RADARSEMARANG.ID, KENDAL, Radar Semarang-SD Negeri 3 Weleri hanya mendapat satu siswa di tahun ajaran baru ini. Meski begitu tak membuat semangat siswa surut dalam belajar.
Adalah Fatahillah Muhammad Rizky, satu-satunya siswa yang belajar di ruang kelas 1 SDN 3 Weleri, Kecamatan Weleri, Kendal. Dia terlihat semangat mengikuti pelajaran bersama guru kelasnya.
Bahkan, merasa lebih fokus untuk belajar karena perhatian sang guru hanya tertuju pada bocah berusia tujuh tahun ini.
"Diajari menulis dan membaca sama bu guru. Saya senang dan enjoy saja," ujarnya singkat kepada Jawa Pos Radar Semarang Selasa 18/7).
Pantauan wartawan koran ini, masing-masing kelas di sekolah negeri ini memiliki siswa cukup sedikit. Proses pembelajaran terlihat lebih intens dan enjoy.
Adapun total siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 hanya 32 anak. Setiap tahunnya, siswa yang masuk ke sekolah ini mengalami penurunan.
Meski begitu, jumlah guru di sekolah ini lengkap dan tetap melaksanakan pembelajaran seperti biasa.
"Tahun kemarin hanya ada tiga siswa, sekarang cuma satu. Tapi di tahun ini kami meluluskan 12 siswa," ungkap Kepala SDN 3 Weleri Hary Sucipto.
Hary menjelaskan, ada beberapa faktor yang memengaruhi minimnya siswa di sekolahnya. Seperti masyarakat lebih selektif hingga persaingan antar sekolah.
Dia berharap, ada solusi dari Disdikbud Kendal terhadap kondisi peserta didik di sekolahnya.
"Harapannya ada pendampingan dari Disdikbud juga. Kalau bisa grouping kelas bersama SD N 2 Weleri yang lokasinya bersebelahan dengan sekolah kami," harapnya.
Sementara di SD Negeri Truko, Kecamatan Kangkung, hanya mendapat 4 siswa di kelas 1 dalam tahun ajaran baru ini. Para siswa tampak antusias mengikuti pembelajaran dari masing-masing guru.
Siti Nur Hidayati, salah satu guru menjelaskan, minimnya siswa di sekolahnya karena banyak orang tua khawatir akan keselamatan anaknya. Pasalnya, SDN Truko ini berada di seberang Jalan Raya Pantura Kendal.
Namun, pihak sekolah juga memberikan antisipasi berupa pengawalan kepada siswa untuk menyeberang jalan raya. Faktor lainnya yakni jumlah anak usia SD di lingkungan sekolah masih minim.
"Tahun kemarin ada 21 siswa yang lulus. Tapi memang polanya zigzag. Misalnya tahun ini banyak siswanya, tahun depannya sedikit siswa yang masuk," terangnya.
Hidayati menambahkan, rata-rata siswa di kelas 2 hingga kelas 6 di sekolahnya mencapai 15 anak. Pihaknya berusaha maksimal untuk memberikan pembelajaran yang terbaik supaya siswa tidak bosan.
"Sebelum belajar ada pembiasaan baca Asmaul Husna bersama-sama. Jadi supaya siswa lebih fresh saat belajar di kelas," tandasnya. (dev)
Editor : Agus AP