RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sulistyawati, mertua sopir taksi online korban pembunuhan di Mugas Dalam Semarang mengaku mendapat firasat sebelum menantunya ditemukan tewas bersimbah darah Senin (24/7/2023).
Sulis membeberkan, menantunya tersebut berkumpul di rumahnya di wilayah Bangetayu, Kecamatan Genuk, Minggu (23/7/2023) malam.
Ketika di rumah mertuanya, korban yang akrab dipanggil Ozy masih terlihat ceria, bercandaan dengan kerabatnya.
"Kan mbah sakit, jadi kumpul semuanya. (Korban) guyonan, ngajak adiknya. Jam 10 malam (22.00) pamitan. Saya bilang tidak ada tarik menarik (penumpang)," ungkapnya saat menyaksikan proses Prarekonstruksi di TKP Mugas Dalam, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (27/7/2023).
"Lha kok ndableg, jam 12 malam keluar, masih shareloc, live sama anak. Jam 02.00 gak ada kabar. 03.30, anakku, mam tolong cek WA (WhatsApp) Ozy terakhir dimana. Terus saya nanya-nanya, minta bantuan ke teman saya untuk dicarikan posisinya. Tapi belum ada kabar," lanjutnya.
Merasa khawatir, pihak keluarga juga melakukan pencarian. Namun juga belum membuahkan hasil.
Hingga akhirnya, keluarga terkejut setelah dapat kabar duka, korban ditemukan meninggal dengan tragis. Tubuhnya tertelungkup, bersimbah darah akibat penuh luka tusuk yang dilakukan pelaku.
"Anakku (istri korban) jam 4 pagi nyari suaminya, posisi terakhir ke Mangkang, terus ke Arteri tapi belum ketemu. Setengah 7 (06.30) dapat kabar. Mam, Ozy meninggal. Kamu (istri korban) kalau ngomong yang bener," katanya menirukan isteri korban.
Mendengar kabar mengejutkan ini, Sulis mengaku masih dalam beraktivitas kerja. Seketika itu, langsung syok.
Kemudian, langsung bergegas menuju kamar Jenazah di RSUP dr Kariadi bersama anggota keluarga. Ternyata benar, menantunya meninggal akibat pembunuhan.
"Anakku (istri korban) kan depresi jadinya. Ndak bisa ngomong. Ndak bisa apa-apa, gak bisa nangis, diem aja, ditanyain diem, gak jawab apa-apa. Kita kan susah, bingung jadinya saya," katanya dengan derai air mata.
Sulis mengaku, menantunya kerja sebagai driver taksi online masih tergolong baru. Terdaftar sekitaran dua bulan terakhir.
Lebih seringnya mencari orderan penumpang pada malam hari. Namun jarang bekerja, hanya seminggu dua sampai tiga kali.
"Sejak tiga hari yang lalu ngalong full. Katanya untuk tambahan persiapan lahiran dedeknya. Istrinya hamil lima bulan, anak pertama," bebernya.
Meski demikian, Sulis mengingatkan dan mencegah supaya menantunya untuk tidak kerja taksi online pada malam hari. Selain itu juga membatasi, supaya korban harus sudah pulang rumah pukul 21.00.
"Dua hari lalu saya sudah bilang jam 9 malam pulang. Mamah gak mau lihat kamu ngalong (kerja malam). Karena perasaan saya itu sudah gak enak," bebernya.
Sebelum daftar taksi online, setiap harinya kerja di perusahaan paket miliknya di daerah Tlogosari. Korban menjalin rumah tangga sejak dua tahun lalu.
Sebelum menikah, berpacaran dengan putrinya, ketika keduanya masih menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Kota Semarang.
"Pacaran sama anakku itu sejak kuliah. Ozzy dari dia kuliah, selalu curhat sama saya. Dua tahun, rumah tangga," jelasnya.
Lanjutnya, selama dua hari ini selalu datang ke rumah mertuanya bersama istrinya. Sulis juga mengaku, istri korban sempat bercerita bermimpi buruk terhadap suaminya.
"Muka suaminya luka-luka, tiga hari lalu. Terus minggu pagi, minta beras dong Mah, yang putih ya Mah. Iya nanti malam saya belikan, diambil sekalian jenguk abah. Sudah dibawa pulang itu beras. itu permintaan gak wajar, orang dia gak pernah minta beras sama mamanya sama sekali," katanya.
"Terus minta maskeran sama potong kuku biar bersih. Sebelum ngalong berangkat malam itu, Yang minta potong kuku dong yang, sama maskeran biar bersih, minta facial," imbuhnya.
Sulis melihat proses pra rekonstruksi didampingi suaminya, Heru Susanto. Pria ini juga menyampaikan, sering mengingatkan menantunya supaya tidak sering-sering kerja taksi online tengah malam.
"Ngalong itu gapapa. Tapi jangan sering-sering. Kasian istrimu, butuh perhatianmu, lagi hamil. Yang dikhawatirkan itu keselamatan kamu," katanya. (mha/bas)
Editor : Baskoro Septiadi