alexametrics

Dakwah, Ngajar, Ngaji, dan Mengikuti Dawuh Kiai

Pendakwah Muda Berdedikasi Membumikan Islam (1-Bersambung)

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pendakwah muda yang mensyiarkan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah ini banyak dikenal masyarakat di daerah Kedungjati, Grobogan. Adalah Bambang Supriyadi lulusan IAIN Salatiga.

Usai menikah, tak menyurutkan atau mengurangi aktivitas Bambang Supriyadi. Sebagai sarjana tafsir, ia sadar akan tanggung jawab membumikan ajaran Islam. Apalagi pria asal Jumo, Grobogan ini sudah kenyang nyantri selama belasan tahun. Ilmu pesantren yang dipoles dengan dunia akademis menjadi bekal yang cukup untuk berdakwah di tanah kelahirannya.

Sejak kecil ia sudah mengenyam pendidikan pesantren. Darul Islah menjadi pesantren pertamanya saat di Jumo, Kedungjati, Grobogan. Kedua, di Pondok Pesantren Darul Hikmah, Tegowarnu. Dan terakhir nyantri di Pondok Pesantren Al-Ittihad Poncol, Bringin, Kabupaten Semarang. Ia juga menyelesaikan gelar sarjananya di Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Salatiga. Bahkan ia juga pernah menjadi salah satu santri Quraisy Syihab saat menempuh pendidikan tafsir di Jakarta.

Usai menempuh pendidikan pesantren dan kuliah, lantas ia pulang ke kampung halaman. Selain sibuk membangun rumah tangga, ia juga bertekad untuk membangun masyarakat daerahnya. Baik dari segi agama, moral, sosial, dan ekonomi. Tujuan besar itu, dimulai dari langkah-langkah kecil. “Ya saat ini kesibukannya mengajar. Baik di sekolah, rumah, dan masyarakat kecamatan Kedungjati,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang saat diwawancara (16/4).

Baca juga:  Trans Jateng Rute Semarang-Grobogan Mulai Beroperasi, Catat Tarifnya

Kang Bambang begitu ia disapa, mengaku punya jam terbang tetap pada setiap minggunya. Setiap Minggu sore ia mengisi kajian Alquran di Radio Rays FM. Yaitu radio pendidikan Kedungjati. Acara ini khusus untuk tadabbur Alquran ala milenial. Selain itu, sering mengisi tausiyah di desa sekitar saat momentum hari besar Islam. Bahkan juga masih aktif dan diminta mengisi kajian tafsir di kampus.

Kemudian setiap Sabtu pagi mengisi acara bertajuk Sabtu Mruput. Yaitu salah satu majelis atau pengajian bersama kang Bambang untuk santri Pondok Pesantren Modern Al-Maushul. Belum lagi pada Rabu malam, juga memberikan kajian Fath Al-Qarib kepada rekan UMKM Narimo Ing Pandum. Dilaksanakan di rumah-rumah secara bergantian. Adapun jamaahnya berasal dari kalangan bapak-bapak muda maupun tua. Selain itu, menyampaikan kajian Hadits Arbain satu minggu sekali di luar desa secara rutin. “Selain mengajar ngaji, saya dan teman-teman Ansor itu juga jualan karung, kelapa, dan gula,” ucapnya.

Baca juga:  Pakai Sarana Wayang, Lanjutkan Tradisi Dakwah Sunan Kalijaga

Selain berdakwah, Kang Bambang yang juga sebagai Ketua UMKM Narimo Ing Pandum memberdayakan perekonomian masyarakat. Dirinya mengaku meneladani cara dakwah Nabi Muhammad SAW. Bahwa setelah membangun masjid pasti membangun pasar. “Strategi itu saya contoh. Bahwa selain menghidupkan masjid dan ngaji, berusaha membangun kekuatan ekonomi masyarakat melalui UMKM,” akunya.

Menurutnya, dalam berdakwah diperlukan cara perlahan dan langkah demi langkah. Ia paham betul, tak mudah mengajak masyarakat untuk tertarik belajar agama. Problem dakwah yang dihadapi saat ini ada dua macam. Yaitu degradasi akhlak dan lemahnya ekonomi masyarakat. “Orang melakukan berbuatan tercela itu, salah satu pemicunya adalah kondisi ekonomi yang lemah yang tidak disertai keagamaan yang kuat,” tuturnya.

Kang Bambang mengungkapkan, dalam menjalankan dakwah di masyarakat pun tidak cukup dengan niat yang kuat. Harus disertai dengan kemandirian ekonomi. Sebab, tak sedikit orang yang diberi amanah ilmu yang banyak namun tidak fokus berdakwah. Salah satu penyebabnya adalah kondisi ekonomi yang lemah. “Hal itu kan menjadi penyebab orang tersibukkan dengan pekerjaan,” tandasnya.

Selain mengajar, Kang Bambang juga aktif di Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kedungjati. Masuk menjadi anggota Bahtsul Masail dan Lazisnu. Selain keagamaan, ia juga aktif dalam kegiatan sosial seperti memberikan santunan, berbagi makanan, dan donor darah.

Baca juga:  Hari Amal Bakti Refleksi Rasa Syukur

Menurut Kang Bambang, menjadi seorang pendakwah adalah keniscayaan. Selain berangkat dari kesadaran diri, juga bagian dari dawuh kiai. Salah satunya adalah mau mengembangkan ilmu yang didapatkan walaupun sedikit. “Jadi dakwah, ngajar, ngaji, atau apapun bentuknya saya merasa nyaman dan harus dilakukan,” ungkapnya.

Tak ada keinginan lahiriyah yang dicapai dalam berdakwah. Yang dirasakan Kang Bambang hanyalah ketenangan jiwa. Ilmu yang didapatkan menjadi bermanfaat. “Bukan masalah lega atau tidak. Namun ada kepuasan rohani ketika memeberi manfaat kepada orang lain,”

Dalam berceramah, Kang Bambang memilih bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Disesuaikan dengan kapasitas jamaah. Apakah dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, maupun tua. Ia tahu betul bagaiman menyampaikan satu topik yang sama namun dengan bahasa yang berbeda. Sehingga apa yang disampaikan dapat dengan mudah dipahami.

”Bahasa ceramah yang digunakan adalah bahasa keseharian. Mencontohkan juga apa yang paling dekat dengan masyarakat. Kalau disini seperti kehidupan petani,” pungkasnya. (cr3/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya