alexametrics

Memilih Berdakwah, karena Ingin Bertemu Rasulullah SAW

Pendakwah Muda Berdedikasi Membumikan Islam (6-Bersambung)

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Dakwah merupakan tugas yang diturunkan langsung oleh Allah SWT kepada setiap makhluk ciptaannya. Artinya, berdakwah bukan hanya kewajiban seorang Dai, Ustadz, atau orang-orang yang paham akan agama.

Adalah Habib Hamid Rizal Shahab atau yang lebih di kenal dengan Habib Rizal. Sejatinya keinginannya berdakwah sudah muncul sejak kecil, tetapi ia merasa belum mumpuni melakukan hal tersebut. Ia hanya sering memperhatikan ayahnya yang sering melakukan dakwah.

Tetapi bukan dakwah seperti yang dilakukan oleh pendakwah pada umumnya di sebuah forum pengajian atau kajian keagamaan. Ayahnya sering memberikan nasihat-nasihat kecil kepada tamu yang datang ke rumah.

“Bapak dulu sering ngasih ceramah sederhana kepada tamu-tamu. Itu yang menumbuhkan keinginan saya untuk berdakwah,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Meski Ia tak pernah mengenyam pendidikan pesantren, ia bersekolah formal layaknya anak-anak seusianya dulu. Namun ketika lulus SMA di umurnya yang saat itu masih 17 tahun, ia memutuskan untuk tidak kuliah terlebih dulu dan belajar ke Pondok Pesantren (Ponpes) Al Madinah yang berlokasi di Jalan Cepoko Raya, Gunung Pati, Semarang, milik Habib Umar Al Muthohar.

Dari sinilah keinginannya untuk mengajarkan kebaikan kepada sesama dan alam sekitar semakin tinggi. Hal ini yang menjadi pedoman Habib Rizal dalam berdakwah. “Berpegang pada prinsip hablum minan nas dan hablum minal alam. Insyaallah apapun yang kita lakukan akan berkah,” imbuhnya.

Baca juga:  Ramadan Sebagai Momentum Merajut Kebinekaan

Setelah kurang lebih 2 tahun menimba ilmu di ponpes, tahun 1998 ia kembali melanjutkan studinya yang sempat tertunda. Ia memilih IAIN Walisongo Semarang sebagai tempat mengemban ilmu selanjutnya. Di kampus ia juga aktif memberikan dakwah di forum-forum kajian keislaman.

Dirinya menilai, berdakwah di kampus lebih sulit ketimbang berdakwah di kampung. Sebab orientasi mahasiswa kala itu lebih fokus pada demo, bukan pada dakwah dan memperdalam ilmu tentang Islam. Meski begitu, ia tidak menyerah untuk terus menyebarkan pesan positif melalui ceramah hingga akhir masa kuliahnya.

Ia bersyukur cukup aktif berdakwah di kampus kala itu. Sebab setelah ia menyelesaikan studinya, panggilan untuk berceramah mulai berdatangan. Tugasnya sebagai dai muda kala itu berjalan mulus. “Setelah lulus dari kampus, mulai banyak tawaran untuk berdakwah di kota lain seperti Rembang, Boyolali, Brebes, hingga Yogyakarta,” akunya.

Bertemu dengan Rasullullah Muhammad SAW menjadi tujuan utama dirinya untuk tetap berdakwah. Selain itu menjadi penyelamat kedua orang tua dan umat yang ia beri dakwah atau ceramah. “Tujuan saya berdakwah itu hanya satu, ingin bertemu dengan Kanjeng Nabi Rasullullah Muhammad SAW,” tandasnya.

Dalam menyampaikan materi dakwah, pria asal Semarang ini mengaku selalu berdiskusi dengan para jamaah. Target atau tujuan dari para jamaah akan ia tampung. Setelahnya ia akan menyesuaikan cara berdakwah dan materinya. Sehingga sesuai dengan keinginan masyarakat setempat.

Baca juga:  Sehari Terjual 30 Kg Kolang-Kaling

“Ketika saya berdakwah, biasanya saya tanya ke takmir masjid atau masyarakat setempat, target apa yang ingin dituju oleh mereka ketika mendapatkan dakwah atau datang ke sebuah kajian. Baru nanti saya sesuaikan cara berdakwah dan materinya supaya pas,” katanya.

Habib Umar Muthohar menjadi sosok yang Habib Rizal teladani. Sebab sopan santun dan kesabaran dalam berbagai hal sangat sulit dilakukan oleh murid-muridnya. “Habib Umar itu mashaallah, orangnya sangat sabar. Saya sangat mengagumi beliau sebagai guru saya. Semoga kelak saya bisa seperti beliau dalam mengontrol emosi,” harapnya.

Selain berdakwah secara tatap muka melalui pengajian, Habib Rizal juga aktif ceramah melalui kanal Youtube Elmihrab TV. Materi yang ia sampaikan berkaitan dengan puasa Ramadan hingga kiat-kiat dakwah agar mudah diterima masyarakat.

Pria kelahiran 27 November 1979 ini menjelaskan, suka dukanya menjadi pendakwah khususnya di kampung adalah ketika melihat adanya perubahan yang dialami masyarakat setelah mendapatkan tausiah darinya. Ia menganggap, misi dakwah yang ia bawa berhasil.

“Meskipun perubahannya entah itu satu minggu, bulan, atau entah kapan. Ketika ada perubahan ke arah yang positif, berarti misi dakwah dan materi yang saya sampaikan berhasil,” paparnya.

Baca juga:  Cium Nisan Habib Ahmad Alatas Pengganti Cium Tangan

Namun dukanya ketika masyarakat tidak bisa menerima misi dan materi dakwah yang ia bawa. Ketika dakwah sungguh-sungguh dianggap sebagai lelucon dan tidak ada perubahan.

“Saya tidak tahu berubah atau tidak. Tapi ketika dari pengamatan kan kelihatan, oh ini tidak berubah. Mau didakwahi bagaimanapun, tetap seperti ini. Kalau begitu, saya merasa sedih,” sambungnya.

Ketika disinggung tentang berdakwah di area lokalisasi atau tempat hiburan, Habib Ruzal mengaku belum pernah. Namun jika diberi kesempatan dan memang diundang ke tempat seperti itu sangatlah siap. “Belum pernah saya dakwah ke tempat seperti itu. Tapi jika diberi kesempatan saya akan melakukannya secara maksimal. Tapi saya khawatir kalau malah tertarik ke dunia mereka,” jawabnya sembari tertawa.

Sangat disayangkan pada sekitar Juli tahun 2021, Habib Rizal sempat mengalami kendala kesehatan badan. Aktivitas dakwahnya sempat berhenti. “Saat itu saya fokus pada pengobatan. Ini saja baru bisa nyaman berbicara mulai Januari lalu,” ungkapnya.

Beruntungnya di bulan Ramadan ini ia masih mampu berdakwah meski tak sebanyak dulu ketika sehat. Namun ia yakin dan percaya misi dakwah masih harus ia sampaikan dalam keadaan apapun.

“Saya sudah mulai bisa dakwah lagi pada bulan ini. Sebulan paling tidak, empat kali. Saya harus menjalankan apa yang sudah diperintahkan, dalam keadaan apapun,” pungkasnya. (cr6/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya