Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dari Dini Hari hingga Piring Makan: Dapur Gizi Pekalongan Timur Memasak Harapan 3.300 Porsi Sehari

Agus AP • Senin, 15 Desember 2025 | 15:49 WIB

 

SORTIR BUAH : Para relawan SPPG Kalibaros melakukan sortir buah kelengkeng sebelum disajikan untuk 3.300 siswa di Kota Pekalongan.
SORTIR BUAH : Para relawan SPPG Kalibaros melakukan sortir buah kelengkeng sebelum disajikan untuk 3.300 siswa di Kota Pekalongan.

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN-Penunjuk waktu masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Kota Pekalongan Timur masih sunyi. Namun, di kawasan Kali Baros 2, sebuah dapur justru mulai hidup. Pisau beradu dengan talenan, bumbu dihaluskan, sayur dipilah satu per satu. Di sinilah ribuan porsi makanan bergizi disiapkan setiap hari.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Pekalongan Timur kini beroperasi penuh. Sejak mulai berjalan pada 11 Agustus lalu, dapur ini menjadi pusat distribusi makanan bergizi bagi masyarakat rentan dan anak-anak sekolah. Setiap hari, 3.300 porsi diproduksi dan didistribusikan ke berbagai titik penerima manfaat.

“Relawan kami mulai masuk jam satu pagi. Persiapan bumbu dan bahan dilakukan lebih awal, lalu memasak dimulai sekitar jam tiga,” ujar Heri Yulianto, Kepala SPPG Kali Baros 2.

Rutinitas dini hari itu bukan tanpa alasan. Waktu menjadi faktor krusial agar makanan sampai ke tangan penerima dalam kondisi segar dan tepat waktu. Dengan dua armada mobil, distribusi dilakukan bertahap sejak pukul 06.30 WIB.

Kloter pertama diarahkan khusus ke 14 sekolah TK. Anak-anak usia dini menjadi prioritas agar mereka mendapatkan asupan gizi sejak pagi. Setelah itu, pendistribusian berlanjut ke kelompok penerima lainnya hingga menjelang siang.

Setiap hari, dapur ini melayani beragam kelompok sasaran. Mulai dari anak dengan risiko stunting, anak bawah tiga tahun, ibu hamil dan menyusui, balita, hingga pelajar dari PAUD, TK, SD, SMP, sampai SMA.

Di balik ribuan porsi makanan itu, ada perhatian serius pada kualitas gizi. SPPG Kali Baros 2 melibatkan seorang ahli gizi yang menyusun menu berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) sesuai kelompok usia.

“Kebutuhan gizi anak SD kelas 1 sampai 3 tentu berbeda dengan anak kelas atas atau SMA. Itu yang kami perhatikan,” jelas Heri.

Untuk anak TK, menu selalu lengkap. Nasi, lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah wajib ada di setiap porsi. Salah satu menu yang pernah disajikan adalah ayam teriyaki.

Sementara untuk jenjang SD hingga SMA, komposisi gizinya tetap sama, namun penyajian dibuat lebih praktis dalam bentuk menu kering agar mudah dikonsumsi.

Ketatnya pengawasan menjadi bagian tak terpisahkan dari operasional dapur. Tiga petugas khusus bertugas mengontrol seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, hingga makanan siap didistribusikan.

“Sebelum dikirim, makanan dicek ulang oleh ahli gizi untuk memastikan kualitas dan kelayakannya,” kata Heri.

Meski berjalan relatif lancar, dapur gizi ini tak lepas dari tantangan. Pada awal operasional, persoalan sumber daya manusia sempat muncul. Jam kerja yang ekstrem—memasak sejak dini hari—membuat sebagian pekerja tidak bertahan lama.

Namun, seiring waktu, tim mulai solid. Saat ini, terdapat 50 tenaga kerja yang terlibat, termasuk pimpinan. Sebanyak 47 di antaranya relawan, terdiri atas enam koki, satu petugas akuntansi, dan satu ahli gizi. Mayoritas berasal dari lingkungan sekitar.

“Kebanyakan ibu rumah tangga, ada juga mantan buruh pabrik dan penjahit,” ujar Heri.

Tantangan lain datang dari ketersediaan bahan baku, terutama buah. Pekalongan bukan daerah pertanian, sehingga pasokan harus didatangkan dari luar kota, seperti Banjarnegara. Kondisi ini membuat dapur harus cermat dalam perencanaan dan pengadaan.

Selain gizi, aspek kehalalan dan kebersihan menjadi perhatian utama. Seluruh pekerja telah mendapatkan pelatihan penjamah makanan dari Dinas Kesehatan dan mengantongi sertifikat.

“Peralatan makan dicuci, disterilkan dengan air panas, lalu dikeringkan menggunakan api. Jadi kebersihannya terjaga,” tegas Heri.

SPPG juga aktif melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah terkait jaminan halal dan higiene pangan. Koordinasi lintas sektor pun dilakukan secara rutin, melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Kodim, Kepolisian, BPS, hingga instansi ketahanan pangan. Beberapa pihak bahkan mengambil sampel untuk perhitungan data bahan baku dan penyerapan tenaga kerja.

Dari luar, dapur ini mungkin hanya terlihat sebagai bangunan produksi makanan. Namun, dari dini hari hingga siang, SPPG Kali Baros 2 sesungguhnya tengah memasak lebih dari sekadar menu harian. Di sana, harapan tentang gizi yang lebih baik, anak-anak yang lebih sehat, dan masa depan yang lebih kuat diracik dalam setiap porsi. (ida/ap)

Editor : Agus AP
#Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi #angka kecukupan gizi