alexametrics


Serapan Dana Covid-19 Jateng Masih Rendah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Serapan dana penanganan Covid-19 di Jateng yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) masih rendah. Kemendagri mencatat, di Jateng dari pagu Rp 164,62 miliar baru terserap 0,15 persen atau urutan terendah kedua se-Indonesia setelah Sulawesi Tengah.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Sriyanto Saputro menyesalkan rendahnya serapan dana Covid tersebut. Pihaknya meminta kepada gubernur untuk melakukan evaluasi atas kinerja jajarannya guna melakukan percepatan. “Sangat disayangkan, di saat rakyat menjerit didera pandemi, pemerintah pusat pun sudah mengalokasikan anggaran, namun penyerapannya masih rendah,” katanya.

Sekretaris DPD Gerindra Jateng itu menambahkan, meski Gubernur Ganjar Pranowo mengklaim sudah mencapai 17,28 persen, tapi Kemendagri justru merilis serapan Jateng cuma 0,15 persen. Kalaupun data yang disodorkan gubernur benar, tetap saja serapan anggaran penanganan Covid-19 di Provinsi Jateng tergolong rendah. Berarti berada di urutan 16 di bawah Sumatera Barat. “Tidak cukup sekadar saling bantah, namun apapun yang disampaikan Kemendagri tersebut untuk evaluasi dan introspeksi kita guna perbaikan,” tegasnya.

Rendahnya penyerapan anggaran pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020 silam masih bisa dimaklumi. Karena masih gagap dan banyak tumpang tindih kebijakan antara pusat dan daerah. Namun untuk tahun 2021 ini, mestinya lebih siap. Sehingga tidak ada alasan kesulitan dalam penyerapan anggaran. Evaluasi yang dilakukan Pemprov Jateng harus komprehensif. Karena sumber anggaran penanganan Covid-19 tidak hanya dari APBN, namun juga dari APBD. Tahun lalu misalnya, telah dilakukan refocusing yang diplot untuk penanganan korona lewat Belanja Tak Terduga (BTT) mencapai Rp 1,837 triliun.

Sangat disayangkan, hingga akhir tahun anggaran 2020 alokasi untuk penanganan dampak ekonomi sebesar Rp 96,40 miliar hanya terserap Rp 69,25 miliar atau 71,83 persen. “Ini kan aneh, sejak adanya pandemi rakyat banyak terdampak dari sisi ekonomi, namun penyerapan tidak maksimal,” tambahnya.

Di sisi lain Sriyanto menyoroti banyaknya keluhan dari berbagai daerah tentang pencairan dana insentif tenaga kesehatan yang tersendat. Di Jateng per 22 Juli 2021, dana insentif tenaga kesehatan yang bersumber dari DAU sebesar Rp 60,165 miliar terserap Rp 39,895 miliar atau 66,31 persen. “Insentif itu adalah hak para nakes dan para relawan yang telah bekerja keras tanpa kenal lelah. Bahkan bertaruh nyawa. Maka pencairan insentif nakes harus diprioritaskan,” ujarnya.

Gubernur harus bisa memacu kabupaten/kota yang masih lambat dalam pencairan insentif ini. Untuk 2021, Pemprov Jateng kembali melakukan refocusing, namun hingga dilakukan rapat Badan Anggaran dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) pekan lalu, belum ada rincian pasti. “Prinsipnya DPRD Jateng mendukung upaya penanganan Covid-19. Terpenting setelah anggaran diplot, penyerapannya harus maksimal dan tepat sasaran,” tambahnya. (fth/ida)

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya