Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Idul Adha Bertepatan dengan Jumat Mubarak, Hari Pembebasan dari Belenggu Nafsu Setan

N
Penulis: Nayla Karima❯
Hari Raya Kurban bukan untuk merayakan darah. Tetapi juga pembebasan dari belenggu nafsu setan.
Hari Raya Kurban bukan untuk merayakan darah. Tetapi juga pembebasan dari belenggu nafsu setan.

RADARSEMARANG.ID - Hari Raya Kurban bukan untuk merayakan darah. Tetapi Hari ini adalah hari pembebasan dari belenggu nafsu setan. 


Advertisement

Kata "Adha" yang bermakna cahaya dan pencerahan. Ini tentang cahaya, dan cahaya adalah inti dari kehidupan. 

Selamat hari raya bagi mereka yang telah menemukan cahaya.

Advertisement

Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. [QS al-Hajj (22):37]

"Cintalah yang mengurbankan aku, dan itulah hariku, hari raya," kata Maulana Jalaluddin Rumi dalam Ghazalnya.

Bagi Rumi, tidak ada hari raya selain Idul Adha, bahwa sedang terjadi suatu peristiwa agung di dalam diri. 

Kata Rumi, hari raya sejati adalah ketika cinta mengurbankan dirimu, bukan tubuhmu, tapi ego dan nafsumu.

Ghazal Rumi menjelaskan bahwa untuk memilih sifat sebagaimana seperti layaknya malaikat, dengan menjadikan pemimpin atas setan dalam diri.

"Ketika sapimu dikurbankan, pijakkan kakimu di atas langit," tutur Maulana Jalaluddin Rumi.

Yang dimaksud disini, sapi yang harus dikurbankan adalah sifat kebinatangan dalam diri kita: keserakahan, amarah, tipu daya. 

Ketika semua itu telah dikurbankan, kita menguasai iblis dalam diri, dan derajat kita naik, melampaui langit dan bumi.

"Sungguh tak indah takbir “Allahu Akbar” jika kau masih bersama egomu. Ketika ego dikurbankan, barulah "Allahu Akbar" datang," tutur Maulana Jalaluddin Rumi 

Takbir sejati tidak datang dari lisan, tapi dari kebeningan jiwa. 

Selama jiwa kita masih dipenuhi ego, kesombongan, dan hasrat rendah, “Allahu Akbar” hanya gema kosong. Begitu ego dikurbankan, takbir sejati hadir dari lubuk jiwa.

"Haji yang bijak tawaf tujuh kali. Aku ini haji yang gila, aku tak menghitung tawafku!," tegas Jalaluddin Rumi dalam Ghazal.

Tawaf secara lahir dilakukan tujuh kali sebagai simbol keteraturan dan harmoni. Tapi pecinta Tuhan tidak terikat hitungan. 

Dengan mengelilingi Ka'bah cinta tanpa batas dan tanpa henti, karena cinta tak bisa ditakar dan diukur. Itulah sejati nya hari Raya besar, lebaran haji (Eid Qurban Mubarak) bukan sekadar tentang daging, tapi tentang keikhlasan.

Semoga kita bisa belajar dari pengorbanan Nabi Ibrahim, dan menjadikannya cermin dalam hidup sehari-hari. Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Qurban: Momentum Dukung Ketahanan Pangan

Qurban: Momentum Dukung Ketahanan Pangan

Qurnban menjadi momentum dalam menjaga katahanan pangan. Kegiatan qurban yang dilaksanakan setiap tahun pada 10-13 Dzulhijjah menciptakan distribusi pangan terbesar berbasis gotong royong.

Jamaah Masjid Baitul Manshurin Semarang Gotong Royong Sukseskan Penyembelihan Hewan Kurban

Jamaah Masjid Baitul Manshurin Semarang Gotong Royong Sukseskan Penyembelihan Hewan Kurban

Dari hasil koordinasi tersebut, terkumpul tiga ekor sapi dan empat ekor kambing untuk disembelih. Tiga ekor sapi berasal dari dua kelompok peserta kurban,

Salat Id di Huntara Tegal, Ahmad Luthfi Serahkan Sapi ke Warga Terdampak Tanah Gerak

Salat Id di Huntara Tegal, Ahmad Luthfi Serahkan Sapi ke Warga Terdampak Tanah Gerak

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, melaksanakan salat Id bersama warga terdampak bencana tanah gerak Desa Padasari, sekaligus menyerahkan seekor sapi kurban seberat 906 kg atas nama pribadi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer