alexametrics

Belum Pernah Ceramah, Nekat Ikuti Audisi Dakwah Televisi

Pendakwah Muda Berdedikasi Membumikan Islam (4-Bersambung)

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, M Minnanur Rohman, 28, sudah mendalami ilmu agama sedari kecil. Pendidikan formalnya linier sejak sekolah dasar hingga jenjang S3. Pemuda asal Desa Banjiran, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, itu mulai dikenal masyarakat luas sejak tahun 2015. Terutama warga Jawa Tengah.

MINAN –sapaan akrabnya- mengikuti ajang kompetisi dakwah di televisi nasional swasta pada tahun 2015 silam. Yaitu Aksi Indosiar. Menurutnya, perjuangan tidak menghianati hasil. Kultur keluarga dan lingkungan Desa Banjiran yang religius punya andil besar dalam hidupnya. Ia mengungkapkan bahwa saat mengikuti audisi pada tahun 2014, belum pernah mengisi ceramah di depan umum.

“Saya kaget karena belum pernah ikut ceramah. Lomba ceramah belum pernah, ikut audisi juga belum pernah. Ini pertama kali bagi saya. Kaget saja bisa lolos, padahal belum ada pengalaman sama sekali,” ujar Minan saat ditemui di kediamannya.

Minan meyakini, ia bisa lolos karena punya bekal ilmu agama. Sehingga punya kapasitas. Apalagi jika dilihat dari latar belakang pendidikan dan capaian yang pernah diraih. Seperti prestasi di Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Selain itu, saat mendaftar, Minan juga baru saja meraih gelar S1.

Baca juga:  Belajar Komitmen, Konsisten, dan Konsekuen, dari Iblis

Melalui ajang itu, Minan banyak belajar tentang ilmu komunikasi. Bagaimana tampil dengan baik di depan publik. Saat tampil, juri-juri yang menilainya adalah Mamah Dedeh, Ustad Wijayanto, Ustad Subki Al-Bughury, dan Ustad Alhabsyi.

“Saya ikut Aksi Indosiar itu perintah dari guru saya, Kiai Sholeh. Pada saat itu saya sebagai ketua pondok disuruh mewakili pondok dalam audisi yang dilaksanakan di UIN Walisongo Semarang,” ucapnya.

Ciri khas dakwah yang membedakannya dengan peserta lain adalah kedalaman materi. Walaupun materi mendalam, dakwah disampaikan secara ringan dan ceria. Ia juga sering menyampaikan syair-syair merdu dalam bahasa Arab supaya dakwah yang disampaikan lebih cair. Suara saat berdakwah juga menjadi ciri khas menarik.

Kedalaman materi itu dikuasai berkat pendidikan keagamaan yang dipelajari sejak kecil. Ia bersekolah di MI Desa Banjiran, MTs Wahid Hasyim Warungasem, MAK Takhassus Simbang Kulon Pekalongan sembari mondok di sana. Kemudian, pendidikan jenjang selanjutnya dilanjutkan ke Pondok Pesantren Madrosatul Qur’anil Aziziyyah Beringin, Semarang. Minan menjalani pendidikan di pesantren sembari mengambil kuliah S1 dan S2 di UIN Walisongo. Jurusan yang diambil pun linier S1 Tafsir Hadis dan S2 Tafsir Quran.

Baca juga:  Dakwah, Ngajar, Ngaji, dan Mengikuti Dawuh Kiai

Setelah lulus S2 ia pulang ke kampung halaman untuk mengajar di IAIN Pekalongan. Sembari menjadi dosen, Minan melanjutkan pendidikan S3 di UIN Walisongo. Ia baru saja lulus tahun 2021 dengan gelar doktor Studi Islam. Alias Dr M Minnanur Rohman M.S.I.

Menurutnya, cara beragama yang bagus itu bersumber dari publik figur yang mumpuni. Karenanya, ia mencontohkan dengan pendidikan setinggi mungkin.

“Sedikit guyon itu perlu dalam public speaking atau mauidhoh hasanah. Dakwah harus menarik, supaya durasi ceramah yang lama tidak membuat jenuh jemaah. Namun porsinya harus berimbang antara materi utama dan hiburan,” imbuhnya.

Saat ini kegiatan sehari-harinya menjadi dosen di IAIN Pekalongan. Ia mengajar Tafsir Alquran. Sementara saat malam hari, Minan mengabdikan diri untuk mengajar kitab dan mengisi ceramah di desanya. Desa Banjiran dan Desa Terban, Kecamatan Warungasem. Desa Terban merupakan desa istri yang baru dinikahi enam bulan lalu.

Baca juga:  Beribadah Ramadan di Lapas Magelang, Hidup Justru Lebih Tenang

Dakwah malam hari lebih banyak dilakukan di Desa Terban. Sementara di Banjiran, dakwah dilakukan tiap weekend. Dakwah dilakukan di rumah sampai masjid. Ciri khas dakwahnya tetap dibawa. Menyampaikan materi dengan selingan guyonan.

“Materi yang saya sampaikan kebanyakan ringan, edukasi untuk beribadah. Seperti salat. Bagaimana salat dan ibadah yang tidak dangkal. Juga motivasi untuk membaca Alquran,” ucapnya.

Selain itu, dalam satu bulan ia selalu menyempatkan waktu mengisi dakwah di luar daerah. Biasa sampai 15 kali. Ia punya kesan saat harus mengisi pengajian di pelosok-pelosok desa. Perjalanan melewati gunung dengan jalan yang sulit dijangkau, hingga harus menyeberang sungai.

“Saya sangat terharu, walaupun di pelosok, mereka itu masih sangat antusias untuk mengaji mendalami agama,” kata Minan. (yan/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya