Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pekalongan Terancam Tenggelam, Kerugian Tembus Rp 31 Triliun

K

 


Advertisement

Program Coordinator and Local Lead for Resilience Policy and Practice ZCRA Arif Gandapurnama menjelaskan krisis iklim di Jateng, Jumat (30/10/2026). (khafifah arini putri/Jawa Pos Radar Semarang).
Program Coordinator and Local Lead for Resilience Policy and Practice ZCRA Arif Gandapurnama menjelaskan krisis iklim di Jateng, Jumat (30/10/2026). (khafifah arini putri/Jawa Pos Radar Semarang).

 

SEMARANG – Pekalongan menghadapi ancaman serius akibat krisis iklim. Kenaikan muka air laut yang berpadu dengan penurunan muka tanah membuat kawasan pesisir kian rentan tenggelam. Jika tak ditangani secara tepat, kerugian ekonomi akibat banjir rob dan penurunan muka tanah diproyeksikan menembus Rp 31,28 triliun per tahun pada 2035.

Advertisement

Proyeksi tersebut berdasarkan kajian Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA). Pada 2020, kerugian akibat bencana pesisir di Pekalongan tercatat mencapai Rp 1,5 triliun per tahun. Dalam 15 tahun, nilainya diperkirakan melonjak lebih dari 20 kali lipat.

Ancaman itu tak hanya menyasar permukiman dan infrastruktur. Sektor pertanian dan perikanan ikut tertekan. Warga yang menggantungkan hidup pada alam berisiko kehilangan mata pencaharian seiring meluasnya genangan dan memburuknya kondisi lingkungan.

Program Coordinator and Local Lead for Resilience Policy and Practice ZCRA Arif Gandapurnama mengatakan, penurunan muka tanah di Pekalongan mencapai 34,5 sentimeter per tahun. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan Semarang yang berkisar 10–15 sentimeter per tahun.

Advertisement

Kajian yang dilakukan pada 2020–2021 bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Diponegoro (Undip) tersebut juga memperhitungkan dampak perubahan iklim global. Kenaikan muka air laut rata-rata diperkirakan mencapai 7,2 milimeter per tahun. Jika disimulasikan hingga 2050, kenaikannya bisa mencapai sekitar 40 sentimeter.

“Jadi, wilayah pesisir Pekalongan terdampak kenaikan muka laut sekaligus penurunan muka tanah. Dalam tiga tahun, bisa ambles satu meter,” ungkap Arif dalam kegiatan Rembug Media, Sengkuyung Noto Pesisir lan DAS Jateng ing Tahan Iklim di Somerset, Jumat (30/10).

Genangan Meluas, Penghidupan Terancam

Dampak krisis pesisir tidak hanya berupa kerusakan bangunan dan aset. Kajian ZCRA turut menghitung kerugian nonmaterial, seperti tambahan biaya kesehatan, pemenuhan air bersih, transportasi, dan pengelolaan sampah.

Kerugian juga muncul akibat penurunan produktivitas lahan pertanian dan perikanan. Kondisi tersebut memperberat kehidupan petani dan petambak yang bergantung pada kualitas lingkungan pesisir.

“Mata pencaharian harian masyarakat juga harus berubah. Mereka yang hidup dari alam, seperti petani dan petambak, menderita paling besar,” jelasnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Gandeng ZCRA dan Tujuh Daerah, Pemprov Jateng Perkuat Ketahanan Iklim Lewat Kolaborasi DAS

Gandeng ZCRA dan Tujuh Daerah, Pemprov Jateng Perkuat Ketahanan Iklim Lewat Kolaborasi DAS

Penanganan dampak perubahan iklim di Jateng membutuhkan kerja sama lintas daerah. Sebab, risiko banjir dan kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi saling berkaitan dari kawasan hulu hingga hilir.

Abrasi dan Banjir Rob Demak Makin Parah, Mangrove dan Giant Sea Wall Jadi Harapan Warga Timbulsloko

Abrasi dan Banjir Rob Demak Makin Parah, Mangrove dan Giant Sea Wall Jadi Harapan Warga Timbulsloko

Abrasi dan banjir rob mengancam Desa Timbulsloko, Demak. Penanaman mangrove dan rencana Giant Sea Wall diharapkan melindungi pesisir Pantura.

Menteri LH Sebut Giant Sea Wall Bukan Solusi Tunggal Atasi Rob dan Penurunan Muka Tanah, Water Farming Segera Diatur

Menteri LH Sebut Giant Sea Wall Bukan Solusi Tunggal Atasi Rob dan Penurunan Muka Tanah, Water Farming Segera Diatur

Menteri LH Sebut Giant Sea Wall Bukan Solusi Tunggal Atasi Rob dan Penurunan Muka Tanah, Water Farming Segera Diatur

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer