alexametrics

Pernah Bergelut dengan Narkoba, Kini Hijrah dan Jadi Pembatik

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Muridi, pria gondrong yang kerap mengenakan blangkon batik asal Mijen ini beberapa tahun terakhir fokus mengembangkan usaha Batik Aisy di kediamannya. Kini mempekerjakan belasan pembatik, yang beberapa di antaranya merupakan muridnya di Rumah Belajar Batik YCAB.

Siapa sangka, bisnis Muridi ini berawal dari kisah kelam semasa mudanya. Saat menjadi mahasiswa. Muri -sapaan akrabnya- terpaksa mencari uang untuk membiayai kuliahnya karena kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Kala itu, dia bertemu bandar narkoba dan ikut mengedarkannya selama beberapa tahun.”Ya saya menyesalinya. Itu masa kelam saya. Saat itu saya nggak punya pilihan,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Di tengah transaksinya, pria kelahiran 1977 itu tak sengaja mendapati para pelanggannya terciduk saat mengonsumsi narkoba. Bukannya dipenjara, mereka justru dihukum bekerja di pabrik batik milik Ananiyah. Karena heran, Muri mendatangi rumah produksi batik itu untuk memastikan secara langsung.

Muri kaget. Ratusan pekerja batik yang dipekerjakan Ananiyah merupakan mantan gelandangan, preman, hingga pengguna narkoba. Saat menemui Ananiyah, Muri dimarahi habis-habisan setelah mengaku sebagai pengedar narkoba. Tapi Ananiyah tak membiarkan Muri begitu saja. Ia dihukum bekerja dan belajar di pabriknya.

Baca juga:  Ada Pembimbing Rohani, Sekarang Jadi Rutin Belajar Agama

“Dulu saya nggak boleh pulang kalau belum bisa membatik. Bahkan pas mau pulang, dibekali modal untuk membuka usaha batik agar nggak balik jadi pengedar narkoba,” imbuhnya.

Ia sangat menghargai ketulusan Ananiyah membina ratusan orang sepertinya. Kedermawanan Ananiyah membuat Muri jatuh cinta kepada batik. Kebaikan Ananiyah telah mengubah hidupnya. Ia sudah seperti ibu kandung baginya yang tak pernah lupa dikunjungi bila pergi ke Surakarta.

Seiring berjalannya waktu, Muri mengembangkan ilmu batik yang dimilikinya untuk membuat batik kontemporer. Ia menciptakan motif-motif baru yang tak persis dengan pakem batik. Bahkan sekarang Muri mencoba eco batik yang menggunakan pewarna alami. “Selama masih bisa diterima masyarakat, nggak masalah. Batik juga bagian dari seni, dan seni terus berkembang,” jelas pria sembari mengecap lilin di atas kain batik.

Baca juga:  Delapan Pejabat Pemkot Salatiga 'Distafkan'

Pada perjalanannya di tahun 2019, ia mengikuti pelatihan batik di Rumah Belajar Batik milik Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Karena masih rintisan, belum ada silabus pembelajaran batik. Muri yang bisa dikatakan punya cukup bekal dalam membatik, akhirnya direkrut menjadi pengajar. Ia membuatkan silabus untuk pembatik pemula.

Muridnya sekitar 20 orang per kelas. Sekarang ia mengajar angkatan ke-4. Para murid yang ingin mencoba bekerja sebagai pembatik diberi kesempatan oleh Muri. Dalam proses produksi, Muri tak mengharuskan pegawainya bekerja di rumahnya. Mereka boleh membawa peralatan pulang ke rumahnya dan mengerjakan kapan pun. Muri hanya memberi arahan dan batasan waktu penyelesaian.

Sebelumnya sempat fokus dengan usaha batik, Muri sempat bekerja di bisnis outbond. Ia pernah ditipu oleh rekan kerjanya dan dikeluarkan dari perusahaan. Lalu Muri mencoba membuka outbond sendiri. Hingga akhirnya memutuskan untuk membuka Batik Aisy.

Baca juga:  Tak Bisa Sembarangan, Begini Tips Memelihara Ikan Koi yang Benar

Kini hidupnya lebih tenang. Muri dapat menjalankan usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia juga tetap menyalurkan ilmunya dengan mengajar di Rumah Belajar Batik. Istrinya sangat mendukung usahanya. Tri Mining, ibu dari tiga anak itu merupakan guru tata busana. Kini anaknya yang duduk di bangku SMK mengikuti jejaknya. “Jadi saya produksi batik, istri yang desain dan jahit sampai siap pakai,” ujar Muri.

Untuk mencegah kembali ke masa kelam, ia kini fokus pada bisnis batik dan terus mengembangkannya. Prinsip hidupnya, bekerja merupakan bagian dari ibadah. Karena itu, pekerjaannya harus baik, bermanfaat, dan membantu orang lain. Bila karyanya disenangi pelanggan, ia ikut senang.

Masyarakat di lingkungannya sudah akrab dengan batiknya. Bahkan terakhir ia mendapat orderan dari kelurahan sebanyak 28 batik untuk bingkisan menjelang Lebaran nanti. “Menurut saya semua orang berhak punya kesempatan untuk berubah dan menjadi lebih baik,” tandasnya. (cr1/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya