alexametrics

“Kalau Ujungnegoro Makmur, Mriko-Mriko Makmur, Ujungnegoro Aman, Mriko-Mriko yo Aman”

Jejak-Jejak Para Wali Allah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID Pesisir Pantai Ujungnegoro, Kabupaten Batang, ada satu bukit yang sering dikunjungi peziarah. Di puncak bukit itu, ada makam salah satu ulama penyebar agama Islam di tanah Jawa. Adalah Syekh Maulana Maghribi.

Secara geografis terbilang unik bukit tersebut. Sebab, hanya satu bukit itu yang berbatasan langsung dengan bibir pantai. Kondisi ini bisa dilihat di sepanjang garis pantai mulai dari Sigandu, Ujungnegoro, hingga Roban.

Jawa Pos Radar Semarang berkesempatan mengunjungi makam tersebut di Desa Ujungnegoro, Kecamatan Kandeman. Kami bertemu Ahmad Zahroh, tokoh agama yang merupakan Penghulu KUA Tulis II, Kecamatan Kandeman. Ia menjelaskan, sejarah Syekh Maulana Maghribi berkaitan dengan Sultan Alfatih dari Turki Usmani yang mengirimkan beberapa ulama ke Indonesia.

Saat itu, kepercayaan masyarakat masih animisme dan dinamisme. Misi pertama pengiriman ulama gagal. Selanjutnya dikirim Syekh Subakir yang membawa rombongan dengan menumbali tanah Jawa.

Setelah itu, tanah Jawa bisa dimasuki orang luar dari komunitas luar animisme dan dinamisme. Setelah Syekh Subakir kembali ke negeri asalnya, Sultan Alfatih mengutus kembali rombongan ulama dari Maroko. Mereka berasal dari negeri Maghribi. Maghribi bukanlah sebuah nama pribadi, bisa disebut sebagai sebutan, klan, atau marga.

Setelah melalui Pantai Tuban dan Demak, rombongan tersebut ada yang singgah di Ujungnegoro. Kemudian ke Wonobodro, juga ke Pemalang, dan lainnya. Makamnya tersebar hingga ke Jawa Timur.

Kemiripan nama Maghribi di makam-makam itu terkadang membingungkan masyarakat awam. Kenapa di Ujungnegoro namanya Syekh Maulana Maghribi, sedangkan di Wonobodro juga demikian. Masyarakat awam banyak mengira bahwa itu adalah satu pribadi.

“Adanya makam tersebut diuri-uri oleh masyarakat sekitar. Sehingga menciptakan keislaman yang sangat kental. Sejarahnya, dahulu ada yang bermimpi, ditemui dalam alam bawah sadar. Kemudian ditashih atau diperiksa kebenarannya,” ujarnya saat berbincang di kantornya.

Baca juga:  Syekh Jumadil Kubro Generasi Pertama Walisongo

Ia menjelaskan, keberadaan makam tersebut dikuatkan oleh Habib Luthfi bin Yahya. Sebelumnya, makam tersebut awalnya ditemukan sekitar tahun 1940-an, sebelum kemerdekaan. Mulai ramai dan diketahui banyak orang pada tahun 60-an. Usai ramai peziarah, makam tersebut terus dipelihara, diziarahi, dihaulkan, disyiarkan, dan sebagainya.

Makam mulai dipugar tahun 1990-an, di bawah kepemimpinan lurah setempat, Kasmudi. Pemugaran dan perawatan dilakukan terus menerus hingga saat ini. Apalagi dengan adanya proyek PLTU 2×1.000 mega watt. Makam tersebut semakin terawat.

Di depan bangunan makam Syekh Maulana Maghribi ada sumber mata air. Air terus mengalir, dan ditampung ke dalam kendi. Ada dua kendi yang menampung air yang keluar. Air muncul dari bawah kendi yang sengaja dilubangi. Lokasinya berada di dekat pohon besar yang telah ditebang. “Itu biasanya untuk minum, wudhu, cuci muka, dan sebagainya,” ucapnya.

Ia menambahkan, makam tersebut berkaitan dengan dataran tinggi Dieng. Tepat di bawah tebing makam ada gua. Namanya gua Aswatama atau Aswatomo dalam ejaan bahasa Jawa.

“Dahulu ada perang Baratayudha, antara Kurawa dan Pandawa. Aswatomo adalah anak dari pendeta Durna. Ia bertapa di gua tersebut. Melalui gua itu Aswatomo mengejar para Pandawa ke Dieng,” jelas Zahroh.

Selama bertapa, Aswatomo menggali gua. Ia mendapatkan pesan untuk sampai ke Dieng tidak boleh menengok ke belakang. Ia mengingkarinya, sehingga gua kembali merapat dan berbelok ke Batur. “Kita mengembangkan makam secara integral, sehingga betul-betul menjadi wisata religi di Kabupaten Batang,” tegasnya.

Gua tersebut kini kondisinya telah tertutup pasir pantai. Koran ini berkeliling area makam bersama Tugiyo, 50, ketua pengurus makam. Menurutnya, dahulu gua tersebut lebarnya 2 meter dan dalam. Seiring abrasi yang mengikis pantai, gua itu telah tertutup. Menyisakan beberapa sentimeter mulut gua bagian atas.

Baca juga:  Top! Lifter Jateng Diah Ayu Permatasari Sukses Pecahkan Rekor di PON XX Papua

“Sebenarnya di belakang makam utama ada 2 patok makam lagi, tapi sekarang sudah tidak ada. Tebing sering mengalami longsor sampai belakang bangunan makam,” ucapnya.

Kasturi bin Sodri, 60, juru kunci makam menambahkan tentang sejarah makam Syekh Maulana Maghribi. Sebelumnya masyarakat melakukan nyadran, namun mulai tahun 1960-an berganti dengan kegiatan haul.

“Syekh Maulana Maghribi ini dulu menyebarkan Islam di Ujungnegoro dan daerah sekitarnya. Abah Luthfi mengatakan Ujungnegoro adalah pandernya (pusat, Red) Jawa Tengah bahkan Indonesia. Kalau Ujungnegoro makmur, mriko-mriko makmur, Ujungnegoro aman, mriko-mriko yo aman,” tandasnya.

Makam Syekh Maulana Maghribi Ujungnegoro, Kabupaten Batang setiap 15 Safar selalu digelar haul diikuti ribuan peziarah dari berbagai daerah. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Haul Syekh Maulana Maghribi Ujungnegoro Tiap 15 Safar

Sudah tradisi, di Makam Syekh Maulana Maghribi Ujungnegoro, Kabupaten Batang selalu digelar haul tiap tanggal 15 Safar. Agenda tahunan ini selalu diikuti ribuan peziarah dari berbagai daerah. Bahkan mereka datang rombongan dengan menggunakan bus.

Makam beliau sempat tutup untuk umum selama tiga bulan di awal pandemi Covid-19. Tempat ziarah itu mulai dibuka setelah Hari Raya Idul Fitri tahun 2020 lalu. Secara khusus, Habib Luthfi bin Yahya kembali membuka makam tersebut untuk umum.

“Kalau di sini ditutup terus, orang mau berdoa tidak bisa. Padahal, sejak zaman dahulu kalau ada pageblug tidak pernah ditutup seperti sekarang. Orang berdoa supaya semua sehat, pageblug hilang,” kata juru kunci makam Kasturi bin Sodri, 60, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menjelaskan, Syekh Maulana Maghribi merupakan ulama penyebar Islam di Ujungnegoro dan sekitarnya. Ujungnegoro dianggap sebagai pusatnya Jateng. Menurutnya, pembukaan kembali makam supaya masyarakat bisa berdoa dan berharap keamanan terjaga. “Tidak untuk neko-neko. Yo tawasulan nyuwun dongone, mbah wali nyuwune kaleh Gusti Allah (Mohon doanya, Mbah Wali memohon kepada Allah SWT, red),” imbuhnya.

Baca juga:  Selasa Kliwon Ratusan Orang Berizarah ke Makam Wali Musyafa’

Tugiyo, 50, ketua pengurus makam juga menerangkan, peziarah tidak pernah sepi tiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Mereka secara berkelompok ataupun pribadi membacakan tahlil, istighotsah, dan lain sebagainya. Menyesuaikan rombongan yang datang, mereka mengenang jasa ulama penyebar agama Islam di Indonesia dan ngalap berkah.

Menurutnya, ada runtutan dimana para peziarah memadati makam. Mulai dari mingguan, bulanan, hingga satu tahunan. “Kalau 40 harian atau selapanan, biasanya ramai pada malam Minggu Manis dan Malam Jumat Kliwon. Pengunjung banyak datang dari luar daerah seperti Pemalang, Brebes, Tegal dan wilayah Jateng lainnya,” ujarnya.

Pada agenda Salapan biasanya membaca Rothibul Hadad. Sementara untuk satu tahunan, selalu diadakan haul. Rangkaian kegiatan haul Syekh Maulana Maghribi Ujungnegoro dimulai sejak tanggal 11 Safar. Sementara puncaknya pada 15 Safar. Biasanya ulama yang mengawali kegiatan haul tanggal 11 Safar adalah Kiai Ahmad Saifudin dari Batang beserta jamaahnya.

“Kalau Kiai Yusuf Salim (alm) dari Kendal biasanya memimpin doa di hari puncak 15 Safar. Tapi sebelumnya, saat sebelum subuh dipimpin Gus Anis dari Buaran Pekalongan,” tuturnya.

Pengurus makam Syekh Maulana Maghribi Ujungnegoro juga menyediakan tempat istirahat bagi para musafir. Terutama bagi mereka yang menjalankan hajat untuk tidur di lokasi tersebut. Para musafir itu biasanya menginap mulai 3 hari ataupun 7 hari. “Kalau zaman dulu sampai 100 hari. Selama pandemi ini, pengunjung tetap diawasi dan harus mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditentukan,” tegasnya. (yan/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya