
SEMARANG – Pekalongan menghadapi ancaman serius akibat krisis iklim. Kenaikan muka air laut yang berpadu dengan penurunan muka tanah membuat kawasan pesisir kian rentan tenggelam. Jika tak ditangani secara tepat, kerugian ekonomi akibat banjir rob dan penurunan muka tanah diproyeksikan menembus Rp 31,28 triliun per tahun pada 2035.
Proyeksi tersebut berdasarkan kajian Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA). Pada 2020, kerugian akibat bencana pesisir di Pekalongan tercatat mencapai Rp 1,5 triliun per tahun. Dalam 15 tahun, nilainya diperkirakan melonjak lebih dari 20 kali lipat.
Ancaman itu tak hanya menyasar permukiman dan infrastruktur. Sektor pertanian dan perikanan ikut tertekan. Warga yang menggantungkan hidup pada alam berisiko kehilangan mata pencaharian seiring meluasnya genangan dan memburuknya kondisi lingkungan.
Program Coordinator and Local Lead for Resilience Policy and Practice ZCRA Arif Gandapurnama mengatakan, penurunan muka tanah di Pekalongan mencapai 34,5 sentimeter per tahun. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan Semarang yang berkisar 10–15 sentimeter per tahun.
Kajian yang dilakukan pada 2020–2021 bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Diponegoro (Undip) tersebut juga memperhitungkan dampak perubahan iklim global. Kenaikan muka air laut rata-rata diperkirakan mencapai 7,2 milimeter per tahun. Jika disimulasikan hingga 2050, kenaikannya bisa mencapai sekitar 40 sentimeter.
“Jadi, wilayah pesisir Pekalongan terdampak kenaikan muka laut sekaligus penurunan muka tanah. Dalam tiga tahun, bisa ambles satu meter,” ungkap Arif dalam kegiatan Rembug Media, Sengkuyung Noto Pesisir lan DAS Jateng ing Tahan Iklim di Somerset, Jumat (30/10).
Baca Juga: Gandeng ZCRA dan Tujuh Daerah, Pemprov Jateng Perkuat Ketahanan Iklim Lewat Kolaborasi DAS
Genangan Meluas, Penghidupan Terancam
Dampak krisis pesisir tidak hanya berupa kerusakan bangunan dan aset. Kajian ZCRA turut menghitung kerugian nonmaterial, seperti tambahan biaya kesehatan, pemenuhan air bersih, transportasi, dan pengelolaan sampah.
Kerugian juga muncul akibat penurunan produktivitas lahan pertanian dan perikanan. Kondisi tersebut memperberat kehidupan petani dan petambak yang bergantung pada kualitas lingkungan pesisir.
“Mata pencaharian harian masyarakat juga harus berubah. Mereka yang hidup dari alam, seperti petani dan petambak, menderita paling besar,” jelasnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




