alexametrics

Makam Kiai Guru Asy’ari selalu Ramai Para Santri

Jejak-Jejak Para Wali Allah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Makam KH Asy’ari terletak kompleks makam Jabal Nur atau Bukit Nur. Setiap hari selalu ramai dikunjungi para peziarah. Terutama saat malam hari. Tak sedikit para peziarah berdatangan dari berbagai wilayah.

Para peziarah itu kebanyakan para santri dari berbagai pondok pesantren (ponpes) di Kaliwungu, Kabupaten Kendal. KH Asy’ari juga dijuluki Kiai Guru. Julukan tersebut karena beliau sebagai wali yang dipenuhi dengan Ilmu. “Jadi beliau (Kiai Guru) adalah gurunya para guru. Makanya disebut Kiai Guru,” kata Sukirno, salah satu penjaga makam KH Asy’ari.

Menurut banyak cerita, KH Guru dikenal sangat alim dan banyak menguasai ilmu agama. Ilmunya kemudian diajarkan kepada warga Kaliwungu dan beberapa santrinya yang kemudian menjadi guru/kiai. “Sebutan Kiai Guru ini karena beliau adalah guru seluruh masyarakat Kaliwungu saat itu. Saat itu, Kaliwungu merupakan kadipaten atau istilahnya kabupaten kalau sekarang,” tuturnya.

Makanya, makam KH Asy’ari ini setiap hari tak luput dari kunjungan peziarah yang dilakukan oleh para santri. Terutama santri di pondok pesantren yang ada di Kaliwungu. “Banyak, hampir setiap hari selalu ada santri,” katanya.

Baca juga:  Masih Optimistis Media Cetak Tetap Dibutuhkan Masyarakat

Mereka selain ingin mengikuti jejak Kiai Guru, juga ingin mendapatkan ilmu hidayah supaya cepat dalam memahami ilmu yang tengah dipelajari di pesantren. Selain itu, berdoa agar ilmu yang didapatnya barokah. “Malah kadang mereka disini ngaji sampai larut malam hingga tertidur,” akunya.

Makam yang terletak di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan ini, biasanya mencapai puncak keramaian saat bulan Syawal atau sesudah lebaran Idul Fitri. Sebab saat itu diperingati sebagai peringatan hari wafatnya KH Asy’ari. “Istilahnya haul KH Asy’ari,” paparnya.

Selama bulan Syawal, makam KH Asy’ari selalu penuh setiap harinya. Pengunjungnya mencapai ribuan setiap harinya. “Pas tanggal 10 Syawal, menjadi puncak perayaan haul. Pengunjung bisa mencapai puluhan ribu. Jadi harus antre untuk bisa masuk dan berdoa dekat makam,” tandasnya.

Tapi selama Ramadan tahun ini, diakuinya pengunjung sedikit. Terlebih masa akhir Ramadan, para santri sudah pada pulang ke kampung halamannya masing-masing. Meski begitu, makam KH Asyari saat malam selalu ramai. “Ya kisaran rata-rata 200-250 orang pengunjung setiap hari,” imbuhnya.

Makam KH Asy’ari atau Kiai Guru di Kompleks Pemakaman Aulia Jabal Nur Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal. (BUDI SETIYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pendiri Masjid Agung Kaliwungu

KH Asy’ari dikenal masyarakat Kendal khususnya Kaliwungu adalah sebagai pendiri pertama Masjid Agung Kaliwungu atau Masjid AL-Muttaqin. Kepopuleran Kiai Asy’ari karena sosoknya yang dikenal sederhana. Tapi dibalik kesederhanaannya itu memiliki ilmu yang sangat dalam.

Baca juga:  Pria Ini Terciduk Salahgunakan BBM Bersubsidi, Diduga akan Dijual ke Industri

Dakwahnya juga unik seperti Walisongo. Yakni menggunakan metode pendekatan budaya masyarakat. Sehingga mampu mengajak masyarakat Kaliwungu kala itu untuk masuk dan memperdalam agama Islam. “Sampai sekarang ini, Kaliwungu bisa dikenal sebagai Kota Santri,” kata Umar Faruk, salah seorang pengunjung.

KH Asy’ari datang ke Kaliwungu sebagai pendatang. Ia merupakan utusan dari raja pada Zaman Kerajaan Mataram Islam. Kemudian menetap dan melakukan dakwah di Kaliwungu. Menurut carita, Kiai Guru merupakan asli dari Jogjakarta.  Ayahnya bernama KH Abdurrahman bin Ibrahim.

Kiai Asy’ari belajar membaca dan menulis dari para ulama, kiai, dan tokoh agama yang ada di lingkungan kerajaan Mataram Islam di Jogjakarta. Setelah menginjak dewasa, beliau melanjutkan menuntut ilmu ke Makkah, kira-kira selama 10 tahunan. “Beliau dikenal banyak menguasai banyak ilmu, baik Quran, Hadis, tasawuf, ilmu mantik, bayan, syariat, dan sebagainya,” kata Ketua Pencinta Makam Auliya Kaliwungu, Gus Tubagus Bakri.

Baca juga:  Usaha Bangkrut, Cinta pun Kukut

Menurut cerita, Kiai Asy’ari bermukim dan menetap di kampung yang saat ini terkenal dengan nama Kampung Pesantren. Yakni di Desa Krajankulon, Kecamatan Kaliwungu. Penamaan Kampung Pesantren, karena daerah tersebut menjadi pertama kali adanya budaya santri yang diajarkan oleh Kiai Guru.

Kiai Guru juga selalu menggunakan musala sebagai tempat untuk belajar dan menuntut ilmu agama Islam bagi para santri. Sekarang ini menjadi Musala Al-Asy’ari, tepatnya di Kampung Pesantren Desa Krajankulon, Kecamatan Kaliwungu. “Ia juga dikenal sebagai pendiri Masjid Agung Kaliwungu,” kata Pengasuh Ponpes Ma’had Islam Sarean Kaliwungu itu.

Ketua Pecinta Makam Aulia Kaliwungu, Tubagus Bakri mengatakan, banyak kisah yang menyebutkan Kiai Guru merupakan guru dari Muhammad Sholeh bin Umar Al-Samarani atau yang lebih populer dikenal KH Soleh Darat. “KH Soleh Darat ini merupakan guru dari KH Hasyim Asy’ari pendiri dari Nahdlatul Ulama,” tandasnya.

Kiai guru juga merupakan guru dari KH Ahmad Rifa’i yakni seorang ulama besar yang dikenal sebagai pendiri Rifaiyah. “Tapi data ini masih perlu diteliti lagi, apakah betul atau tidak dengan melihat masa para ulama-ulama ini,” imbuhnya. (bud/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya