alexametrics

Napi Lapas Bulu Bergilir Masak dan Keliling Bangunkan Sahur dengan Terompet

Puasa Ramadan di Rumah Tahanan Negara (5-Bersambung)

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Suasana religi begitu kental terlihat ketika wartawan Jawa Pos Radar Semarang memasuki Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A Semarang. Sore itu, aktivitas di dalam jeruji besi cukup lengang. Para penghuninya berkumpul di aula lapas.

Ratusan warga binaan Lapas Bulu itu, duduk rapi di ruangan semi terbuka. Mengenakan mukena berbagai motif, mereka mendengarkan tausiyah dari ustadz Puryanto. Beberapa terlihat mengantuk, bahkan ada yang mengobrol. Ya, kegiatan ngaji itu digelar rutin pukul 16.00 selama Ramadan.

“Sebelumnya jam 14.30 mereka tadarus bersama sampai Ashar. Lalu salat berjamaah, Mbak,” tutur Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik (Binadik) Mei Kartini.

Kali ini Puryanto menyampaikan tausiyah bertemakan empat golongan manusia yang dirindukan surga. Ia telah puluhan tahun keluar masuk lapas sebagai penceramah di sana. Jiwa pengabdian masyarakatnya sangat bersyukur dan senang dapat berbagi dengan para napi.

Baca juga:  Gencarkan Razia Kos dan Penginapan

Pur, sapaan akrabnya, sudah familiar dengan suasana lapas. Bahkan mengenali sebagian napi. Ia tak perlu petugas untuk menyambut atau mengantarnya masuk ke aula. Pur telah memahami betul isi lapas.

“Sudah lama sekali LPPM Unisulla bekerja sama dengan lapas ini di berbagai bidang. Nah saya bagian dari pengabdi di bidang keagamaan,” ujar Pur.

Pukul lima sore, tausiyah usai. Para jamaah membubarkan diri dan kembali ke sel masing-masing. Kamar sel tahanan bervariasi, mulai isi satu orang hingga terbesar memuat 30 orang. Sebagian menunggu waktu berbuka tiba dengan bersantai dan bersenda gurau di depan kamar. Sebagian lainnya mandi.

Kemudian perwakilan setiap kamar datang ke dapur untuk mengambil jatah buka. Salah satu pembeda di bulan Ramadan terdapat extra fooding atau takjil. Terkadang mendapat kolak, roti, snack, atau pun es.

Baca juga:  Berziarah ke Makam Syekh Mudzakir di Tengah Debur Ombak

“Buka dan sahur di kamar masing-masing, salat maghrib juga berjamaah di kamar, lalu persiapan tarawih,” imbuh Mei.

Salah satu napi, Roro, mengaku baru pertama kali menjalani puasa di Lapas Bulu. Perempuan yang pernah terjerat kasus narkotika itu, pada puasa sebelumnya masih berada di sel tahanan Polda Jateng. Ia takjub sekaligus keheranan melihat perubahan suasana Ramadan di Lapas Bulu.

“Orang-orang di sini menyambut Ramadan dengan excited. Bahkan di waktu luang pada ngaji. Kerasa banget euphoria-nya,” ungkap Roro.

Terlebih di Lapas Bulu para napi diperbolehkan keluar sel dan berkegiatan di aula atau area dalam lapas. Sehingga mereka tak begitu jenuh terkurung. Bahkan semua pekerjaan dilakukan oleh napi secara bergilir. Termasuk memasak sahur dan buka bak suasana pondok pesantren.

Mereka juga bertugas keliling kamar membangunkan semua orang untuk sahur menggunakan terompet. Lalu mengantarkan jatah makanan tiap kamar dengan troli ke depan blok. Penghuni kamar hanya perlu mengambil makanan dan menyantap sahur dari kamarnya masing-masing.

Baca juga:  Masyarakat Diimbau Waspadai Tindak Kejahatan Saat Ramadan

“Paling kerasa jauh dari keluarga pas sahur. Biasanya susah dibangunin mamah gitu kan, harus ditarik-tarik. Ini harus peka dibangunin temen napi yang jadi tahanan pendamping (tamping) pake toet-toet,” ujar Roro.

Meski begitu ia bersyukur dikelilingi orang-orang baik. Dan dapat merasakan kebersamaan dan kekeluargaan di Lapas Bulu. Ia banyak terdorong untuk ikut melakukan ibadah dari lingkungan sekitar. Tadarus pagi, siang, dan malam. Bahkan ngabuburit diisi dengan tausiyah selama sebulan penuh dengan penceramah yang bergantian.

“Ternyata tinggal di lapas dan puasa di sini nggak seburuk yang dipikirin orang luar kok. Kalau kita nggak buat masalah ya temen-teman baik-baik aja,” pungkasnya. (taf/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya