alexametrics

Sunan Katong Pencetus Pertama Nama Kaliwungu

Jejak-Jejak Para Wali Allah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Selain berjasa dalam penyebaran agama Islam di Kaliwungu, Sunan Katong juga menorehkan sejarah akan nama Kadipaten Kaliwungu. “Sunan Katong sangat masyhur sebagai orang yang membabat tanah Kaliwungu. Beliau juga yang memberikan nama daerah ini dengan nama Kaliwungu,” kata Gus Muhammad Aslih.

Menurut cerita, Sunan Katong diutus oleh kakeknya Bhatara Katong untuk membantu Sunan Pandan Arang menyebarkan dan mendakwahkan Islam. Saat itu Sunan Katong mendatangi Sunan Pandan Arang untuk meminta perintah.

“Oleh Sunan Pandan Arang, Sunan Katong diberikan wilayah sebelah barat. Akhirnya, beliau ke barat berdakwah dan mengajarkan syariat Islam. Daerah itulah yang kini bernama Kaliwungu,” katanya.

Asal-usul penamaan Kaliwungu, ada banyak cerita. Pertama, yakni saat Sunan Katong beristirahat di tepi Sungai Saeran. Disitu terlihat banyak Pohon Wungu yang mengarah ke sungai. “Saat itulah, dicetuskan nama Kaliwungu,” ujar Pengasuh Ponpes Aris, Kaliwungu itu.

Cerita lain, adanya kisah tentang pertikaian antara Sunan Katong dengan Paku Wojo yang tidak lain santrinya sendiri. Saat itu, keduanya saling tusuk dan sama-sama meninggal. “Darahnya masuk ke Kali (sungai, Red) Sarean dan menjadikan airnya berubah menjadi Ungu, lalu dinamakan Kaliwungu,” tambahnya.

Namun, diakui, Sunan Katong adalah pencetus pertama budaya pesantren di Kaliwungu. Sebab semasa hidupnya selalu mengajar agama Islam kepada warga Kaliwungu. “Hingga sekarang dikenal Kaliwungu sebagai Kota Santri,” imbuhnya.

Makanya, sebagai wujud penghormatan terhadap Sunan Katong dan tokoh-tokoh penyiar agama Islam di wilayah Kaliwungu yang telah berjuang dalam mengajarkan agama Islam. “Makam Sunan Katong selalu ramai peziarah,” pungkasnya.

Sejumlah warga berziarah ke Makam Sunan Katong di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan. (BUDI SETIYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Makam Sunan Katong di Antara Pejabat Kerajaan

Kanjeng Sinuwun Sunan Katong merupakan tokoh paling berjasa atas penyebaran Islam di Kecamatan Kaliwungu. Sebutan Sunan, karena ia termasuk Waliyullah.

Makamnya terletak di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan. Tepatnya di Komplek Makam Astana Kuntul Nglayang. Sebutan Astana Kuntul Nglayang, karena jika dipandang secara cermat, kompleks makam tersebut menurut cerita warga sekitar membentuk seekor burung yang sedang terbang.

Makam Sunan Katong tergolong bukan makam sembarangan. Sebab makam yang terletak di perbukitan tersebut sekaligus menjadi peristirahatan terakhir para leluhur Kaliwungu atau para adipati dan keturunan Pangeran Djoeminah pada zaman Kerajaan Mataram Islam.

“Jadi Makam Astana Kuntul Nglayang, dulunya hanya ditempati oleh orang-orang besar kerajaan,” kata Ketua Pecinta Makam Auliya Kaliwungu (PMAK) Tugabus Bakrie.

Beberapa leluhur Mataram Islam keturunan Panembahan Djoeminah yang dimakamkan di Astana Kuntul Nglayang antara lain, Panembahan Djoeminah Putra Panembahan Senopati Sutawijaya dan Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Hadimenggolo I (Bupati Kaliwungu).

Selain itu, Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Hadimenggolo II, (Bupati Kaliwungu), Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Hadimenggolo III, (Bupati Kaliwungu) dan Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Hadimenggolo IV, (Bupati Kaliwungu).

Ada juga Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Ronodiwiryo (Bupati Batang), Kanjeng Raden Tumenggung Hadinegoro (Bupati Kaliwungu dan Demak) dan Kanjeng Raden Tumenggung Sumodiwiryo, Bupati Kaliwungu. Raden Tumenggung Reksonegoro dan Kanjeng Raden Tumenggung Hadinegoro (Bupati Demak).

Menurut Bagus, Sunan Katong adalah seorang Wali Allah (Waliyullah). Jika dirunut nasabnya, Sunan Katong masih ada jalur keturunan dari Prabu Brawijaya V. Lebih kurang silsilahnya adalah sebagai berikut, Prabu Brawijaya V memiliki putera Bhatara Katong (Ponorogo). Dari Bhatara Katong memiliki seorang puteri yang diperistri Adipati Unus putera dari Raden Fatah. Dari Perkawinan itu, lahir Kiai Katong, alias Sunan Katong.

Kini banyak warga berziarah. Setiap hari berkisar 100-150 orang. “Tapi pada bulan-bulan tertentu, para peziarah bisa membludak mencapai ribuan. Terutama pada bulan Maulid, Ruwah, dan Syawal,” kata Gus Bagus. (bud/ida)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya