alexametrics

Puasa, Musik, dan Eskatologi

Oleh : MS Viktor Purhanudin

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, RAMADAN, bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam telah tiba. Bulan Ramadan memiliki sejumlah keistimewaan, yakni, sebagai bulan diturunkannya Alquran, pintu surga dibuka lebar-lebar dan pintu neraka ditutup rapat-rapat, bulan penuh keberkahan, bulan penuh ampunan, dan terdapat malam seribu bulan yang acap dikenal lailatul qadar. Melihat keistimewaan Ramadan, umat Islam di seluruh dunia selalu merindukan kedatangannya.

Selama Ramadan, umat Islam akan menjalankan ibadah puasa. Puasa ini merupakan satu perilaku yang berbasis pada argumentasi rasionalisme teologi Islam dengan cara menahan lapar dan dahaga, mulai dari setelah Subuh hingga Magrib. Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan bagi umat Islam hukumnya wajib, sebagaimana dituangkan dalam Alquran ayat 183 yang berbunyi “wahai orang beriman diwajibkan kepadamu untuk berpuasa seperti umat sebelum kamu.”

Penulis melihat dalam suasana ibadah puasa Ramadan, umumnya akan muncul fenomena musikal yang cukup menarik perhatian publik. Yaitu munculnya group band yang menelorkan lagu-lagu bernafas Islami dan juga kerap terdengar bunyi-bunyian musik sebelum waktu sahur tiba. Peristiwa seperti itu menunjukkan bahwa musik turut serta dalam menyemarakkan laku spiritual ibadah puasa di bulan Ramadan. Pertanyaan yang muncul dibenak penulis adalah apa sebenarnya musik itu?

Baca juga:  Ramadan sebagai Pembuktian Cinta dan Komunikasi Intensif Kepada Sang Khalik

Ditengok dari perspektif antropologi musik dapat dipahami sebagai salah satu bentuk produk kebudayaan yang berwujud suara. Suara dalam musik tidak sembarangan, suaranya mesti taat pada aturan hukum teori musik. Apabila suaranya melenceng dari aturan, bisa dipastikan suaranya terdengar sumbang dan tidak nyaman untuk didengarkan.

Pemaknaan musik seperti penulis kemukakan tersebut sangat luwes untuk diperdebatkan. Sebab, jika dikupas dari sudut pandang disiplin ilmu lain tentu akan menghasilkan pengertian musik yang berbeda pula.

Manusia menciptakan musik melalui sejumlah peralatan, antara lain, akal, panca indera, nurani, naluri, imajinasi, dan intuisi. Dengan alat-alat itupun belum tentu manusia dapat membuat karya musik yang bagus. Untuk membikin karya musik yang bagus dibutuhkan modal pengetahuan musik mumpuni, latian, dan kerja keras.

Bahkan, Djohan (2020) dalam bukunya ‘Psikologi Musik’ mengatakan, untuk memiliki ketrampilan membuat karya musik yang bagus dibutuhkan satu modal lagi, yakni bakat.

Kapan manusia mulai mengenal musik? Manusia mengenal musik sejak awal kemunculan peradaban, tepatnya zaman purbakala. Tesis ini tidak asal-asalan. Faktanya banyak arkeolog menemukan sejumlah alat musik peninggalan zaman purbakala. Salah satu alat musik peninggalan zaman purbakala yang ditemukan arkeolog adalah Gobustan, sebuah instrumen musik ritmis terbuat dari bongkahan batu besar. Alat musik Gobustan kali pertama ditemukan di Baku, Azerbaijan.

Baca juga:  Masjid Ar-Rahman KPA 3 Sendangmulyo Sediakan Sembako Murah

Purhanudin & Rasimin (2022), mengutip adicita Emile Durkheim, ditulis pada bukunya ‘Sosiologi Seni:Kacamata Lain Memahami Praktik Sosial Kesenian’, menulis, fakta-fakta dalam realitas itu laksana struktur. Setiap fakta diasumsikan memiliki peran dan fungsi berbeda-beda guna menjaga equilibrium kehidupan.

Manakala ada satu fakta yang melenceng dari fungsi dan perannya, niscaya keseimbangan kehidupan akan terganggu. Oleh karena itu, supaya keseimbangan kehidupan tetap terjaga fakta-fakta dalam realitas mesti menjalankan peran dan fungsinya.

Mengacu pada pemikiran Emile Durkheim, musik sebagai satu fakta yang terintregasi dalam realitas tentu memiliki peran dan fungsi untuk menjaga stabilitas kehidupan. Apa saja peran dan fungsi musik dalam kehidupan? Purhanudin (2021) dalam buku ‘Musik Anak: Pengetahuan Musik Untuk Guru PAUD’ menguraikan fungsi musik bagi kehidupan manusia, yaitu, pertama, musik difungsikan sebagai medium pendidikan. Kedua, musik dipakai sebagai sarana komunikasi sosial dan religi. Ketiga, musik digunakan untuk media aktualisasi diri serta wadah mencari hiburan. Keempat, musik difungsikan sebagai alat ekonomi atau profesi pekerjaan.

Apa saja peran dan fungsi musik bagi umat Islam? Sebenarnya peran dan fungsi musik untuk umat Islam tidak jauh berbeda dengan penjelasan di muka, yakni sebagai sarana pendidikan, alat komunikasi, media dakwah, medium ibadah, dan tempat mencari hiburan. Kendati seperti itu, lebih jauh lagi, bagi umat Islam musik (terompet sangkakala) memiliki peran dan fungsi sebagai penanda datangnya kiamat.

Baca juga:  Sweet All One Siapkan Lagu Penyemangat di Tengah Pandemi

Uraian tersebut sebagaimana termaktub dalam Alquran surat Az Zumar ayat 68 “dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).”

Kenyataan di atas menegaskan bahwa Islam memberikan posisi penting terhadap musik dengan menempatkannya sebagai tanda datangya hari akhir (eskatologi). Dalam teologi Islam, yang tertulis dalam surat Az-Zumar ayat 68 musik adalah jalan menuju kajian eskatologi.

Akhir kata penulis mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 2022. Jangan lupa nikmati lagu-lagu bernafas Islami yang berkelindan selama Ramadan ini. Puasa, musik, dan eskatologi ialah tiga fakta berbeda. Ketiganya memiliki peran dan fungsi berbeda, meski saling bekerjasama menjemput Sang Khalik. Wallahualam. (*/ida)

Dosen IAIN Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya