Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pisang dan Ketawa jadi Unggulan RW 05 Kelurahan Patemon

T
Penulis: Tasropi❯
SEMANGAT : Ibu-ibu PKK RW 05 Kelurahan Patemon yang menjadi salah satu penggerak warga untuk menciptakan Kampung Pro Lingkungan.
SEMANGAT : Ibu-ibu PKK RW 05 Kelurahan Patemon yang menjadi salah satu penggerak warga untuk menciptakan Kampung Pro Lingkungan.

 


Advertisement

RADARSEMARANG.ID, GUNUNGPATI — Wilayah RW 05 Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati memiliki bekal sejumlah program untuk berkompetisi dalam Lomba Kampung Hebat 2024.

Diantaranya program Pisang, Ketawa dan KWT. RW 05 Kelurahan Patemon tercatat sebagai peserta kategori Kampung Pro Lingkungan.

Lurah Patemon M Khosim mengatakan, salah satu keunggulan utama RW 5 Patemon adalah program yang diberi nama Pisang (Pilah Sampah Menjadi Uang).

Advertisement

Program ini diimplementasikan melalui Bank Sampah Mawar, yang memanfaatkan sampah dan barang bekas menjadi produk-produk bernilai.

"Berbagai olahan seperti kerajinan, sabun, lilin, dan kompos dihasilkan dari sampah yang dikumpulkan,” katanya.

Bank Sampah Mawar juga menyediakan layanan tabungan bagi nasabah yang menukarkan sampahnya, yang kemudian dapat dicairkan menjadi uang.

Advertisement

Keberhasilan program ini tak lepas dari kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), USAID, dan Bappenas.

“Bank Sampah Mawar telah memperoleh pengakuan administratif resmi dan banyak menorehkan prestasi di bidang pengelolaan sampah,” tambah Penanggung Jawab Lomba Punariyati.

Selain itu, RW 5 Patemon juga memiliki Ketawa (Komunitas Kambing Ettawa), yang berawal dari hobi peternakan warga setempat.

Komunitas ini mengelola puluhan kambing Ettawa yang memberikan nilai ekonomi tinggi.

Kambing-kambing ini dijual untuk keperluan daging, diambil susunya untuk dijual kembali, serta diikutkan dalam kontes kecantikan kambing Ettawa. Komunitas ini telah meraih sejumlah penghargaan.

Komunitas ketiga yang menambah keunggulan RW 5 Patemon adalah KWT (Komunitas Warga Tani).

Berasal dari gerakan kolektif warga yang bekerja sebagai petani, KWT didirikan untuk mengatasi fluktuasi harga bahan pokok yang sering meresahkan.

Dengan semangat gotong royong, komunitas ini membantu memenuhi kebutuhan pangan warga secara cuma-cuma.

Gerakan ini tidak hanya meringankan beban ekonomi warga tetapi juga mempererat ikatan sosial di antara mereka. (ton)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

TPA Penuh, Sumanto Ajak Masyarakat Olah Sampah dari Rumah

TPA Penuh, Sumanto Ajak Masyarakat Olah Sampah dari Rumah

Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto mengajak masyarakat mulai memilah sampah mulai dari rumah tangga, agar volume sampah di TPA bisa berkurang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer