alexametrics

Sunan Kalijaga Akulturasikan Seni Budaya dengan Ajaran Islam

Jejak-Jejak Para Wali Allah                                                                

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Makam Waliyullah Sunan Kalijaga (Raden Sahid) di Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak menjelang bulan puasa Ramadan dipadati para peziarah. Utamanya dari Demak maupun luar daerah. Paling ramai, bulan Rajab dan Ruwah. Hampir tidak pernah sepi selama 24 jam.

Para peziarah berdatangan baik dengan kendaraan pribadi maupun berombongan dengan bus pariwisata. Sedangkan, saat Ramadan, kunjungan peziarah relatif sedikit. Bisa dihitung dengan jari.

Joko Raharjo, petugas piket penjaga Makam Sunan Kalijaga menuturkan, pada hari biasa, peziarah bisa mencapai ribuan perhari. Sementara, saat Ramadan rata-rata 90-an orang peziarah perhari. ”Saat puasa, peziarah turun drastis. Orang enggan bepergian,” katanya.

Mereka lebih memilih di rumah menjalankan puasa daripada berziarah. “Tradisi ziarah paling padat ya bulan Ruwah atau Sya’ban. Sebab, itu saat nyadran berlangsung,” katanya.

Para peziarah paling banyak berasal dari Jawa Timur, disusul Jawa Tengah maupun Jawa Barat. “Kalau yang dari Jawa Timur itu memang fanatik ziarah makam waliyullah, termasuk di Makam Sunan Kalijaga,” ujarnya.

Untuk menjaga kawasan makam, ada sebanyak 14 petugas, termasuk juru kunci yang menjalankan piket tiap hari dengan cara bergantian sesuai jadwalnya. Selama masa pandemi Covid-19, petugas tetap memberlakukan protokol kesehatan (prokes) sebagaimana aturan pemerintah.

Baca juga:  Masyarakat Diimbau Waspadai Tindak Kejahatan Saat Ramadan

Seperti diketahui, dalam sejarahnya, Sunan Kalijaga merupakah salah satu Wali Sembilan (Walisongo). Sosoknya melegenda dan sangat terkenal tidak hanya di Pulau Jawa. Namun, jejak pengembaraan spiritualnya sampai Malaya (Malaysia). Ia adalah satu-satunya Walisongo yang asli Jawa, putra Tumenggung Wilwatikta atau Adipati Tuban VIII dengan Dewi Nawangarum zaman Kerajaan Majapahit. Lahir 1450 dan wafat 1513 M dan dimakamkan di Kadilangu Demak.

Kanjeng Sunan Kalijaga memiliki banyak nama atau sebutan. Antara lain, Lokajaya, Pangeran Tuban, Syekh Malaya, Raden Abdurrahman. Bahkan, berdasarkan manuskrip disebut juga Kaki Walaka. Dalam menjalankan dakwahnya, Sunan Kalijaga yang menjadi penasehat Kasulatan Demak Bintoro era Sultan Fatah ini mempunyai metode sebagaimana yang dijalankan guru sekaligus sahabat dekatnya, yaitu Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim).

Mendasarkan catatan yang pernah ditulis sesepuh ahliwaris dan keluarga Sunan Kalijaga, R Mohammad Soedioko mengungkapkan Sunan Kalijaga cenderung sufistik. Meski demikian, bukan sufi panteistik (pemujaan semata). “Beliau juga sangat toleran pada budaya lokal dan pandai mengakulturasikan seni dan kebudayaan setempat dengan ajaran Islam,” ujar Soedioko dalam kata pengantar buku Laku Hidup Kanjeng Sunan Kalijaga, terkemahan dari kitab kuno serat Kaki Walaka.

Baca juga:  Makam Kiai Guru Asy'ari selalu Ramai Para Santri

Soedioko menambahkan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. “Beliau menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah,” katanya.

Sejumlah kreasi seni budaya yang diperkirakan digagas Sunan Kalijaga antara lain, Sekatenan, Grebeg Maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang petruk jadi raja dan Dewa Ruci.

Adapun, masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan lebih dari 100 tahun. Dengan demikian, Sunan Kalijaga mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit pada 1478. Kemudian, masa Kasultanan Demak Bintoro, Kasultanan Cirebon dan Banten. Bahkan, versi lain, yang bersangkutan masih mengalami masa Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati. “Beliau ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak,” katanya.

Bahkan, hingga kini Sunan Kaliajga dikenal sebagai kreator adanya tiang atau soko tatal (pecahan kayu) saat mendirikan Masjid Agung Demak. Sebab, saat itu, kayu jati gelondongan yang digunakan tiang masjid ada kekurangan beberapa sentimeter yang kemudian ditambah dengan kayu tatal.

Gentong peninggalan Sunan Kalijaga terletak di sisi samping kanan makam dan dijaga petugas. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

 

Gentong dan Tempat Duduk Santai Peninggalan Kanjeng Sunan

Usai berdoa di makam, biasanya hal lain yang menjadi jujukan peziarah adalah minum air yang ada di gentong peninggalan Sunan Kalijaga. Letaknya di sisi samping kanan makam dan dijaga petugas.

Baca juga:  Berdakwah Santun, Prihatin Kemerosotan Moral dan Iman Milenial

Penjaga gentong, Suradi menuturkan, sumber air gentong dari Sungai Kalijajar. Berjarak 300 meter dari makam. Dulu, pengambilan air dari sungai dimasukkan jeriken yang kemudian dipikul. Namun, sekarang diangsu dengan gerobak (songkro). Air kemudian diendapkan hingga jernih dengan sistem penyaringan atau filterisasi di dalam bak penampungan. Baru setelah itu disalurkan ke gentong.

“Kalau air yang di gentong habis diisi lagi. Ini air barokah untuk peziarah yang menginginkan untuk minum. Buat banyak keperluan. Yang penting hatinya mantep. Ngalap berkah. Habis ziarah minum air di gentong ini,” ujarnya. Berdasarkan catatan sejarah, ada dua gentong peninggalan. Yakni, gentong padasan atau tempat air wudu dan gentong pedaringan, tempat menyimpan beras.

Selain gentong, ada jejak peninggalan Sunan Kalijaga yang lain. Yaitu, tempat palenggahan atau tempat duduk santai Kanjeng Sunan. Letaknya di dekat pintu depan masuk makam. Palenggahan itu dibuatkan tempat sendiri. Biasanya dipakai untuk peziarah yang sedang ritual atau laku spiritual untuk tahlil, berdzikir dan bertafakur. (hib/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya