alexametrics

Dikenal Kharismatik, Makam Syarifah Fatimah selalu Ramai peziarah  

Jejak-Jejak Para Wali Allah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Syarifah Fatimah binti Husain Al-Aidrus sosok perempuan dikenal penyebar Islam yang cukup tersohor di Kota Semarang. Makamnya yang berada di Kompleks Masjid Jami’ Pekojan Jalan Petolongan 1 Semarang selalu ramai peziarah. Beliau juga mempunyai karomah yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dengan perantara daun Bidara tentunya atas seizin Allah.

Kompleks Masjid Pekodjan cukup ramai pengunjung Kamis (15/4/2021) siang. Lantunan Alquran dan doa terdengar merdu meski sayup. Sejumlah warga tampak asyik dengan aktivitas masing-masing. Ada yang salat, membaca Alquran sampai beristirahat di tengah panasnya terik matahari.

Makam Syarifah Fatimah binti Husain Al-Aidrus berada di sebelah timur kompleks masjid. Makamnya tampak terlihat sederhana. Dua batu nisan, yang satu bertuliskan nama beliau. Di bawahnya dilengkapi dengan tulisan wafat pada 5 Jumadil Akhir 1290 Hijriyah. Kemudian dikelilingi pagar besi berwarna kuning.

Peziarah pun bisa dengan leluasa berziarah. Sebab, pagar besi yang dibuat tanpa dikunci. “Biasanya selalu ramai peziarah yang datang ke makam Syarifah Fatimah binti Husain Al-Aidrus,” kata Ketua Takmir Masjid Pekodjan Semarang Ali Baharun kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Nama Syarifah Fatimah binti Husain Al-Aidrus sudah banyak dikenal publik. Diyakini sebagai salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW. Kiprahnya dalam penyebaran Islam di tanah Pekojan khususnya sangat besar. “Ya, salah satu tokoh penyebar Islam dengan dakwah yang bisa merangkul masyarakat,” ujarnya.

Baca juga:  Ciptakan Negara Kesejahteraan Pasca Bulan Ramadan

Tetapi masih belum banyak yang mengetahui secara detail siapa Syarifah Fatimah binti Husain Al-Aidrus. Literatur yang ada belum banyak yang menuliskannya. Meski begitu, masyarakat sangat mengenal dan menghormati beliau. Bahkan, makamnya sendiri berada di dalam kompleks masjid tersebut. “Masyarakat mengenalnya wali Allah yang kharismatik dan dicintai,” akunya.

Syarifah Fatimah binti Husain Al-Aidrus juga dikenal sebagai kekasih Allah yang menjaga kesuciannya sampai akhir hayat. Menurut ceritanya, Syarifah sempat menikah, tapi belum pernah sama sekali disentuh. Hingga kemudian Allah memanggilnya di usia yang masih muda. Jumadil Akhir 1290 H meninggal dan sekaligus selalu diperingati haul setiap tahunnya. “Beliau penyebar Islam, sebagai penyembuh, serta perempuan suci,” tambahnya.

Baca juga:  Sebelum Pakai Bilik Asmara, Pengungsi Wajib Tunjukkan Buku Nikah

Masjid Jami’ Pekojan Semarang menjadi saksi penyebaran Islam. Masjid ini awalnya didesain langsung para penyebar Islam dari tanah Hujarat. Tradisi leluhur pun tetap dilestarikan sampai sekarang. Salah satunya takjil bubur India. “Itu tradisi yang terus dipertahankan sampai kapanpun,” tambahnya.

Peziarah Nurul Iksan sengaja datang untuk berziarah sekaligus menelisik warisan Islam di Masjid Pekojan Semarang. Banyak cerita tentang Syarifah Fatimah binti Husain Al-Aidrus yang didengar. Itu membuatnya takjub dengan kiprahnya. Termasuk Masjid Pekodjan yang bernuansa adem. “Setiap Ramadan kesini, biasanya sekalian ingin menikmati bubur India langsung. Alhamdulillah, bisa berziarah,” aku Nurul.

Pohon Bidara yang ada di kompleks Masjid Pekojan Semarang. (MIFTAHUL A’LA/JAWAPOS RADAR SEMARANG)

Dua Pohon Bidara Tumbuh Subur

Salah satu karomah Syarifah Fatimah binti Husain Al-Aidrus adalah atas seizin Allah bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Biasanya perantaranya dengan menggunakan buah atau daun bidara.

“Kalau dulu orang sakit datang dan minta didoakan kepada Allah SWT, bisa langsung sembuh. Makanya dikenal sebagai wali penyembuh,” aku Ketua Takmir Masjid Pekodjan Semarang, Ali Baharun.

Baca juga:  Selasa Kliwon Ratusan Orang Berizarah ke Makam Wali Musyafa’

Cerita itupun dipercayai dan turun temurun. Bahkan, sampai sekarang banyak yang mempercayai karomah wali Allah perempuan ini. Banyak peziarah yang datang kemudian mengambil daun atau buah pohon bidara. “Di kompleks masjid ada dua pohon Bidara tumbuh subur. Satu di sebelah timur dan satu di barat masjid,” ujarnya.

Banyak peziarah yang datang kemudian membawa daun bidara. Kalau pas musim buah tidak sedikit yang mengambilnya. Buahnya rasanya enak seperti buah apel. Mereka rata-rata mempercayai khasiat dari pohon bidara. Apalagi yang ada di kompleks Syarifah Fatimah. “Itu keyakinan dan memang banyak juga yang mengalaminya sendiri. Banyak yang mengatakan penyakitnya sembuh setelah mengonsumsinya,” tambahnya.

Sebagian kompleks masjid juga sudah mengalami beberapa renovasi. Termasuk pelebaran masjid yang memakan sejumlah lahan di kawasan tersebut. Sementara makam Syarifah Fatimah awalnya berada di luar masjid dengan pembatas jalan. “Tapi karena perluasan, sekarang berada di dalam kompleks sebelah timur masjid. Dan semua warga bisa berziarah,” tambahnya. (fth/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya