,” terangnya.

Dengan adanya rebana keliling musala, banyak remaja lain lintas RT yang kemudian mengikuti kegiatan bersama Yusuf. Dakwahnya pun semakin luas di kalangan remaja di desanya.

Selama Ramadan ini, dia juga mengajak para remaja di desanya melakukan kegiatan tarawih keliling untuk meramaikan musala-musala di desanya. Dari situ dia dapat menyampaikan arti penting ibadah di bulan suci Ramadan kepada masyarakat, khususnya kalangan remaja.

Baginya, semakin tinggi pendidikan seseorang, harus bisa bermanfaat kepada orang lain. Sebab, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tanggung jawabnya untuk menyampaikan ilmunya. (din/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya