alexametrics

Puasa, Mudik, Lebaran Menuju Kesolehan Sosial

Oleh : Dr H Mukh Nursikin M.SI

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BULAN suci Ramadan 1443 H dalam hitungan beberapa hari ke depan akan usai. Artinya kita akan berpisah dengan bulan yang mulia, bulan mubarok, dan tentunya kita tidak dapat menjamin apakah dapat berjumpa kembali dengan Ramadan di tahun-tahun yang akan datang. Momentum sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan ini memiliki kemuliaan, keutamaan, dan keberkahan, yang sangat luar biasa, dimana kita harus mengoptimalkan puasa dan ibadah-ibadah lainnya hanya karena Allah SWT (fastabiqul khairat). Demikian ini, dimana kita sebagai hamba tidak berjarak di hadapan Allah Yang Maha Mendengar dan Mengabulkan Doa-Doa.

Dua hal yang membuat orang berpuasa bahagia, 1) ketika waktu berbuka (berlebaran), 2) ketika bertemu dengan Allah SWT, (Al-Hadis). Puasa sebagai sarana pembentukan nilai-nilai karakter muslim yang sarat dengan nilai-nilai pembelajaran dan pemberdayaan umat. Pembelajaran sikap simpatik dan empatik pada golongan fakir miskin dan lainnya, juga momentum pembelajaran umat Islam agar memiliki kedisiplinan yang baik dan tanggung jawab yang tinggi baik kepada dirinya, keluarga dan orang lain yang ada di sekitarnya.

Begitu pada hakekatnya puasa menjadi wasilah/sarana untuk membentuk pribadi-pribadi unggul, pemimpin masa depan yang unggul, karena pemimpin yang unggul, menjadi spirit dalam upaya peningkatan produktivitas kerja, dan menjadikan suri tauladan baik (uswatun hasanah) bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Baca juga:  Ramadan : Saat Paling Tepat untuk Me Time

Dalam tradisi kita, ketika Ramadan akan usai, ada adat yang tidak bisa ditinggalkan yaitu mudik. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik artinya pulang ke kampung halaman. Selama ini, banyak anggapan kalau mudik berasal dari bahasa Jawa. Mudik adalah singkatan dari “mulih dilik” yang memiliki arti pulang sebentar/berkunjung, kalau dalam bahasa agama adalah silaturahim.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan jumlah pemudik pada Lebaran 2022 Masehi ini meningkat menjadi 85,5 juta orang. Angka tersebut didapat dari survei mudik Lebaran 2022 ketiga, yang dilaksanakan Balitbang Kemenhub setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan diperbolehkan mudik Lebaran.

Pertanyaan apa yang menarik dengan lebaran? Lebaran adalah momentum yang dinantikan umat muslim. Lebaran indentik dengan mudik. Mereka akan secara masif memobilisasi diri menuju kampung halamannya. Maka akan terjadi pergerakan massa dalam jumlah relatif besar dari kota-kota besar menuju pelosok kampung di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan lainnya.

Baca juga:  UIN Salatiga Serahkan Puluhan Kambing untuk Guru Ngaji di Temanggung

Ada dua Lebaran dalam Islam, Idul Fitri atau terlahir suci kembali, dan Idul Adha atau hari raya kurban. Idul Fitri adalah hari raya umat Islam setelah melaksanakan puasa di bulan Ramadan. Ke-fitrahan manusia hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang berpuasa selama Ramadan dengan penuh keimanan dan ihtisab (seseorang yang berintrospeksi dan memperbaiki kesalahannya di masa lalu).

Ini garansi yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, bahwa puasa merupakan bulan pelatihan untuk menjadi pribadi unggul. Lebaran adalah starting point untuk memulai hidup penuh kebajikan. Langkah dan strategi baru untuk menciptakan kesalehan individu sekaligus kesalehan sosial. Inilah makna takwa dengan arti sesungguhnya.

Menuju Kesalehan Sosial

Keberkahan dan kemuliaan Ramadan sangat dirasakan umat Islam, hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensional, tidak hanya moral dan spiritual, akan tetapi kepedulian sosial. Dalam ritual puasa tak hanya membentuk kesalehan individu, juga membentuk kesalehan sosial. Terkadang masih banyak ketimpangan antara kesalehan individu dan kesalehan sosial. Masih ada orang yang saleh secara individu, namun kesalehan sosialnya hilang.

Kesalehan individu disebut dengan kesalehan ritual teologis, karena lebih menekankan dan mementingkan pelaksanaan ibadah ritual teologis saja, hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan (habluminallah) dan kepentingan dirinya sendiri.

Baca juga:  Tadarus On The Road, Sampaikan Pesan Perdamaian

Sementara pada saat yang sama tidak memiliki kepekaan sosial (habluminannas), dan terkadang tidak menerapkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan bermasyarakat dan berinteraksi sosial. Kesalehan sosial adalah perilaku yang sangat peduli dengan nilai-nilai yang bersifat sosial. Islam memberikan tuntunan bahwa kesalehan itu merupakan suatu keniscayaan dan harus dimiliki seorang muslim. Kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi dilihat dari output sosialnya.

Islam bukan agama individu, melainkan agama rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin). Agama yang tidak hanya untuk penyembahan dan pengabdian diri pada Allah semata, tetapi menjadi rahmat bagi semesta alam. Implikasi puasa adalah kepedulian sosialnya sangat jelas, diharapkan dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, seseorang akan mampu merasakan kaum dhuafa dan mampu bersimpati terhadap derita orang lain. Selamat datang hari kemenangan. Selamat datang para pemudik. Selamat merayakan Lebaran bersama keluarga tercinta. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 syawal 1443 H. (*/ida)

Dosen Pascasarjana IAIN Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya