alexametrics

12 Tahun di Pesantren, Jadikan Dakwah Tuntutan Hidup

Pendakwah Muda Berdedikasi Membumikan Islam (3-Bersambung)

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Berdakwah tidak sebatas menyampaikan perintah dan larangan Allah. Tetapi mengajak, merangkul dan menyatukan semua umat. Sehingga, Islam benar-benar menjadi agama yang rahmatan lil alamin.

Muchamad Coirun Nizar usianya masih 35 tahun. Tetapi ia menjadikan dakwah sebagai tuntutan hidup. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan ridho Allah dan syiar agama Islam.

Berdakwah tidak sebatas ceramah secara bil lisan. Tetapi apa yang disampaikannya harus benar-benar dilakukan. “12 tahun menimba ilmu di Pesantren membuat saya berkewajiban ikut syiar dan menyebarkan ilmu yang saya dapatkan,” kata Mochamad Coirun Nizar saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang

Nizar – sapaan akrabnya- menghabiskan enam tahun di Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus, tiga tahun di Pesantren Bustanu Usysyaqil Qur’an (BUQ) Demak dan dua tahun di Mahad Aly Al-Hikamus Salafiyah Cirebon.

Baca juga:  Selasa Kliwon Ratusan Orang Berizarah ke Makam Wali Musyafa’

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) dilahirkan dari lingkungan agamis. Sejak kecil terbiasa diajarkan sang Ayah mengabdi di Masjid Jami Tegalrejo, Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur. Dididik untuk menjadi pendakwah termasuk semua saudaranya dimasukan di Pesantren.  “Dakwah tidak hanya retorika mengolah kata saja. Tetapi dituntut mempunyai bekal ilmu agama cukup,” ujarnya.

Ia ingat betul pertama berdakwah saat mengikuti program dai Ramadan tahun 2013. Ia ikut safari dakwah dan ditempatkan di Manokwari, Papua Barat. Di tengah masyarakat Papua, ia dituntut berdakwah dengan sangat hati-hati. Cara penyampaian harus hati-hati, jangan sampai membuat jamaah tersinggung. Apalagi menyinggung perbedaan suku, ras, dan agama.

Baca juga:  Habib Thoha Gunakan Karomah untuk Usir Penjajah

“Jadi harus mengenali karakteristik penduduk lokal. Alhamdulillah bisa diterima semua orang. Satu kunci yang saya pegang saat dakwah di sana jangan sampai menyentuh ranah sensitif,” tambahnya.

Pendakwah yang baik harus paham dengan ranah yang dituju. Seperti karakteristik, bahasa, dan tingkat keilmuan yang harus disampaikan kepada masyarakat. Jangan sekalipun melakukan sesuatu yang menimbulkan kontroversi dan menyinggung perasaan. “Rasulallah SAW pun berdakwah tanpa menyakiti dan melakukan dengan cara yang baik,” tambahnya.

Nizar mempunyai pengalaman kurang mengenakkan saat berdakwah. Saat mengisi ceramah di Medan dengan beberapa pendakwah muda sempat ada salah satu temannya menyentuh dan menyinggung hal sensitif. Karuan saja, masyarakat marah. “Bahkan jamaah banyak yang tidak mau lagi salat di masjid itu,” akunya.

Baca juga:  Syekh Jumadil Kubro Generasi Pertama Walisongo

Selama Ramadan, Nizar mengisi dengan mengajar ngaji kitab. Seminggu sekali rutin berceramah. Berdakwah baik di masjid sekitar ataupun di lingkungan kampus. Selain itu, masih tetap disibukan dengan mengajar Agama Islam di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). “Saya mengajar agama, itu juga bagian berdakwah dengan mengajari mahasiswa ilmu aga,” jelasnya.

Baginya berdakwah merupakan jalan hidup. Ia senang ketika jamaah memahami dan mengamalkan apa yang disampaikan. “Generasi penerus dakwah harus terus meningkatkan kualitas agar dapat meneruskan estafet dakwah dan mengajarkan Islam rahmatan lil alamin,” tambahnya. (cr4/fth)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya